Menyadari Ketidaksempurnaan

Info

Rabu, 25 Juli 2018

Menyadari Ketidaksempurnaan

Baca: Efesus 3:8-19

3:8 Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,

3:9 dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu,

3:10 supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,

3:11 sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

3:12 Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.

3:13 Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,

3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.

3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,

3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,

3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu. —Efesus 3:16

Menyadari Ketidaksempurnaan

Seorang dosen di kampus memberi saya nasihat yang bijak setelah melihat sifat perfeksionis membuat saya sering menunda-nunda. “Jangan biarkan kesempurnaan mematikan apa yang baik,” katanya. Ia menjelaskan bahwa usaha menampilkan sesuatu yang sempurna bisa menghalangi risiko-risiko yang sebenarnya diperlukan seseorang untuk bertumbuh. Dengan menerima kenyataan bahwa pekerjaan saya tidak akan pernah sempurna, saya justru memperoleh kebebasan untuk terus bertumbuh.

Rasul Paulus memberi kita alasan yang lebih penting untuk berhenti mengupayakan sendiri kesempurnaan diri: kita menjadi tidak sadar bahwa kita membutuhkan Kristus.

Paulus pernah mengalami sendiri kebenaran tersebut. Setelah bertahun-tahun berusaha menaati Hukum Taurat secara sempurna, segalanya berubah total ketika ia bertemu dengan Yesus Kristus (Gal. 1:11-16). Paulus menyadari bahwa jika usahanya sendiri cukup untuk menjadikannya utuh dan benar di hadapan Allah, “maka sia-sialah kematian Kristus” (2:21). Hanya dengan berhenti mengandalkan diri sendirilah, ia dapat mengalami Kristus hidup di dalam dirinya (ay.20). Hanya dalam ketidaksempurnaannya, ia bisa mengalami kuasa Allah yang sempurna.

Itu tidak berarti kita tidak perlu melawan dosa (ay.17); melainkan bahwa kita memang harus berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk dapat bertumbuh secara rohani (ay.20).

Dalam hidup ini, kita akan selalu berada dalam proses. Namun, saat dengan rendah hati kita menyadari kebutuhan kita akan Yesus, satu-satunya Pribadi yang sempurna, Dia akan berdiam di dalam hati kita (Ef. 3:17). Dengan berakar di dalam Dia, kita bebas bertumbuh dalam kasih yang “melampaui segala pengetahuan” (ay.19). —Monica Brands

Tuhan, kami sering kehilangan sukacita dan kemerdekaan hidup bersama-Mu karena kami terus mengandalkan diri sendiri. Tolonglah kami untuk mengandalkan-Mu saja.

Kita bebas bertumbuh dalam kasih Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 37-39; Kisah Para Rasul 26

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!