Di Manakah Damai?

Info

Kamis, 25 Oktober 2018

Di Manakah Damai?

Baca: Yeremia 8:8-15

8:8 Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong.

8:9 Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?

8:10 Sebab itu Aku akan memberikan isteri-isteri mereka kepada orang lain, ladang-ladang mereka kepada penjajah. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya mengejar untung; baik nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu.

8:11 Mereka mengobati luka puteri umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera.

8:12 Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN.

8:13 Aku mau memungut hasil mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi tidak ada buah anggur pada pohon anggur, tidak ada buah ara pada pohon ara, dan daun-daunan sudah layu; sebab itu Aku akan menetapkan bagi mereka orang-orang yang akan melindas mereka.”

8:14 Mengapakah kita duduk-duduk saja? Berkumpullah dan marilah kita pergi ke kota-kota yang berkubu dan binasa di sana! Sebab TUHAN, Allah kita, membinasakan kita, memberi kita minum racun, sebab kita telah berdosa kepada TUHAN.

8:15 Kita mengharapkan damai, tetapi tidak datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada hanya kengerian!

Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. —Roma 5:1

Di Manakah Damai?

“Masihkah kamu mengharapkan damai?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi Bob Dylan pada tahun 1984.

“Takkan ada damai apa pun,” jawab Dylan. Respons itu menuai kritikan dari banyak pihak, tetapi tak bisa disangkal bahwa damai memang belum tercapai hingga saat ini.

Sekitar 600 tahun sebelum kedatangan Kristus, sebagian besar nabi meramalkan tercapainya kedamaian. Namun, tidak demikian dengan Yeremia, nabi Allah. Ia mengingatkan umat-Nya bahwa Allah telah berfirman, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Yer. 7:23). Namun, mereka berulang kali mengabaikan Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Nabi-nabi palsu berkata, “Damai sejahtera! Damai sejahtera!” (8:11), tetapi Yeremia menubuatkan tibanya bencana. Yerusalem pun jatuh pada tahun 586 sm.

Kedamaian itu langka. Namun, di antara nubuat-nubuat yang mengenaskan dalam kitab Yeremia, kita menemukan Allah yang mengasihi tanpa henti. Tuhan berkata kepada umat-Nya yang memberontak, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal. . . . Aku akan membangun engkau kembali” (31:3-4).

Allah adalah Allah sumber kasih dan damai. Konflik muncul karena kita memberontak terhadap Dia. Dosa menghancurkan kedamaian dunia dan merampas kedamaian batin dari setiap kita. Yesus datang ke bumi ini untuk mendamaikan kita dengan Allah dan memberi kita kedamaian batin itu. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus,” tulis Rasul Paulus (Rm. 5:1). Sungguh suatu perkataan yang begitu sarat dengan pengharapan.

Baik kita tinggal di zona perang atau di lingkungan yang aman tenteram, Kristus mengundang kita untuk mengalami kedamaian-Nya. —Tim Gustafson

Allah tak bisa memberi kita sukacita dan damai di luar dari diri-Nya, karena hal itu memang tidak ada di luar sana. —C. S. Lewis

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6-8; 1 Timotius 5

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

39 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!