Momen Natal yang Membuatku Mengenang Perjumpaan Pertamaku dengan Kristus

Info

Oleh Putra, Jakarta

Memasuki bulan Desember, memoriku mengingat kembali kenangan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD dan salah satu hal yang paling kusukai tentang Natal adalah hari liburnya. Di pagi hari aku bisa duduk di depan televisi dan menonton film Home Alone. Film itu membuatku jadi ingin ikut merayakan Natal. Tapi, aku bukanlah orang Kristen, demikian juga kedua orang tuaku.

Keluargaku tidak mengenal siapa itu Tuhan Yesus. Kami sangat memegang tradisi leluhur. Keluargaku percaya bahwa berbakti kepada leluhur—dengan cara sembahyang kepada arwah mereka—adalah cara untuk mendapatkan berkat semasa hidup dan juga keselamatan kelak setelah kehidupan ini berakhir.

Perkenalan pertamaku dengan sosok Juruselamat

Aku bersekolah di sekolah negeri. Saat duduk di kelas 6, untuk pelajaran agama, aku mengikuti kelas agama Kristen sebab di sekolahku tidak ada guru yang mengajar kepercayaanku. Guruku menerangkan tentang apa itu iman Kristen. Dia mengatakan bahwa sembahyang kepada leluhur itu tidak dapat menyelamatkan kita dari kematian kekal. Aku tidak setuju dengannya. Tapi, kembali dia menegaskan pernyataannya: leluhur tidak bisa menyelamatkan, hanya Tuhan Yesus yang bisa.

Empat tahun setelahnya, saat aku duduk di bangku SMK, aku ikut kelompok persekutuan Kristen. Meski bukan orang Kristen, aku tidak merasa asing dengan Kekristenan. Sejak SD aku sudah mengikuti pelajaran agama ini dan aku juga berteman dengan teman-teman yang Kristen. Pertemuan awal di kelompok itu adalah acara ulang tahun temanku dan kami mengisinya dengan makan-makan.

Suatu ketika, saat sedang berada di rumah, aku mendengar satu lagu rohani Kristen. Aku merasa hatiku tergerak dan aku menangis sendirian. Tanpa kusadari, aku pun mengucap, “Tuhan, tolong selamatkan aku.” Aku sendiri masih tidak paham betul mengapa hari itu aku menangis tiba-tiba. Sebelumnya aku memang sudah ikut komunitas rohani, tapi itu cuma buat nilai. Namun, setelah hari itu, aku tertarik untuk lebih tahu siapa itu Tuhan Yesus dan bagaimana cara hidup orang Kristen. Teman-temanku menyambut baik ketertarikanku ini, hingga lambat laun aku menjadi yakin bahwa apa yang dikatakan guru SDku dulu adalah benar.

Di kelas I SMK, aku memutuskan untuk menjadi orang Kristen dan ingin terlibat aktif dalam pelayanan. Aku pergi ke gereja temanku dan dilayani oleh hamba Tuhan di sana. Aku memberitahukan hal ini kepada orang tuaku. Mereka tidak menyetujui keiginanku. Namun, aku tidak dapat membendung kerinduanku untuk mengikut Tuhan Yesus. Aku tetap pergi ke gereja. Ketika hal ini ketahuan oleh ayahku, dia datang menghampiriku di gereja dan memaksaku pulang. Sampai di rumah, dia memukulku. Puncaknya, ketika aku bersikukuh untuk pergi ke gereja, ayah dan ibu hendak mengusirku dari rumah.

“Kamu ngapain sih ke gereja? Memangnya kamu dapat apa di gereja?” kata ibuku dengan nada tinggi.

Aku membalasnya, “Saudara kita yang lain aja boleh ke gereja, kenapa aku nggak?”

“Leluhur kita semuanya sembahyang!”

Dia pun lalu mengeluarkan semua kekesalannya kepadaku. Jika aku bersikukuh tetap pergi ke gereja dan kelak mengganti imanku, dia akan menyesal menjadikanku sebagai anaknya. Kekhawatiran terbesar ayah dan ibuku adalah jika aku menjadi orang Kristen dan meninggalkan tradisi yang selama ini selalu mereka junjung.

Peristiwa itu mengguncangku. Namun, entah mengapa aku tidak menyimpan perasaan benci kepada orang tuaku. Malah, aku merasa sedih karena mereka belum mengenal Tuhan Yesus. Waktu itu, aku mendengar siaran radio Kristen yang mengajak pendengarnya untuk berdoa. Aku ikut berdoa, aku mendoakan supaya kedua orang tuaku mau membuka hati mereka buat Tuhan Yesus. Sejak saat itu, aku selalu berdoa untuk mereka. Namun, masalah terus saja datang, sampai akhirnya aku hampir merasa putus asa dan tidak lagi berdoa. “Terserah Tuhan saja!”

Meski demikian, aku masih rutin datang ke gereja setiap minggunya. Dalam hatiku, masih tersimpan setitik kerinduan agar kedua orang tuaku juga mengenal Tuhan, aku tidak ingin hanya menikmati keselamatan yang sudah Tuhan berikan sendirian. Hanya, aku merasa itu semua rasanya seperti mustahil.

Satu orang diselamatkan, seisi rumah diselamatkan

Hingga akhirnya, di tahun 2010, ayahku didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening. Ketika berita itu datang, aku tersentak. Aku teringat lagi doa yang dulu pernah rutin kunaikkan. Hatiku lalu berbisik, “Mana kerinduanmu buat ngenalin Tuhan ke orang tua?” Aku berusaha untuk mendoakan mereka lagi. Tapi, semakin hari kondisi ayahku semakin drop. Segala pengobatan alternatif telah dijalani, namun tak membuahkan hasil sampai suatu ketika, pamanku yang adalah orang Kristen datang ke rumah. Dia mengajak ayahku datang ke gereja untuk memohon mukjizat dari Tuhan. Ayahku mengelak, tapi ibuku yang hampir putus asa merawat ayah mengiyakan ajakan itu. “Apapun, yang penting sembuh.” katanya.

Keesokan harinya setelah ke gereja, ibuku bertanya pada Ayah, “Bisa tidur gak?”

“Iya,” ayahku mengangguk.

“Nanti mau ke gereja lagi?”

“Mau.”

Sejak saat itu, ayah dan ibuku datang ke gereja setiap minggu. Ada satu momen yang bagiku dulu terasa sangat mustahil. Saat tengah berada di rumah, ayahku memutar lagu rohani. Dia mengangkat tangannya, menyembah Tuhan, lalu memintaku untuk mengajarinya berdoa. Aku mengajarkan doa-doa sederhana kepadanya, seperti: “Tuhan, berkati makanan ini, minuman ini, obat-obatan ini, supaya bisa menjadi kesembuhan.”

Proses itu berlangsung beberapa waktu, sampai akhirnya Ayah memutuskan untuk percaya sungguh-sungguh pada Tuhan Yesus. Ayah menanggalkan segala kepercayaan lama yang dianutnya dan kemudian dibaptis. Kondisi fisik Ayah tidak banyak berubah, dia tetap berjuang melawan kankernya. Kurang dari setahun setelah ayah menyerahkan dirinya pada Kristus, Ayah meninggal dunia.

Satu kesedihanku ketika Ayah berpulang adalah kami tidak sempat merayakan Natal bersama-sama, sekali saja. Namun, aku tidak kecewa kepada Tuhan, karena aku percaya ayahku sudah mendapatkan yang terbaik dan sudah bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Ayahku sudah sembuh secara total dari penyakit kankernya. Aku bersyukur, peristiwa sakitnya Ayah menjadi momen yang membawa seisi keluargaku mengenal Tuhan Yesus. Sekarang, ibuku tidak lagi menutup diri dari Kekristenan. Aku masih mendoakannya untuk menjadi orang percaya yang mengimani imannya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh.

Momen Natal tahun ini mengingatkanku kembali bahwa kedatangan Kristus ke dunia memberikan kita sebuah jaminan yang pasti, yaitu jaminan akan keselamatan. Dan, aku pun mengimani apa yang Alkitab katakan dalam Kisah Para Rasul 16:31: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Adakah nama seseorang yang kamu rindukan agar dia dapat mengenal Tuhan Yesus? Marilah kita berdoa bagi mereka. Kiranya di Natal tahun ini, Kristus dapat hadir di dalam hati mereka.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Baca Juga:

Natal Bukanlah Sekadar Perayaan

Seorang temanku mengatakan bahwa mengadakan Christmas Dinner menjelang tanggal 25 Desember itu membuat suasana Natal lebih seru dan lebih bersama. Tapi, apakah benar demikian? Apakah Natal dimaknai hanya dengan perayaan, kumpul, dan makan bersama?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Kristus: Perjalanan untuk Menemukan Tujuan Hidup, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!