Pelajaran Berharga di Balik Perceraian Kedua Orang Tuaku

Info

Oleh Andrew Koay
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Glory Of My Parents’ Divorce

Ada dua memori dari masa kecilku yang menentukan apa makna sebuah keluarga buatku. Memori pertama adalah aku sebagai balita tengah berlari ke bangsal rumah sakit bersama dengan ayahku. Ibuku baru saja melahirkan adik lelakiku, dan aku berteriak penuh semangat, “Di mana adikku?” Lalu aku melihatnya terbuai dalam pelukan ibuku.

Memori kedua adalah aku sebagai anak berusia 9 tahun sedang berjalan ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur kedua orang tuaku. Sebelum berangkat sekolah aku memang terbiasa mandi di sana. Tapi, saat itu aku mendengar ibuku mengatakan pada ayahku kalau dia ingin pindah dan bercerai.

Kedua memori itu saling berlawanan dalam hidupku. Memori pertama menggambarkan suatu waktu di mana keluargaku sedang bersama, ketika kedua orang tuaku berbahagia, ketika adikku sedang lucu-lucunya dan belum menyebalkan. Tapi, paling utama, semua itu menggambarkan suatu waktu ketika segalanya tampak sempurna. Memori kedua menggambarkan suatu waktu ketika kehidupanku seolah dibalik, ketika waktu-waktu kebersamaan kami ditandai dengan teriakan, dan ketika aku merasa semakin terisolasi dari keluargaku.

Perceraian di hari-hari ini seringkali dianggap biasa; kita sering melihat bagaimana para selebriti bergonta-ganti pasangan seperti layaknya tren pakaian. Statistik menunjukkan bahwa satu dari tiga pernikahan di Australia berakhir dengan perceraian. Kita sepertinya semakin terbiasa melihat pernikahan yang gagal.

Namun, pada kenyataannya, bagi keluarga yang terlibat di dalamnya, perceraian adalah proses yang panjang dan penuh penderitaan.

Sebagai seorang anak, salah satu hal terberat yang harus kuhadapi dengan perceraian kedua orang tuaku adalah bagaimana aku harus bersikap dalam keluarga. Aku jadi orang yang suka melihat ke bawah dan berjalan lunglai di momen-momen canggung saat kedua orang tuaku berada di tempat yang sama. Aku belajar untuk menghilangkan komentar-komentar negatif yang mereka buat tentang satu sama lain. Dan ketika masing-masing mereka menikah kembali, aku belajar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang ibu tiri atau ayah tiri baruku. Singkatnya, aku benci hal ini.

Selama periode waktu yang panjang dalam hidupku, aku benci berada dekat dengan keluargaku, karena itu selalu mengingatkanku akan segala sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Aku akhirnya meninggalkan rumah dan tinggal bersama kakek dan nenekku, sementara adikku tinggal bersama ibuku. Kami jarang saling bertemu kecuali di masa-masa liburan. Dan, kalaupun bertemu, yang paling teringat dalam memoriku hanyalah perkelahian dan adu pendapat. Di luar rumah, perilakuku memburuk ketika aku mulai bolos sekolah dan membuat frustrasi orang-orang di sekelilingku.

Perceraian kedua orang tuaku adalah salah satu hal tersulit yang harus kulalui. Perceraian itu jadi masa-masa yang menentukan dalam hidupku dan juga memberiku banyak kenangan pahit. Lima belas tahun setelahnya, peristiwa itu masih dapat kurasakan, seakan itu semua baru saja terjadi.

Namun, belakangan ini sebuah studi Alkitab tentang Kitab Roma yang aku lakukan di kampusku membuka pikiranku kepada fakta yang mengejutkan. Ada suatu kebenaran: bahwa tidak ada apa pun dalam kehidupan ini yang berjalan sebagaimana mestinya. Rasul Paulus dalam Roma 1:18 menjelaskan bahwa kita hidup dalam dunia di mana setiap kita bersalah karena kita menindas kebenaran dengan kelaliman. Hasilnya adalah dunia yang rusak, putus asa, dan berdosa. Terlepas dari gambaran ideal kita akan keluarga, sesungguhnya keluarga kita pun adalah bagian dari dunia ini. Setiap keluarga, entah itu bercerai atau tidak, dibentuk dari orang-orang yang rusak dan berdosa. Kerusakan inilah yang berlanjut ke segala hal lainnya yang kita alami di dunia. Kehidupan di luar kekekalan itu penuh dengan kekecewaan dan kepedihan.

Jadi, bagaimana selanjutnya? Untuk satu hal, cara pandangku tentang suatu relasi telah berubah. Aku memandang relasi dengan lebih realistis tapi juga lebih memaafkan kegagalan orang lain. Ini juga mendorongku untuk lebih berfokus kepada Injil dalam setiap interaksiku dengan orang lain karena aku tahu bahwa satu-satunya solusi dari kehidupan kita yang berdosa hanya ditemukan dalam Yesus. Semua hal ini menolongku untuk menumbuhkan kasihku kepada keluargaku. Terlepas dari segala kekurangan keluargaku, sekarang aku bisa menghargai waktu-waktu bersama yang kami miliki. Keluargaku masihlah jauh dari sempurna, tapi interaksi-interaksi yang dulu membuatku tertekan sekarang jadi satu dorongan buatku berdoa untuk keselamatan keluargaku.

Pada akhirnya, kebenaran ini membuatku merindukan akan bumi yang baru, janji yang Allah telah beri di mana tidak ada rasa sakit atau pun kesedihan di sana. Janji inilah yang mengingatkan kita akan pengajaran Paulus dalam Roma 5:3-5 untuk bermegah dalam penderitaan kita, karena itulah yang menuntun kita kepada harapan; kepedihan hidup ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada dunia ini, melainkan untuk membuat kita bersiap akan hari di mana Tuhan akan membawa kita kepada bumi yang baru.

Kita dapat yakin bahwa Allah akan melakukan ini, seperti yang dikatakan dalam Roma 5:6-10, karena Kristus. Kematian-Nya bagi kita di kayu salib telah membenarkan kita dan memberi kita kepastian akan keselamatan.

Jadi, jika dulu aku selalu menghindari kenyataan bahwa sesungguhnya segala sesuatu tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, hari ini aku belajar untuk menerima kenyataan itu. Sesulit apapun, pengalaman karena perceraian kedua orang tuaku adalah satu hal di mana aku bermegah sembari aku menanti bumi yang baru. Inilah yang memberiku kesempatan untuk berbicara tentang Injil dan janji kehidupan kekal. Sekarang, aku berusaha hidup untuk menyiapkan kehidupan selanjutnya dan mengingatkan yang lain untuk melakukan yang sama, karena kehidupan di kekekalan itulah yang penting. Aku belajar lebih menghargai salib Kristus, sebab itulah yang memberiku kepastian bahwa kelak aku akan berada di bumi yang baru. Lima belas tahun telah berlalu, firman-Nya dari Wahyu 21:1-4 terus tumbuh dalam hatiku:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.

Baca Juga:

Saat Aku Tak Merasa Puas dengan Kehidupanku

Sejujurnya aku malu untuk mengakui kalau aku masih bergumul dengan ketidakpuasan. Terlepas dari segala hal baik yang mengisi hidupku, ada masa-masa ketika semuanya itu terasa tidak cukup dan pikiran-pikiran penuh kekhawatiran memenuhi benakku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Keluargaku: Berjalan Bersama Melewati Berbagai Musim Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!