Mengapa Kita Memerlukan Juruselamat?

Info

Oleh Max Jeganathan
Artikel ini diadaptasi dari artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Do We Even Need A Savior?

Film The Martian—yang dibintangi oleh Matt Damon—menceritakan kisah fiksi tentang seorang astronot yang bernama Mike Watney. Watney bersama timnya bertugas melakukan misi perjalanan ke Planet Mars. Dalam perjalanannya, mereka harus pulang ke bumi lebih awal karena terjadi badai besar. Tapi, kemalangan menimpa Watney. Ia terhempas ke tengah badai dan terdampar di Mars. Timnya yang lain tak dapat menemukan Watney dan mengira ia pasti sudah tewas. Namun, Watney selamat dan dengan persediaan yang terbatas ia harus bertahan hidup sampai ada tim penyelamat yang datang menyelamatkannya.

Singkat cerita, Watney akhirnya bisa mengabari rekan-rekannya di bumi bahwa ia masih selamat. Tim penyelamat pun lalu terbang kembali ke Mars untuk menjemputnya. Setelah kembali ke bumi, adegan terakhir dari film ini menunjukkan Watney berbicara kepada sekelompok astronot. Dia bertutur tentang pengalaman mengerikannya bertahan hidup di Planet Mars, dan di akhir kisahnya dia menekankan bahwa dedikasi itu penting. “Kalau kamu sudah memecahkan cukup banyak masalah, kamu bisa pulang ke rumah!” Watney merasa dia bisa pulang kembali ke bumi karena dia sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang astronot dengan sebaik mungkin.

Pernyataan Watney adalah sebuah cerminan dari suatu keyakinan yang menggerakkan kehidupan masyarakat modern masa kini. Kita berjuang untuk rajin belajar, bekerja keras, mengikuti kata hati kita sendiri, dan hidup menjadi diri kita sendiri. Dorongan untuk bergantung pada diri sendiri adalah sesuatu yang sudah dipelajari oleh manusia selama ribuan tahun. Para sosiolog menyebutnya sebagai proses kemandirian, para psikolog menyebutnya sebagai proses aktualisasi diri, dan Carl Jung, seorang pemikir, menyebutnya sebagai proses menjadi lebih individualis. Gagasan-gagasan ini adalah hal yang sama dengan gagasan lain seperti gagasan tentang kitalah yang bisa menolong diri kita sendiri, kitalah yang bisa membina kehidupan kita sendiri, dan filosofi zaman baru yang kita lihat saat ini. Kita dipanggil untuk melihat ke dalam diri kita dan membangun kehidupan kita berdasarkan standar moral, fisik, emosi, dan kendali kita sendiri.

Panggilan untuk bergantung dan mengandalkan diri kita sendiri telah menjadi suatu dorongan yang besar terhadap kemajuan budaya kita sekarang. Secara teknologi, akademis, intelektual, dan juga finansial kita tentu lebih maju dibandingkan dengan kehidupan yang terjadi beberapa abad silam.

Kita tidak pernah cukup baik

Namun, di balik segala kemajuan zaman tersebut, kita melihat ada hal-hal lain yang malah berjalan sebaliknya. Kita melihat ada kasus bunuh diri, perceraian, kekhawatiran, dan masalah-masalah sosial lainnya yang banyak terjadi di seluruh dunia. Kita menyebut masa kini sebagai era “hak asasi manusia”, namun perbudakan belum sepenuhnya hilang. Teknologi komunikasi yang semakin canggih membuat kita lebih mudah terhubung, tapi tetap saja, banyak orang merasa kesepian. Kita mengatakan bahwa moralitas kita di zaman ini lebih baik daripada sebelumnya, tapi tetap saja banyak kasus pembunuhan yang terjadi.

Di dalam suratnya kepada jemaat di Roma yang ditulis beberapa dekade setelah kebangkitan Yesus, Paulus menuliskan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Berabad-abad sebelum Paulus menuliskan suratnya dengan tinta di atas kertas perkamen, perkataan Pemazmur senada dengan apa yang Paulus tuliskan. Pemazmur menyatakan bahwa dirinya sebagai manusia senantiasa bergumul dengan dosa-dosanya. Pemazmur tidak mampu membersihkan dirinya sendiri dari dosa, ia butuh belas kasihan Allah untuk menyelamatkannya dari dosa (Mazmur 51).

Apa yang pemazmur ungkapkan dalam Mazmur 51 adalah gambaran dari kehidupan kita juga. Sejak di dalam kandungan, kita telah mewarisi dosa. Tidak ada seorang pun yang terlahir ke dunia ini tanpa dosa. Dan, upah dosa ialah maut (Roma 6:23).

Kita merindukan pertolongan

Ada pandangan yang mengatakan bahwa kita hanya perlu melihat ke dalam hati kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Secara dangkal, pandangan ini terkesan menyakinkan. Tapi, sejatinya saat kita hanya melihat diri kita sendiri semakin dalam, kita bukannya menemukan jawaban, malahan kita akan menemukan lebih banyak lagi pertanyaan.

Kita mungkin sudah berusaha meyakinkan diri kita bahwa kita dapat memecahkan segala masalah seorang diri. Tapi, naluri mendasar kita adalah: ketika kita menghadapi masalah, kita akan mencari bantuan dari luar, dari seseorang yang kita anggap lebih mampu daripada kita. Mungkin inilah salah satu konsep yang mendasari mengapa kisah-kisah superhero muncul.

Ketika kita melihat kisah-kisah superhero, kisah-kisah yang diangkat adalah kisah tentang bagaimana mereka, dengan kekuatan supernya menyelamatkan manusia. Ada Iron man yang menyelamatkan bumi dari senjata pemusnah massal; Superman yang menunjukkan belas kasihnya meskipun dia harus mempertaruhkan nyawanya di hadapan musuh, sampai-sampai musuhnya berkata, “Dia benar-benar peduli kepada orang-orang di bumi!”; Wonder Woman yang berjuang tanpa rasa takut untuk melindungi manusia. Superhero-superhero itu menunjukkan kepada kita tindakan-tindakan pengorbanan, keadilan, dan belas kasih yang menyatu dalam suatu tindakan untuk menyelamatkan manusia.

Namun, bagaimana jika hal-hal yang kita kagumi pada superhero-superhero itu—kekuatan, pengorbanan, belas kasih, dan keadilan—menjadi satu di dalam Sosok Juruselamat yang menyelamatkan aku dan kamu? Bagaimana jika kisah penyelamatan itu terjadi juga di dunia nyata?

Di dalam konteks inilah iman Kristen muncul dengan tiga pilar utama, yang tidak tertandingi oleh pikiran manusia:

Kekristenan memiliki pemahaman yang unik dan jujur tentang realita penderitaan di dunia kita (1 Petrus 1:6). Ajaran Kristen tidak menyangkal penderitaan sebagai ilusi, yang tidak artinya, hasil dari karma, atau sesuatu yang dapat dihindari. Kekristenan mengakui bahwa penderitaan adalah realita kehidupan yang tidak dapat dihindari.

Manusia merindukan keadilan dan pengampunan (Mazmur 51) dan;

Sebuah misi penyelamatan yang kedengarannya paling tidak mungkin: Tuhan masuk sendiri ke dalam dunia sebagai Pribadi Yesus Kristus (Kolose 1). Allah, melalui Yesus Kristus menjadi manusia dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut.

Yesus tidak hanya memenuhi kebutuhan kita yang paling dalam, kebutuhan untuk diselamatkan. Dia juga memuaskan hasrat kita yang terdalam, yaitu di dalam Dia kita beroleh hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Melalui anugerah-Nya, Yesus menyingkirkan kesalahan dan rasa malu kita. Dia menutupi ketidaksempurnaan kita dengan kesempurnaan-Nya, dan menjadikan kita anggota keluarga Allah, di mana kita diyakinkan akan identitas kekal kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah misi penyelamatan terbesar yang pernah dilakukan.

Kembali ke film The Martian yang dibahas di awal tulisan ini, kita melihat ada hal penting yang ditunjukkan dari film ini. Astronot Mike Watney memang pantas menerima pujian karena dia telah berhasil bertahan hidup selama berminggu-minggu di Planet Mars. Tapi, sesungguhnya dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Semua kecerdikannya tidak dapat menolongnya keluar dari Planet Mars. Dia membutuhkan penyelamatan. Perjalanannya kembali ke bumi hanya terwujud berkat misi penyelamatan yang sengaja dikirim untuk menolongnya.

Mungkin apa yang kita lihat di dalam film itu adalah apa yang kita lihat juga di dalam hati kita: bahwa kebutuhan terbesar kita adalah diselamatkan oleh seorang Juruselamat. Kita beruntung, di dalam Pribadi Kristus, kita diselamatkan. Kristus telah melakukan apa yang tidak dapat diri kita sendiri lakukan. Pertanyaan untukku dan untukmu adalah: Apakah kita menolak-Nya atau menerima-Nya?

Tentang penulis:

Max Jeganathan adalah Direktur Regional dari Ravi Zacharias International Ministries (RZIM) wilayah Asia-Pasifik. Dia lahir di Sri Lanka, namun keluarganya pindah ke Australia sebagai pengungsi ketika dia masih kecil. Max pernah bekerja sebagai pengacara dan penasihat politik. Sebagai seorang pembicara dan apologis dari RZIM, Max menyampaikan materi-materi seputar iman, politik, kebijakan publik, ekonomi, dan moralitas. Sekarang dia tinggal di Singapura bersama istrinya, Fiona, dan anaknya, Zachary.

Baca Juga:

Ayo Renungkan Kembali Alasan Mengapa Kita Merayakan Natal

Aku bersyukur atas pengorbanan Kristus setiap harinya dalam hidupku, tapi apakah aku harus benar-benar meluangkan waktu di suatu hari yang simbolis untuk mensyukurinya lagi?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Kristus: Perjalanan untuk Menemukan Tujuan Hidup, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!