3 Respons untuk Menyikapi Musibah

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, kita dapat mengetahui secara cepat perkembangan suatu peristiwa atau musibah yang terjadi. Namun, tak jarang kemudahan ini malah menimbulkan kesimpangsiuran. Di saat informasi belum terhimpun sempurna, beberapa orang merespons dengan sengaja menyebarkannya melalui media sosial. Alih-alih membagikan informasi baik, yang ada malah menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Teruntuk kita semua, para warganet Indonesia dan khususnya para pemuda Kristen, sekiranya inilah tiga hal yang perlu kita pikirkan sebelum kita memposting sesuatu sebagai respons kita terhadap suatu musibah:

1. Jangan terburu-buru menyebarluaskan informasi

Cek terlebih dulu sebelum membagikan informasi kepada keluarga atau rekan-rekan kita. Apabila informasi yang kita terima hanya berupa pesan broadcast tanpa disertai tautan menuju sumber yang jelas dan kredibel, ada baiknya kita menunda dulu penyebarluasan pesan tersebut. Meski maksud untuk membagikan pesan itu adalah baik, tetapi apabila informasi yang diberikan itu ternyata tidak sesuai, bisa saja menimbulkan kesimpangsiuran, atau bahkan kepanikan.

Hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengecek kebenaran suatu informasi adalah dengan membuka portal berita resmi dan terpercaya, atau dengan menunggu pernyataan resmi dari instansi terkait yang biasanya dengan cepat diumumkan melalui media sosial Twitter. Informasi yang tidak berasal dari sumber-sumber tersebut ada baiknya kita kesampingkan dahulu.

Ketika kita turut menyebarkan informasi yang tidak sesuai, bisa jadi kita juga turut menyebarkan kabar kebohongan. Keluaran 23:1 mengatakan demikian, “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.”

2. Tunjukkanlah empati, bukan spekulasi

Ketika bencana atau musibah terjadi, kita mungkin bertanya-tanya bagaimana itu dapat terjadi, siapa saja korbannya, apakah ada pihak yang bersalah atau tidak, dan sebagainya. Respons itu adalah wajar, akan tetapi bukanlah hal yang bijak apabila kita kemudian mengungkapkannya secara terburu-buru melalui media sosial, apalagi kalau kita bukan orang yang mengalami langsung hal tersebut. Mungkin yang kita ketahui ada benarnya, tetapi bukan itu yang benar-benar dibutuhkan oleh para korban dan keluarganya.

Selain itu, hindari menyebarluaskan informasi berisi gambar-gambar atau foto-foto korban. Menyebarkan foto dan gambar tersebut, apalagi apabila menonjolkan luka-luka dan kengerian di dalamnya tidak akan memberikan manfaat apapun selain menyebarkan ketakutan dan menambah duka bagi keluarga korban.

Ketika bencana atau musibah terjadi, baik korban maupun orang terdekat mereka mengalami trauma dan bahkan dukacita. Yang mereka perlukan adalah uluran tangan dan penghiburan. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menunjukkan empati kita, sebagaimana yang Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:15, “Menangislah dengan orang yang menangis!”

3. Doakanlah para korban dan mereka yang bertugas melakukan proses evakuasi

Kita mungkin tidak mengalami secara langsung suatu bencana atau musibah, pun bukan kerabat atau kawan dari mereka yang menjadi korban. Namun itu bukan alasan untuk kita bersikap tidak peduli. Salah satu dukungan sederhana tetapi nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan mendoakan mereka. Ketika kita berdoa, kita mengakui kepada Tuhan bahwa diri kita terbatas. Tetapi, Tuhan kita adalah Pribadi yang Mahakuasa. Dia tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dia sanggup menolong, memberikan kekuatan pada mereka yang berduka dan memberikan penghiburan yang sejati.

Ketika kita berdoa, mungkin musibah itu tidak seketika juga selesai diatasi. Tetapi kita tahu dan percaya bahwa Roh Kudus mampu menguatkan dan menghibur mereka yang kita doakan. Rasul Paulus pun dalam suratnya kepada Yakobus berkata, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” (Yakobus 5:13).

Pertolongan Tuhan dapat hadir dalam berbagai wujud, salah satunya adalah melalui para relawan atau petugas yang berada di lapangan untuk melakukan evakuasi. Kepada Tuhan, kita dapat berdoa memohon agar Dia mengaruniakan kekuatan dan kebijaksanaan kepada para petugas yang melakukan proses evakuasi. Untuk menyelamatkan para korban, mereka harus berpacu dengan waktu dan juga medan evakuasi yang mungkin sulit.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjadi terang. Ketika dunia menjadi gelap akan segala kesimpangsiuran musibah, kita dapat menghadirkan terang itu dengan merespons dengan cara-cara yang bijak.

Baca Juga:

Terima Kasih Matt Kecil

Aku bekerja sebagai seorang pengajar. Suatu kali, dalam sebuah jadwal les di sore hari aku mendapatkan suatu pengalaman yang mengajariku tentang bersyukur dan tersenyum. Cerita pengalaman ini kudapat dari interaksiku dengan Matt, seorang murid les sekaligus teman kecilku yang manis.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

Bagikan Komentar Kamu!