Hal Buruk dan Hal Indah

Selasa, 16 Oktober 2018

Hal Buruk dan Hal Indah

Baca: Mazmur 57

57:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.57:2 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

57:3 Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

57:4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

57:5 Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

57:6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

57:7 Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

57:8 Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.

57:9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

57:10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

57:11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.

57:12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! —Mazmur 57:9

Hal Buruk dan Hal Indah

Rasa takut dapat membuat kita tak berdaya. Kita tahu segala hal yang bisa membuat kita takut—segala sesuatu yang menyakiti kita di masa lalu, yang sangat mudah melukai kita kembali. Jadi terkadang kita terperangkap—tak bisa mengulang kembali, tetapi terlalu takut untuk melangkah maju. Aku tak bisa melakukannya. Aku tak cukup pintar, tak cukup kuat, tak cukup berani untuk maju, karena aku khawatir akan disakiti seperti itu lagi.

Saya tertarik dengan cara penulis Frederick Buechner mendeskripsikan anugerah Allah. Anugerah Allah itu seperti suara lembut yang berkata, “Inilah dunia. Hal buruk dan hal indah akan terjadi. Jangan takut. Aku menyertaimu.”

Hal buruk akan terjadi. Di dunia ini, manusia saling menyakiti, bahkan sering dengan cara yang sangat pedih. Seperti Daud sang pemazmur, kita membawa kenangan masa lalu saat kejahatan mengepung kita, saat orang lain melukai kita bagai “singa yang suka menerkam” (Mzm. 57:5), dan itu membuat kita berduka sehingga kita pun berseru kepada Allah (ay.2-3).

Namun, karena Allah menyertai kita, hal-hal indah juga dapat terjadi. Ketika datang kepada-Nya dengan membawa luka hati dan ketakutan kita, kita menyadari bahwa kita ditopang oleh kasih yang jauh lebih besar daripada kuasa apa pun yang hendak melukai kita (ay.2-4), kasih yang begitu besar hingga sampai ke langit (ay.11). Bahkan ketika bencana berkecamuk di sekitar kita, kasih-Nya menjadi tempat perlindungan yang aman bagi pemulihan hati kita (ay.2,8). Suatu hari nanti, kita akan dibangunkan untuk menerima keberanian yang baru, sehingga kita siap menyambut hari dengan menyanyikan syukur tentang kasih setia-Nya (ay.9-11). —Monica Brands

Penyembuh dan Penebus kami yang agung, terima kasih karena Engkau telah menyertai dan memulihkan kami dengan kasih setia-Mu yang tiada berkesudahan. Dalam kasih-Mu, tolonglah kami memperoleh keberanian untuk mengikuti-Mu dan membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kami.

Kasih dan keindahan Allah menjadikan kita berani.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47-49; 1 Tesalonika 4

Artikel Terkait:

Lagi-Lagi Tentang Kasih …

Facebooktwitterreddit

63 replies
« Older Comments
« Older Comments

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *