Saat Aku Belajar untuk Berhenti Mengikuti Perasaanku

Info

Oleh Debra Ayis, Nigeria
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When (Not) To Follow Your Feelings

Sebagai orang Kristen yang berjuang untuk berjalan mengikuti jejak Yesus, kita akan menjumpai momen-momen yang mengharuskan kita melawan kedagingan kita. Momen itu bisa berupa saat-saat di mana kita dengan sengaja harus melawan perasaan atau emosi kita, semisal: memilih untuk memaafkan orang yang sudah menyakiti kita, berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita, atau mengendalikan amarah agar kita tidak melakukan kekerasan.

Perjuangan untuk melakukan itu semua terasa sulit. Kita tahu bahwa perasaan kita itu salah, dan apabila kita mengikutinya, kita bisa saja melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tapi, seringkali kita berusaha untuk menganggap benar perasaan kita.

Beberapa tahun lalu, aku pernah berada di situasi seperti itu. Semuanya adalah tentang seorang lelaki. Seorang lelaki yang kepadanya aku jatuh cinta, seorang lelaki yang membuatku lebih memilih manusia daripada Tuhan. Mungkin sekarang kamu menggeleng-gelengkan kepala, sebab sepertinya ada terlalu banyak kisah tentang perempuan-perempuan Kristen yang baik yang “disesatkan” oleh pacar-pacar mereka yang tidak seiman. Tapi, aku bersyukur untuk kisah ini, karena inilah yang kemudian mengingatkanku untuk tidak selalu mengikuti perasaanku.

Aku bertemu lelaki itu di tempat kerja, dan seperti yang orang-orang katakan, ada chemistry yang tumbuh cepat di antara kami. Aku tertarik kepadanya. Bukan cuma karena penampilannya saja, tapi juga karena karakternya. Dia adalah orang yang lucu, baik, bijaksana, pekerja keras, murah hati, dan juga pintar. Dengan segera, aku mulai mengembangkan perasaanku padanya. Tapi ada satu masalah: dia adalah seorang ateis dan membenci Kekristenan.

Setiap kali dia memuji pekerjaanku atau kebaikan hatiku, aku memberitahunya bahwa itu bukan aku yang melakukannya—Kristuslah yang melakukannya. Tapi, dia tidak setuju dengan apa yang kukatakan. Katanya, itu semua hanyalah “jargon agama”. Dia bersikeras kalau segala kebaikan di dalam diriku itu ada karena aku memang orang yang baik, bukan karena Tuhan. Aku coba mengundangnya datang ke gereja, tapi dia selalu menolak dan berkata bahwa orang-orang beragama itu “sudah dicuci otak dan naif”.Dia tidak pernah memberiku alasan mengapa dia tidak menyukai Tuhan—ataupun agama. Dia selalu menghindar untuk mendiskusikan topik ini, dan aku pun akhirnya berhenti bertanya. Aku hanya percaya (dan sampai kini masih percaya) bahwa Tuhan akan menyentuh hatinya suatu hari kelak.

Meskipun aku tahu betul bahwa Alkitab menginstruksikan orang Kristen untuk tidak memilih pasangan yang tidak sepadan dengan orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14), aku menganggap diriku sendiri yang paling benar. Contohnya, aku percaya bahwa dengan berpacaran aku bisa membawa seseorang pada Kristus. Kupikir selama aku berdoa untuknya dan menjaga diriku sebagai orang Kristen yang baik, dia akan menyadari bahwa ada Kristus di dalam diriku. Hatiku mengatakan bahwa aku bisa mengubahnya. Lagipula, bagaimana caranya kita membawa orang lain kepada Kristus jika kita tidak berteman dengan mereka?

Tapi, pikiranku mengingatkanku bahwa hanya Tuhan yang bisa mengubah hati, bukan manusia (Yehezkiel 36:26). Semua yang bisa kulakukan hanyalah terus menjadi saksi Kristus sepanjang hidupku. Pada akhirnya, mengikut Kristus atau tidak, itu kembali lagi kepada pilihan lelaki itu.

Melalui kenyataan ini, aku tahu bahwa melibatkan diriku dalam relasi bersama seseorang yang punya standar dan kepercayaan yang berbeda dariku hanya akan membawaku kepada sakit hati di masa depan. Ketika aku berdoa untuknya, juga berdoa agar kehendak Tuhan dinyatakan dalam diriku, aku mulai memikirkan beberapa pertanyaan serius: Apa yang sesungguhnya aku inginkan dari sebuah relasi? Lelaki itu sudah memberitahuku bahwa dia tidak percaya bahwa seks itu hanya boleh dilakukan dalam pernikahan, jadi maukah aku mengkompromikan imanku untuknya? Bisakah aku terus menahan semua tekanan ini? Apakah aku ingin menikah? Apakah kelak anak-anak kami akan dididik secara Kristen? Apakah kami memberikan persembahan persepuluhan? Apakah kami bergabung dalam gereja lokal? Apakah kami akan mendasari nilai-nilai hidup kami dalam firman Tuhan? Apakah Kristus akan menjadi bagian dari rumah kami? Apakah kami mengizinkan diri kami dipimpin oleh Roh Tuhan?

Jawabannya jelas. Tidak.

Aku berdoa memohon anugerah dari Tuhan agar aku dapat mengendalikan perasaanku. Sulit untuk menghindari lelaki itu di tempat kerja, tapi Tuhan memberiku rahmat untuk secara bertahap mengalihkan pikiranku dan menganggap relasiku dengan lelaki itu tak lebih dari dari pertemanan. Aku melakukannya dengan cara lebih fokus dengan pekerjaanku, dan berelasi lebih erat dengan perempuan-perempuan lain di tempat kerjaku. Aku mengambil kesempatan untuk memindahkan posisi tempat kerjaku ke ujung kantor, menjauhi diri darinya dan membatasi percakapan kami hanya dalam lingkup pekerjaan saja.

Apakah keputusan untuk berpisah dengan seseorang yang kusukai tetapi tidak seiman itu sulit? Ya. Apakah aku menyesali keputusan itu? Tidak. Aku tidak menyesal karena aku tahu segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan (Roma 8:28). Aku juga tahu bahwa Tuhan ingin melindungiku dari sebuah relasi yang kelak akan melukaiku.

Meski hatiku waktu itu merasa sakit, aku percaya bahwa pengalaman inilah yang menguatkan imanku. Sekarang, aku bisa lebih mengendalikan perasaanku, seperti kita aku merasa marah atau kesal, atau ketika aku tergoda untuk meletakkan cinta dan kesetiaanku pada orang yang salah. Meskipun tidaklah mudah untuk mengatasi perasaanku sendiri, aku tahu bahwa Tuhan tidak akan membiarkanku dicobai melampaui apa yang dapat kutanggung (1 Korintus 10:13). Aku telah belajar untuk menantikan Tuhan dan menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23), sungguh-sungguh mempercayai-Nya dan menanti petunjuk-Nya sebelum aku membuat suatu keputusan dalam hidupku (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Apakah Denominasi Gerejaku Penting Buat Tuhan?

Aku berasal dari gereja karismatik, tapi setelah menikah aku mengikuti suamiku ke gereja yang lebih tradisional. Perpindahan ini awalnya terasa sulit dan kaku. Namun, seiring waktu aku belajar untuk memahami apa yang jadi kerinduan Tuhan bagi setiap umat gereja-Nya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Saudara Seiman: Perjalanan untuk Saling Menguatkan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

13 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!