Cara-Cara yang Tak Terduga

Info

Jumat, 21 September 2018

Cara-Cara yang Tak Terduga

Baca: 1 Raja-Raja 19:1-12

19:1 Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang,

19:2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.”

19:3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!”

19:6 Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.

19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

19:8 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

19:9 Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

19:10 Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

19:11 Lalu firman-Nya: “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

19:12 Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. —Yohanes 14:9

Cara-Cara yang Tak Terduga

Pada tahun 1986, Levan Merritt yang berusia 5 tahun terjatuh dari ketinggian 6 m ke dalam kandang gorila di kebun binatang Jersey, Inggris. Saat orangtua Levan dan para pengunjung berteriak minta tolong, muncullah gorila jantan dewasa bernama Jambo. Jambo pun berdiri di antara Levan yang tak berdaya dan beberapa gorila lainnya. Lalu dengan lembut, Jambo membelai punggung Levan. Ketika Levan mulai menangis, Jambo mengarahkan gorila-gorila lain ke kandang mereka masing-masing. Pada saat itulah, para penjaga kebun binatang dan ambulans datang menyelamatkan Levan. Lebih dari 30 tahun kemudian, Levan masih ingat bagaimana Jambo, si gorila raksasa yang lembut itu, telah bertindak dengan cara yang sangat mengejutkan, dan membuat persepsi Levan tentang gorila berubah selamanya.

Elia mungkin mengharapkan Allah bertindak dengan cara-cara tertentu. Namun, Allah memakai angin kencang yang memecahkan bukit batu, gempa dahsyat, dan api untuk menunjukkan kepada nabi-Nya agar jangan berpikir seperti itu tentang diri-Nya. Allah lalu memakai bisikan lembut untuk menyatakan isi hati dan hadirat-Nya (1Raj. 19:11-12).

Elia sudah pernah melihat kuasa Allah (18:38-39). Namun, ia tidak sepenuhnya memahami Pribadi yang ingin dikenal tidak hanya sebagai yang lebih hebat dan dahsyat dibandingkan allah-allah lain (19:10,14).

Pada akhirnya, bisikan lembut itu terwujud sepenuhnya dalam kelembutan Yesus yang penuh kuasa, dan Dia berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Kemudian Yesus dengan tenang menyerahkan diri-Nya dipaku di kayu salib—suatu tindakan yang tak terduga dan penuh belas kasih dari Allah Mahakuasa yang mengasihi kita. —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolonglah kami untuk dikuatkan oleh bisikan-Mu yang lembut, dan dalam cara-cara yang ditunjukkan Anak-Mu. Kasihanlah kami karena tak mampu melihat lebih jauh bahwa ternyata ada kasih di balik kedahsyatan kuasa-Mu.

Allah takkan berteriak jika yang kita perlukan hanyalah bisikan.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 7-9; 2 Korintus 13

Artikel Terkait:

Kamu Berharga di Mata Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

50 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!