Bagaimana Kita Dapat Memuliakan Yesus di Natal Kali Ini?

Info

Oleh Tyler Edwards, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can We Honor Jesus This Christmas?

Pernahkah kamu perhatikan kalau Natal terkadang menjadi suatu momen yang mengundang perdebatan?

Di negaraku, aku melihat ada orang-orang yang berteriak marah kepada seorang pekerja di supermarket karena mereka mengucapkan “selamat liburan” alih-alih “selamat Natal”. Kepada orang-orang seperti itu, aku mengapresiasi kasih mereka kepada Yesus dan kerinduan mereka agar orang lain tahu apa makna yang sesungguhnya dari Natal. Tapi, mungkin makna Natal yang sesungguhnya itu tidak akan didengar oleh orang lain apabila kita hanya sekadar menyampaikannya lewat kata-kata tanpa menunjukkannya dalam tindakan kita.

Ingatkah kamu akan peristiwa beberapa tahun lalu ketika seorang pendeta marah kepada Starbucks karena mengubah desain cup kopi dari yang awalnya bergambar butiran salju menjadi warna merah polos? Apa kaitannya antara butiran salju dan manusia salju dengan kelahiran Kristus? Tidak ada kaitannya. Respons marah dari pendeta tersebut tidaklah memuliakan Yesus; dia hanya menunjukkan kekesalannya atas perubahan yang dia tidak sukai.

Jika kita menilik kembali Natal pertama, Natal sesungguhnya adalah peristiwa yang kontroversial: Seorang ibu muda mengandung bayi di luar ikatan pernikahan, di dalam suatu masa dan budaya yang menganggap hal itu amatlah tabu. Para gembala, yang adalah orang berstatus rendah, kotor, dan tidak dianggap baik dalam budaya Yahudi. Orang Majus yang kemungkinan adalah penganut paganisme. Dan, Yesus pun dilahirkan di kandang, kotor dan dikelilingi oleh hewan-hewan.

Tidak ada bagian dari kisah Natal tersebut yang bagus seperti yang tergambar dalam benak kita. Natal adalah peristiwa yang memalukan. Peristiwa yang mengagetkan. Peristiwa yang hina. Namun, di balik semua itu, Natal adalah sebuah pernyataan dari Injil—Yesus tidak datang hanya untuk sekelompok orang. Yesus datang untuk semua orang. Untuk orang berdosa. Untuk orang-orang kotor. Bahkan, untuk orang-orang yang dianggap sesat. Ya, Yesus juga datang untuk orang-orang seperti itu.

Untuk siapakah Natal?

Aku bertemu dengan pria yang sekarang menjadi pendeta di sebuah gereja yang besar. Dia bercerita kalau ada suatu tahun ketika Natal, tanggal 25 Desember, jatuh di hari Minggu. Dia dan para penatua gerejanya memutuskan daripada mengadakan kebaktian di gereja, mereka ingin jemaat melayani di luar, untuk memuliakan Yesus dengan mengikuti teladan pelayanan-Nya.

Mereka lalu mengusulkan beberapa ide sederhana: memberi hadiah kepada keluarga yang membutuhkan, menjadi relawan di sebuah kedai makan yang menyediakan makanan bagi orang-orang terlantar, bersilaturahmi dengan anggota keluarga yang terlibat konflik, dan membawa kehangatan Natal kepada seseorang yang meluangkan waktu-waktu liburan ini seorang diri. Ada banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan makna Natal yang sejati kepada dunia.

Tapi, beberapa orang tidak suka dengan ide ini. Sang pendeta menerima beberapa ancaman dari orang-orang Kristen yang menganggap ide untuk tidak mengadakan kebaktian di hari Natal sebagai sebuah pelanggaran terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, gereja itu tetap menjalankan ide mereka meskipun ditentang. Mungkin itu adalah salah satu tindakan revolusioner yang melawan budaya gereja mereka. Atau, mungkin juga peristiwa itu jadi kesempatan bagi mereka untuk memeriksa kembali hati mereka dan mengingat apa yang sesungguhnya menjadi makna dari Natal.

Di titik tertentu, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita menunjukkan kasih kita kepada Kristus dengan cara-cara yang memuliakan-Nya? Apakah kita menghargai tradisi Natal lebih daripada kita menghargai makna Natal yang sejati?

Ketika kita memboikot sebuah perusahaan atau produk karena mereka melawan tradisi kita, apakah kita menunjukkan kasih dan anugerah Allah kepada dunia? Apakah semangat dan kasih kita kepada Yesus yang kita tunjukkan bertentangan dengan pesan Injil yang kita percayai?

Natal bukanlah tentang tradisi. Bukan tentang memberi kado, atau salju dan pohon penuh hiasan. Natal adalah tentang Yesus. Jika kita tidak menghormati Yesus dengan cara menunjukkan dan membagikan kasih-Nya kepada orang lain karena kita terlalu berfokus pada tradisi kita, kita telah kehilangan inti dari Natal.

Kebanyakan tradisi dan praktik yang kita lakukan di saat Natal adalah hal-hal yang punya sedikit, atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan Yesus. Mungkin tradisi dan praktik itu menyenangkan, tapi itu tidaklah kudus. Tradisi dan praktik itu bisa saja menjadikan kita kurang berfokus pada-Nya. Ketika kita melupakan apa paling penting dari Natal, kita merayakan Natal dengan cara yang salah.

Jadi, bagaimana kita dapat memuliakan Yesus dan menghidupi makna Natal yang sejati tahun ini? Aku ingin menyarankanmu untuk melakukan hal ini dengan mengejar kembali apa yang menjadi misi kedatangan Yesus ke dunia.

Di Natal kali ini kita bisa memilih untuk mengakhiri konflik yang terjadi antara kita dengan keluarga, atau meluangkan waktu dengan orang-orang yang merasa sendiri di dalam komunitas kita. Kita juga bisa berbagi kasih dengan memberikan sesuatu kepada mereka yang miskin dan membutuhkan. Mungkin, kita bisa juga mengundang teman kita untuk pergi ke gereja bersama-sama, atau yang lebih baik, kita bisa meluangkan waktu dan pikiran kita untuk menemani mereka dan membagikan kabar Injil. Cara apakah yang lebih baik untuk memuliakan Tuhan yang telah memberikan kita hidup selain daripada memberikan hidup kita juga untuk orang lain?

Terlepas dari bagaimana cara kita untuk menjalankan misi Yesus pada Natal kali ini, yang paling penting adalah: kita harus ingat untuk Siapa kita melakukannya.

Mengapa aku punya harapan pada Natal kali ini

Ketika aku melihat banyak “orang Kristen” berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan Injil, aku mendapati diriku tidak menjadi marah. Aku malah jadi berharap. Aku ingat kisah Petrus, seorang yang sangat bersemangat, bahkan berani mati untuk Yesus. Namun, dalam semangatnya untuk mengasihi Yesus, dia tidak mengasihi dengan cara yang berkenan kepada Yesus. Ingatkah kita pada suatu malam ketika Yesus ditangkap? Petrus menarik pedangnya dan memotong telinga seorang prajurit. Tindakan ini mungkin terkesan berani dan heroik. Tapi, respons Yesus menunjukkan pada kita bahwa Yesus tidak berkenan atas apa yang Petrus lakukan (Lukas 22:50-51). Namun, seiring perjalanan Petrus mengikut Yesus, dia pun berubah. Pada akhirnya Alkitab mencatat bahwa Petrus menjadi salah seorang rasul yang tidak gentar mewartakan berita keselamatan.

Aku berharap, seperti Petrus, kita pun akan bertumbuh. Aku berharap, seperti Petrus, kasih kita kepada Tuhan akan menghapus cara pandang kita yang keliru. Aku berharap, seperti Petrus, sukacita dan keyakinan kita kepada Yesus yang bangkit dari maut mendorong kita untuk melayani dan mengikut-Nya dengan setia. Pun aku berharap ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, kita memberikan kesan dari Kerajaan Allah.

Jadi, di Natal kali ini, aku ingin mengundang setiap kita untuk menemukan seseorang yang belum mengenal Kristus. Jika kita dapat menjangkau seseorang di suatu waktu di mana mereka lebih terbuka menerima berita Injil, jika kita bisa menunjukkan pada seseorang siapa itu Yesus di masa Natal ini, maka kita dapat melihat arti Natal yang sesungguhnya. Hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada Tuhan bukanlah benda-benda mahal yang dapat diperoleh dalam dunia yang fana ini; hadiah terbesar yang bisa kita berikan adalah membawa seseorang untuk mengenal Kerajaan Allah.

Tentang penulis:

Tyler Edwards adalah seorang pendeta, penulis, dan juga suami. Dia telah melayani dalam pelayanan sepenuh waktu sejak tahun 2006. Saat ini dia bekerja sebagai pendeta bidang pemuridan di Carolina Forest Community Church. Dia bersemangat untuk mengenalkan Injil kepada orang-orang dan menolong mereka bertumbuh di dalam-Nya. Dia juga merupakan penulis dari buku Zombie and Church: Breathing LIfe Back Into the Body of Christ.

Baca Juga:

Bapa dan Lappy

Di titik tertentu, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita menunjukkan kasih kita kepada Kristus dengan cara-cara yang memuliakan-Nya? Apakah kita menghargai tradisi Natal lebih daripada kita menghargai makna Natal yang sejati?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Kristus: Perjalanan untuk Menemukan Tujuan Hidup, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!