Yang Aku Lakukan dan Doakan di Hari Ulang Tahunku yang Ke-22

Info

Oleh Jefferson, Singapura

Aku biasanya mengikuti kebaktian pagi karena pada sore harinya aku melayani sebagai guru di sekolah Minggu gerejaku. Namun, menjelang hari ulang tahunku yang ke-22 baru-baru ini, yang kebetulan jatuh pada hari Minggu, aku memutuskan untuk mengambil rehat dari kebiasaanku itu. Pada malam sebelumnya, aku meminta izin kepada pengurus sekolah Minggu untuk tidak melayani besoknya supaya aku bisa beribadah di kebaktian sore.

Ada beberapa alasan di balik keputusan ini, tetapi yang terutama adalah supaya aku dapat melakukan sebuah kebiasaan lain yang telah kuabaikan selama beberapa waktu: menulis jurnal. Kebiasaan ini kumulai sejak sekitar 8 tahun yang lalu. Pada awalnya, aku hanya mencatat pengalaman-pengalaman yang kurasa penting, bermakna, atau mengesankan. Frekuensinya sendiri bervariasi; kadang aku bisa menulis jurnal setiap malam, beberapa hari sekali, atau bahkan beberapa minggu sekali. Seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat manfaat dari menulis jurnal, apalagi dalam masa-masa awal aku menjadi orang Kristen. Pertama-tama, secara praktis, menulis jurnal melatih kemampuanku menulis lewat menceritakan ulang suatu peristiwa yang terjadi dan merenungkan pemikiran atau responsku terhadap suatu topik. Yang kedua, jurnal mencatat berbagai kejadian penting (milestones) di mana aku melihat pertumbuhanku sendiri sebagai murid Kristus. Yang terakhir dan terpenting, lewat entri-entri jurnalku, aku dapat melihat dengan jelas penyertaan Tuhan yang selalu hadir dalam setiap pasang surut kehidupanku.

Kalau menulis jurnal sebegitu bermanfaatnya buatku, mengapa aku mengabaikannya selama ini? Pada tahun 2016, aku mengerjakan sebuah proyek pribadi yang cukup ambisius, di mana aku menulis satu kalimat yang merangkum apa yang terjadi pada satu hari setiap harinya selama setahun penuh. Ke-366 kalimat ini kemudian kusatukan menjadi sebuah puisi yang menceritakan hidupku dari usia 19 menuju 20 tahun. Aku memang menduga akan merasa kelelahan setelah menyelesaikan proyek itu, tapi aku tidak menyangka akan menjadi semalas dan seenggan ini untuk menulis jurnal dengan rutin. Di tengah-tengah kesibukan kuliah dan pelayanan yang ada, aku hanya menyempatkan diri untuk menulis jurnal beberapa minggu sekali, yang kemudian menjadi beberapa bulan sekali.

Ketidakkonsistenanku menulis jurnal berlangsung sejak akhir tahun 2016 hingga bulan Oktober yang lalu. Padahal, di masa itu aku merasa perlu menumpahkan isi hatiku yang meluap-luap lewat tulisan tanganku sendiri. Setelah setahun lebih melamar kerja dan kira-kira 3 bulan sejak aku lulus dari universitas, Tuhan akhirnya memberikan pekerjaan kepadaku. Masa-masa menunggu pekerjaan ini sendiri diwarnai dengan berbagai kejadian, mulai dari yang berwarna cerah seperti mulainya aku memimpin sebuah Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) di gereja sejak bulan Agustus sampai yang berwarna gelap di mana aku merasakan tekanan dari berbagai pihak, terutama orang tua, untuk segera mendapatkan pekerjaan. Rasanya sayang kalau seluruh peristiwa dalam beberapa bulan ke belakang tidak diabadikan dalam sebuah entri di jurnal yang telah lama tidak kubuka dan kutulis.

Maka di pagi hari 11 November 2018, setelah bangun lebih siang, membaca Alkitab, dan mandi, aku melepaskan ikatan tali yang membendel jurnal kulit tiruan berwarna cokelat yang agak berdebu dan membuka halaman tertulis terakhirnya. Entri terakhir bertanggal hampir setengah tahun yang lalu, tapi aku merasa sudah berabad-abad berlalu sejak aku terakhir menulis di jurnal.

Pena di tangan tidak langsung mengeluarkan tinta karena aku kesulitan merangkai kata-kata yang tepat untuk mengartikulasikan apa yang ada dalam benakku. Setelah bergumul selama sekitar lima belas menit untuk menyelesaikan dua paragraf pertama, kalimat-kalimat berikutnya kutulis tanpa hambatan yang berarti. Aku mengingat kembali kejadian-kejadian selama beberapa bulan ke belakang, menceritakan ulang dan mengomentari setiap detail yang menarik perhatian dan perasaanku. Hasilnya adalah ikhtisar dan perenungan dari pengalaman-pengalaman yang kualami selama beberapa bulan terakhir ini sepanjang 1,5 halaman A5.

Aku tidak bisa mengutip semua tulisanku di sini karena pasti akan kelewat panjang. Tetapi, secara singkat, selama hampir setengah tahun ke belakang (dan, kalau ditarik lebih jauh, sejak ulang tahunku yang ke-21), aku dapat melihat kuasa Roh Kudus yang nyata bekerja mengubahkanku semakin serupa dengan Tuhan Yesus Kristus terutama dari segi karakter, sebuah aspek kehidupan yang dari dulu kugumulkan karena kepribadianku yang koleris. Aku merasa jadi lebih sabar dan pengertian dalam berelasi dengan sesamaku. Selain itu, aku juga mengucap syukur atas anugerah Tuhan yang memimpinku untuk bisa lulus kuliah, memberikanku beberapa saudara/i di gereja untuk kumuridkan, dan menyertaiku selama masa-masa penantian hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan.

Entri ini, seperti yang mungkin kamu tebak dari judul tulisan ini, berpuncak pada doa yang kutulis untuk Tuhan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Doa inilah yang ingin kubagikan denganmu. Aku mengamati bahwa ketika seseorang berulang tahun, kebanyakan orang akan mengucapkan selamat, beberapa akan menanyakan pokok doanya, dan hanya sedikit yang akan berdoa bersamanya. Tuhan Yesus memberkatiku dengan banyak sahabat yang melakukan tindakan ketiga ini di ulang tahun teman-teman kami dan ulang tahunku. Melalui kesempatan berdoa bersama-sama dengan orang yang baru berulang tahun, aku mendapat wawasan tentang bagaimana orang Kristen seharusnya berdoa yang membantuku dalam kehidupan doaku sendiri.

Aku ingin membagikan berkat ini dengan kamu yang membaca doaku di bawah, sehingga kamu dapat semakin mendambakan kehadiran dan sukacita dari Tuhan dalam kehidupan doamu juga.

Tuhan, Bapaku di surga, sudah 22 tahun sejak Engkau menempatkanku di dunia ini. Butuh 14 tahun dan 356 hari bagiku untuk pada akhirnya menerima-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamatku pribadi, sementara Engkau terus menopang hidupku di hari-hari penuh dosa dan pemberontakanku terhadap-Mu.

Hari ini tepat 7 tahun dan 9 hari aku telah melihat kasih-Mu terus dicurahkan atas hidupku hari lepas hari, walaupun sejak pertobatanku aku masih terus melakukan dosa dan pelanggaran yang tidak terhitung jumlahnya, tidak hidup dengan diri-Mu sebagai Tuhanku, melainkan aku sebagai Tuhan atas diriku sendiri. Tetapi Engkau terus mengingatkanku akan pengorbanan dan karya keselamatan-Mu yang menghapus segala dosaku, baik di masa lalu maupun yang akan datang, pada hari-hari di mana mereka membebaniku dengan rasa bersalah yang teramat besar. Terima kasih atas kebenaran-Mu yang membebaskan dan memampukanku untuk hidup untuk mengasihi-Mu, melayani-Mu, dan memuliakan-Mu lewat kasih dan pelayananku terhadap sesama.

Lewat perenungan tadi, Engkau memampukanku untuk melihat kasih anugerah dan kemurahan-Mu dengan lebih jelas lagi, sesuatu yang sudah lama tidak bisa kulakukan belakangan ini. Oleh karena itu, pada hari di mana Engkau memimpinku memasuki umur yang ke-22, aku memohon supaya aku dapat hidup semakin menyerupai Kristus. Aku berdoa supaya aku dapat melihat kemuliaan-Mu dengan semakin jelas lagi sehingga kasih-Mu dapat memenuhiku dengan melimpah dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Tuhan, berikan aku kesediaan hati untuk mengasihi seperti Engkau mengasihiku, untuk peduli terhadap kebutuhan orang lain, tanpa mengharapkan balasan apapun, karena aku telah pertama-tama memiliki segala sesuatu yang kuharapkan dan kudambakan dalam Pribadi Yesus Kristus yang mengasihiku dan memberikan nyawa-Nya untukku. Dan di hari-hari ke depan, ketika aku berjalan menyimpang dari jalan-Mu, tolong bukakan mataku terhadap kesalahan-kesalahanku dan berikan aku kekuatan untuk kembali berjalan mengikuti tuntunan-Mu.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, ya Tuhan, tapi Engkau mengetahuinya: berkat-berkat apa saja yang akan kudapatkan selama tiga tahun menyelesaikan ikatan kerja, pekerjaan seperti apa yang Engkau akan panggil aku untuk lakukan setelahnya, orang-orang yang akan kutemui, wanita yang akan kunikahi, di mana aku akan tinggal, dan perubahan-perubahan serta pertumbuhan seperti apa yang akan kualami dengan segala macam konflik dan penderitaan dan pergumulan yang harus kulewati untuk mencapainya; dengan kata lain, masa depan yang akan kuhadapi. Oleh karena itu, aku meminta supaya Engkau terus menyadarkanku atas hadirat-Mu dalam waktu-waktuku ke depan dan memberikanku iman untuk hidup dengan diri-Mu sebagai pengharapan dan Tuhanku. Tolonglah aku untuk terus merasakan sukacita-Mu sehingga aku dapat terus berjalan dengan setia dalam hadirat-Mu sepanjang sisa hariku.

Di sini aku berdiri, Bapa; Engkau adalah saksiku dan Kebenaran, kepada siapa segala kemuliaan adalah milik-Mu.

Dalam nama Kristus yang agung aku menyerahkan segalanya ke dalam tangan-Mu, dengan keyakinan dan dalam pengharapan akan kemuliaan, kasih anugerah, dan sukacita-Mu.

Allah Roh Kudus, lengkapi dan sempurnakan doa yang jauh dari sempurna ini sesuai kehendak-Mu.

Amin.

Semoga Allah memakai doa yang kunaikkan pada ulang tahunku yang ke-22 ini untuk membawamu lebih dekat kepada-Nya dalam doa-doamu sendiri.

Soli Deo gloria.

Baca Juga:

4 Pergumulan yang Mungkin Dihadapi oleh Pendeta Gerejamu Lebih Daripada yang Kamu Pikirkan

Di balik keadaan pendeta di gereja kita yang tampaknya “baik-baik saja”, bisa saja terdapat pergumulan yang mereka hadapi. Kadang, pergumulan itu malah lebih daripada yang ada dalam pikiran kita.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Saudara Seiman: Perjalanan untuk Saling Menguatkan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!