Senantiasa Mengucap Syukur

Senin, 29 Oktober 2018

Senantiasa Mengucap Syukur

Baca: Bilangan 11:1-11

11:1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.

11:2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.

11:3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

11:4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

11:7 Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.

11:8 Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.

11:9 Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.

11:10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa.

11:11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?

Apakah semua ikan di laut cukup untuk memberi makan kepada mereka? —Bilangan 11:22 BIS

Senantiasa Mengucap Syukur

Tahun-tahun yang melelahkan akibat penyakit kronis dan rasa frustrasi terhadap ruang gerak saya yang terbatas akhirnya memuncak. Ketidakpuasan yang saya rasakan membuat saya sering menuntut dan sulit mengucap syukur. Saya mulai mengeluh tentang perawatan yang diberikan suami. Saya mengomel tentang cara suami saya membersihkan rumah. Walaupun ia adalah koki terbaik yang pernah saya kenal, masih saja saya menggerutu tentang kurangnya variasi menu makanan kami. Ketika akhirnya ia mengatakan bahwa keluh-kesah saya melukai perasaannya, saya malah menjadi jengkel. Pikir saya, mana mungkin ia tahu apa yang saya alami? Namun akhirnya, Allah menolong saya untuk melihat segala kesalahan yang saya lakukan, dan saya pun meminta pengampunan dari suami dan Tuhan.

Harapan kita akan situasi yang berbeda dapat membuat kita berkeluh-kesah, bahkan menjadikan kita terlalu berpusat pada diri sendiri yang mengakibatkan hubungan kita dengan orang lain menjadi rusak. Bangsa Israel tidak asing lagi dengan masalah itu. Tampaknya mereka tidak pernah merasa puas dan selalu mengeluhkan pemeliharaan Allah (Kel. 17:1-3). Meskipun Tuhan memelihara umat-Nya di padang gurun dengan memberi mereka “hujan roti” dari langit (16:4), mereka mulai mendambakan makanan lain (Bil. 11:4). Alih-alih bersukacita atas mukjizat dari Allah yang diterima dari hari ke hari, bangsa Israel menghendaki yang lebih banyak, yang lebih baik, yang berbeda, atau bahkan yang dahulu pernah mereka miliki (ay.4-6). Bangsa Israel menumpahkan rasa frustrasi mereka kepada Musa (ay.10-14).

Mempercayai kebaikan dan kesetiaan Allah dapat menolong kita untuk senantiasa belajar mengucap syukur. Hari ini, marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala bentuk pemeliharaan-Nya yang tak terhingga banyaknya atas kita. —Xochitl Dixon

Pujian syukur memuaskan jiwa kita dan menyenangkan hati Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 18-19; 2 Timotius 3

Bagikan Konten Ini
33 replies
  1. fani
    fani says:

    saya sangat bersyukur dengan perenungan firman hari ini, saya merasa kacau ketika hanya melihat pada diri saya. firman ini sungguh sangat menegur saya untuk tetap melihat pada Kristus dan itu membuat saya sanggup mengucap syukur dalam segala sesuatu.

  2. Sandro Mark Talumepa
    Sandro Mark Talumepa says:

    puji Tuhan atas firman-Nya. Marilah kita mengucap syukur dengan apa yang sudah kita punya, karena banyak orang yang tidak seberuntung kita. Haleluya, AMIN

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *