SinemaKaMu: Searching—Sejauh Mana Kamu Akan Pergi untuk Menemukan Orang yang Kamu Kasihi?

Info

Oleh Caleb Young, Australia
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Searching: How Far Will You Go For Your Loved Ones?

Searching adalah film pertama yang disutradarai oleh seorang sutradara berusia 27 tahun yang bernama Anesh Chaganty. Film ini bergenre crime-thriller, dengan John Cho yang berperan sebagai David, seorang ayah yang mati-matian mencari anak perempuannya yang hilang.

Setelah Margot, putri David menghilang, David tidak diperbolehkan untuk berperan aktif dalam investigasi yang dilakukan oleh kepolisian. Jadi, satu-satunya cara yang bisa David lakukan adalah menelusuri jejak digital Margot di dunia maya untuk mencari petunjuk tentang kehilangannya. Disorot dari sudut pandang yang unik, melalui smartphone dan layar laptop, film ini mengeksplorasi berbagai topeng yang kita pakai untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi atau kita rasakan. Melalui lika-liku dalam investigasi tersebut, David belajar betapa sedikitnya yang dia ketahui tentang putrinya sendiri, dan upayanya untuk menemukan kembali putrinya itu akan menjadi perjalanan yang panjang.

Searching bukanlah film pertama yang sudut pandangnya diambil dari layar laptop, tetapi yang paling menarik adalah film ini secara hampir sempurna mampu menunjukkan pengalaman online yang dialami oleh generasi millennial. Dari adegan pertama yang menunjukkan Windows XP sedang dioperasikan, film ini kemudian menampilkan cuplikan-cuplikan nostalgia melalui adegan MSN Messenger, tampilan awal Youtube, hingga versi awal Facebook, seiring kita diajak untuk melihat kenangan-kenangan masa kecil Margot. Adegan lima menit pertama ini sangat menyentuh buatku. Aku belum pernah melihat film dengan efek serupa selain daripada film ini dan film Up dari Pixar yang membuatku terharu.

Film Searching ini pun kemudian menceritakan tentang penggunaan aplikasi komunikasi di zaman ini seperti Facetime dan iMessage beserta media sosial lainnya yang terkenal seperti Instagram, Facebook, dan bahkan Tumblr untuk mengungkap cerita di balik hilangnya Margot. David bahkan menggunakan Google Sheets dan Google Maps untuk menolongnya melakukan investigasi pribadi untuk menemukan Margot. Chaganty, sang sutradara, menambahkan detail-detail kecil seperti panggilan video call yang gambarnya terputus-putus, salah ketik ketika berkirim pesan, atau keputusan untuk menghapus tulisan sepanjang 200 kata dan menggantinya dengan sebuah kalimat pendek yang tegas, untuk menambahkan nuansa yang lebih nyata dari pengalaman online.

Walaupun teknik pembuatan film yang digunakan untuk membentuk cerita Searching membuat film ini unik, daya tarik emosional dari karakter David dan Margotlah yang membuat film ini menjadi film yang bagus. Beberapa komentar yang beredar tentang film Searching adalah film ini merupakan film terkenal Hollywood pertama yang menjadikan seorang aktor dari Asia sebagai karakter utamanya. Menariknya, meskipun John Cho adalah seorang keturunan Korea, tetapi itu tidak mempengaruhi penggambaran karakter David. Film ini lebih berfokus pada tema yang lebih universal, tema tentang dinamika keluarga yang rumit, tentang kedukaan dan kehilangan, dan—yang paling menonjol—adalah tentang kasih seorang ayah.

Kasih seorang ayah inilah tema yang paling berbicara kepadaku ketika aku merenungkan film tersebut. Aku diingatkan akan perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang (Lukas 15:1-7) di mana Yesus menceritakan tentang seorang Gembala yang akan “meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor” domba-Nya dan “pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya” (Lukas 15:4).

Di dalam film Searching, David menemukan banyak hal yang awalnya dia kira tidak mungkin dilakukan oleh putrinya. David menemukan bagaimana Margot selama ini menipunya dan melalukan perbuatan yang dia tidak percaya akan dilakukan oleh putrinya. Pada suatu titik dalam film ini, David meratap kepada seseorang yang menjadi pemimpin investigasi, “Aku tidak mengenalnya. Aku tidak mengenal putriku.” Meskipun temuan-temuan tersebut mengguncang David, tetapi tujuan utama David untuk menemukan putrinya tidaklah goyah.

Seperti kegigihan David, tak peduli apapun keadaannya, kasih Allah kepada kita selalu tetap dan tidak tergoyahkan. Namun, berbeda dengan David, Bapa kita di surga mengenal anak-anak-Nya dengan intim. Dia mengetahui topeng-topeng yang kita kenakan dan kebohongan-kebohongan apakah yang kita sampaikan kepada orang-orang supaya kita bisa berbaur atau diterima oleh mereka. Bapa tahu tentang perilaku-perilaku berdosa kita. Bapa juga tahu bahwa kita akan membuat-Nya kecewa, tidak taat kepada-Nya dan mengikuti kemauan kita sendiri. Meski begitu, Bapa tetap akan meninggalkan yang “sembilan puluh sembilan ekor domba” dan mencari kita dengan kerinduan yang jauh lebih besar daripada yang David tunjukkan dalam film tersebut. Bahkan, Bapa kita di surga telah memberikan persembahan terbaik-Nya untuk kita, bukan karena kebaikan apapun yang ada dalam kita, tetapi karena kasih-Nya yang besar untuk kita anak-anak-Nya.

Aku berharap kita takkan pernah harus mengalami apa yang David dan Margot alami dalam film tersebut. Doaku adalah kiranya setiap kita dapat merasakan kasih Bapa di surga dan mengizinkan diri kita untuk ditemukan oleh-Nya ketika kita kehilangan arah.

Artikel ini diterjemahkan oleh Arie Yanuardi
Gambar artikel diambil dari Official Trailer

Baca Juga:

Catatan Hidupku Sebagai Seorang Albino

Halo kawan, perkenalkan namaku Anatasya, atau kerap disapa Ana. Aku ingin membagikan cerita pengalamanku sebagai seorang yang terlahir Albino melalui tulisan ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Dunia: Perjalanan untuk Memberkati Sekitar, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018, Ulasan Film

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!