Bersyukur Memuliakan Allah

Info

Jumat, 30 November 2018

Bersyukur Memuliakan Allah

Baca: Mazmur 50:8-15

50:8 Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?

50:9 Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,

50:10 sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.

50:11 Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.

50:12 Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.

50:13 Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?

50:14 Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!

50:15 Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Sela

Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku. —Mazmur 50:15

Bersyukur Memuliakan Allah

Dokter tidak mengerutkan keningnya, meskipun ia sedang berbicara dengan suami saya tentang hasil diagnosis kankernya yang baru keluar. Sambil tersenyum, dokter memberikan saran: awalilah setiap hari dengan bersyukur. “Setidaknya untuk tiga hal,” kata dokter itu. Suami saya, Dan, setuju karena ia tahu bahwa ucapan syukur membuka hati kita untuk dikuatkan dalam kebaikan Allah. Jadi, Dan mengawali setiap harinya dengan kata-kata pujian. Allah, terima kasih untuk tidur malam yang nyenyak, tempat tidur yang bersih, sinar matahari, sarapan yang terhidang, dan bibir yang masih bisa tersenyum.

Setiap kata tersebut diucapkannya dengan tulus. Namun, tidakkah itu terdengar sepele? Apakah pujian kita untuk hal-hal kecil dalam hidup ini ada artinya bagi Allah yang Mahakuasa? Dalam Mazmur 50, Asaf, pemimpin pujian di kerajaan Daud, memberikan jawaban yang jelas. Allah tidak memerlukan lembu atau kambing jantan dari kandang kita (ay.9). Alih-alih mempersembahkan korban syukur secara formal seperti yang dilakukan bangsa Israel, Allah rindu umat-Nya memberikan hati dan hidup mereka dengan ucapan syukur kepada Dia (ay.14,23).

Seperti yang dialami suami saya, ucapan syukur yang tulus akan membangkitkan semangat kita. Kemudian, saat kita berseru kepada Tuhan “pada waktu kesesakan,” Dia akan “meluputkan” kita (ay.15). Apakah ini berarti Dan akan disembuhkan, secara rohani dan jasmani, selama dua tahun perawatannya? Atau tidak disembuhkan pada masa hidupnya sekarang? Kami tidak tahu. Namun, untuk saat ini, Dan senang menunjukkan kepada Allah betapa ia bersyukur atas kasih-Nya dan atas keberadaan-Nya: Dialah Penebus. Penyembuh. Sahabat. Tuhan senang mendengar kata-kata indah ini: Terima kasih. —Patricia Raybon

Ucapan syukurku diterima-Nya dengan sukacita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 37-39; 2 Petrus 2

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

29 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!