Renungan Piala Dunia: Para Suporter

Info

Ketika kita bergabung dengan tim asuhan Tuhan, kita mendapatkan rekan-rekan satu tim yang baru yaitu gereja. Semua orang Kristen adalah keluarga Tuhan—maka kita semua adalah satu keluarga.

Tadinya kita bertanding dalam stadion kosong dengan beban yang berat, tetapi sekarang kita bertanding dalam stadion yang penuh dengan para suporter yang terus menyemangati kita. Gereja adalah tempat dari setiap orang yang berada dalam tim yang sama, dan yang satu mendukung yang lain untuk tekun menuruti taktik pertandingan Tuhan, untuk tetap dekat kepada Yesus, dan bersama-sama melangkah menuju surga. Kita tidak lagi sendirian, melainkan selamanya menjadi bagian dari keluarga yang anggotanya ada di seluruh dunia! Keluarga ini tidak sempurna; masing-masing orang punya pergumulan dan masalahnya sendiri. Namun, setiap orang dalam keluarga Tuhan tahu mereka membutuhkan Yesus dan Dialah yang akan memimpin jalan mereka.

Mengikuti taktik pertandingan Tuhan tidak selalu mudah. Dia meminta kita melakukan hal-hal sulit, seperti melepaskan egoisme, minta maaf kepada orang yang kita sakiti, dan berbicara tentang Dia kepada rekan-rekan kita. Namun, itulah alasan kita bersyukur mempunyai rekan-rekan setim yang menolong kita. Tuhan tidak pernah menghendaki kita menjalani hidup ini sendirian. Hidup ini adalah seperti olahraga beregu.

Lagipula, kita punya pelatih yang terbaik. Sebagai wasit, Tuhan berkata bahwa kini kita bermain dengan benar karena Yesus sudah menanggung ganjaran atas pelanggaran kita; sebagai pelatih kita, Tuhan terus mengamati permainan kita setiap waktu dan memberikan kepada kita taktik pertandingan yang baik untuk kita ikuti. Ini bukan berarti kita dapat melakukan apa saja yang kita mau tanpa tertimpa masalah, melainkan bahwa Tuhan akan menolong kita melihat apa yang bisa kita perbaiki, memampukan kita untuk berubah, dan menjadikan kita sebagai pribadi yang dikehendaki-Nya. Apa pun yang terjadi, kita tahu Yesus sudah memenangi pertandingan itu. Dia telah menjadikan kita bagian dari keluarga Tuhan dan Dia pula yang akan menyambut kita masuk ke rumah-Nya saat kita menutup mata kelak.

“Waktu menonton United melawan Liverpool, saya kaget melihat Sheasy (John O’Shea) mencetak gol, lalu saya mencoba meneleponnya. Tiba-tiba saya sadar kalau John masih main di lapangan waktu itu.” 

David Beckham (tentang gol John O’Shea yang membawa Manchester United menang 1-0 atas Liverpool di tahun 2007)

Untuk Direnungkan

Pernahkah kamu bergumul untuk melepaskan egomu dan meminta maaf kepada orang yang kamu sakiti? Bagaimana Tuhan menolongmu menghadapi masa-masa sulit tersebut?

Bagikan perenunganmu di kolom komentar di bawah untuk menguatkan sobat-sobat muda lainnya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Renungan Khusus, Renungan Piala Dunia, SaTe Kamu

3 Komentar Kamu

  • Sebagai korban bullying. Ini cukup menyakitkan. Kdrt dan bullying serta pelecehan kata2 selama bertahun2. Membuat saya susah mengampuni dan menerima kasih Allah. Hal yang sering x saya tanyakan adalah. Jika Allah ada di situasi saya. Mengapa Ia tidak menolong saya untuk lepas dri situasi pemukulan dan pelecehan seks. Ohya. Mengampuni sesuatu banget deh.
    Tetapi kepahitan membuat saya salah jalan. Saya salah berpacaran. Salah pergaulan. Salah pemikiran. Salah konsep. Kesepian dan mengasihani diri. Hingga suatu hari. Saya mulai bosan dengan semua yang salah. Merasa hati kotor dan ingin kembali pada Tuhan. Melalui kejadian sakit dan harus di operasi. Membuat saya sadar akan pentingnya hidup sebelum mati. Di sana saya serahkan diri pada Kristus dan belajar alkitab setiap saat. Di sanalah saya bertemu Kristus yang memulihkan ku setiap hari. Amin

  • oh ya comment ya ah nothing lah any. time is better to make comment ok

Bagikan Komentar Kamu!