Terima Kasih Matt Kecil

Info

Oleh Maria Felicia, Surakarta

Aku bekerja sebagai seorang pengajar. Suatu kali, dalam sebuah jadwal les di sore hari aku mendapatkan suatu pengalaman yang mengajariku tentang bersyukur dan tersenyum. Cerita pengalaman ini kudapat dari interaksiku dengan Matt, seorang murid les sekaligus teman kecilku yang manis.

“Miss,” demikian Matt memanggilku. “Aku mau poop,” katanya sambil memandangku dengan tatapan aneh.

“Hah? Kamu mau poop?” Aku menjawabnya sembari ternganga. Aku tidak mau menolong Matt melakukan buang air besar di tempatku. Jadi aku berusaha menghindarinya.

“Ditahan bentar ya Matt. Bentar lagi selesai, pulang deh. Nanti kamu poop-nya di rumah saja.”

“Ya, miss,” jawab Matt. Aku tidak tahu apakah itu jawaban pasrah atau taat. Tapi, sesaat kemudian Matt memandangiku lagi dengan tatapan yang semakin memelas. Matt berusia empat tahun. Tatapan itu memberitahuku bahwa Matt sudah tidak tahan lagi. Mau tak mau aku harus membawanya ke toilet.

“Miss, bantuin Matt ya,” dia berkata. Kalimat ini membuat hatiku yang semula enggan menolongnya menjadi luluh.

Menolong anak didikku untuk buang air di toilet bukanlah hal yang ahli kulakukan. Biasanya di sekolah kami ada helper yang menolong Matt dan murid lainnya untuk urusan di toilet. Tapi, kejadian ini sekarang berlangsung di tempat lesku, di mana tidak ada helper yang bertugas menolong.

Saat menemaninya, Matt memegang erat pundakku. Dia lalu menatap setiap inci langit-langit dan dinding kamar mandiku, tempat yang kuanggap tidak istimewa sama sekali di rumah.

“Miss, kok kamar mandinya miss bagus banget?” tanya Matt.

“Hah?” aku menjawab Matt dengan heran. Jawaban itu membuat Matt kembali mengamati kamar mandiku dengan detail hingga dia pun berkata lagi, “Miss, kamar mandi miss kok bagus banget sih?”

Di usianya yang masih balita, aku yakin apa yang terucap dari mulut Matt adalah sesuatu yang juga berasal dari hatinya. Buat Matt, kamar mandi ini tampak sangat bagus, sedangkan bagiku kamar mandi ini biasa saja, tidak bagus. Atap dan pintunya tampak usang, juga reyot dimakan rayap. Tapi, sepenggal kalimat yang diucapkan Matt itu kemudian membuatku tersenyum dan mengajariku untuk mengucap syukur. Bahwa hal sederhana yang sepertinya tidak istimewa bagiku bisa dipandang begitu bagus dan istimewa bagi orang lain.

Seringkali dalam kehidupan ini aku merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau. Aku melihat kepada orang lain yang kuanggap memiliki lebih dariku hingga aku tidak lagi menemukan keistimewaan dari apa yang ada padaku. Meski sebenarnya ada banyak alasan untuk mengucap syukur, aku seringkali hanya berfokus pada masalah-masalahku saja. Namun puji Tuhan, karena Allah Bapa adalah Pribadi yang begitu setia dan sabar. Dia menuntun, mengajar, dan mendidikku lewat banyak hal, termasuk melalui hal sederhana yang terjadi dalam keseharianku.

Aku lalu teringat akan firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:16-18 yang berkata, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Dalam perenungan itu, aku merasa seolah Tuhan berkata kepadaku:

“Anakku, ingatlah selalu, apapun keadaan hidupmu, tidaklah perlu membandingkan diri dan merasa iri dengan orang lain. Lihatlah penyertaan-Ku. Tidakkah setiap berkat-Ku cukup bagimu untuk selalu membuatmu tersenyum dan bersyukur? Lihatlah kamar mandi ini, dan ingatlah perkataan Matt tentang kamar mandi sederhana ini, bersyukurlah. Lihatlah rumah ini, meski bukan sebuah kastil megah dan mewah, bukankah rumah ini kokoh dan tegap menaungimu dan keluargamu?”

Hari itu aku bersyukur karena melalui Matt kecil Tuhan telah mengajariku sesuatu yang berharga. Aku mau mengucap syukur kepada Tuhan untuk kamar mandiku, untuk rumahku, untuk keluargaku, untuk teman-teman kecil yang mengajariku banyak hal luar biasa, dan untuk setiap berkat-berkat yang Tuhan telah berikan buatku.

Apapun keadaan dalam hidupku, aku mau selalu tersenyum bagi Bapa. Aku berharap agar hatiku terus meluap dengan segala ucapan syukurku bagi-Nya, sebab itulah yang Tuhan kehendaki bagiku di dalam Yesus Kristus, sahabat kekalku.

Baca Juga:

3 Hal yang Kupikirkan Sebelum Memposting di Media Sosial

Meskipun kita punya kebebasan untuk mengekspresikan diri, kita juga seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kita ekspresikan atau unggah di ruang publik. Inilah tiga pertanyaan yang sering kuajukan kepada diriku sendiri sebelum aku memposting sesuatu.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!