Masa Depanmu Tidak Ditentukan oleh Keadaanmu

Info

Oleh Timothy Lee, Taiwan
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 输在起跑线!那又如何?(有声中文)

Banyak orang percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan, seseorang harus lebih unggul sebelum pertandingan dimulai. Artinya, peluangmu untuk “sukses” itu ditentukan oleh latar belakang keluargamu. Kalau kamu berasal dari keluarga yang beruntung, kamu punya peluang lebih besar untuk mencapai kesuksesan.

Aku berasal dari keluarga yang rumit. Ayahku adalah generasi ketiga dari sebuah kelompok kriminal, dan ibuku adalah seorang pecandu narkoba. Usia mereka masih sangat muda, dan segera setelah aku lahir, mereka memberikanku kepada orang lain untuk diadopsi.

Narkoba yang dikonsumsi ibuku selama dia hamil membuatku menderita banyak masalah kesehatan sejak aku lahir, salah satunya adalah ginjalku yang meradang saat aku baru berusia setahun. Karena itu, aku menghabiskan banyak waktuku di rumah sakit.

Di titik ini, mungkin kamu berpikir bahwa hidup anak ini memang ditakdirkan penuh tragedi. Namun, oleh kasih karunia Allah, mukjizat terjadi padaku. Sebuah keluarga Kristen yang mengetahui keadaanku memutuskan untuk mengadopsiku. Mereka memberi kesempatan kepada anak yang lemah dan sakit ini untuk menikmati masa kecil yang baik.

Bermula dari ketidakberuntungan

Aku pun memulai lembaran baru dalam hidupku. Tapi, aku segera menyadari bahwa “titik awal”ku bukanlah saat aku dilahirkan, tapi ketika aku masih berada dalam kandungan ibuku. Sekalipun lingkungan baruku menolongku bertumbuh secara pribadi, sesungguhnya masalah kesehatanku tidak berkurang. Sejak usia mudaku, aku bergantung pada penggunaan steroid (hormon untuk menjaga keseimbangan air dan mineral dalam tubuh) secara teratur untuk menangani penyakit ginjalku.

Selain itu, aku pun termasuk anak yang hiperaktif. Aku sering berlari-lari dan mendapat masalah. Walaupun keluargaku menghabiskan banyak uang dan waktu untuk menolongku, aku tidak bisa duduk diam dan belajar. Orang-orang dewasa di keluargaku jadi frustrasi. Tidak ada seorang pun yang berharap banyak untuk masa depanku.

Sebuah titik balik

Ketika aku berumur 13 tahun, aku mengalami masalah lain dengan ginjalku, dan ini adalah kondisi paling buruk yang pernah kualami. Perutku bengkak dan aku tidak bisa buang air kecil. Tubuhku pun terus kehilangan protein. Bahkan setelah sebulan aku dirawat di rumah sakit, para dokter tidak dapat menyembuhkanku. Mereka hanya merawatku dengan meningkatkan dosis steroidku. Dan, karena terus kehilangan protein, aku harus menjalani perawatan lain untuk mempertahankan kadar protein dalam tubuhku.

Ketika keadaanku sepertinya tidak ada harapan lagi, keluargaku membawa seorang pendeta dari gereja kami untuk mendoakanku. Keesokan harinya, aku mulai sembuh secara ajaib. Aku bisa buang air kecil secara natural, dan seminggu kemudian aku bisa keluar dari rumah sakit.

Setelah menjalani masa pemulihan selama dua tahun, dokter memberitahuku bahwa aku tidak perlu lagi menggunakan steorid, dan risiko penyakitku untuk kambuh kembali sangatlah rendah. Para dokter itu tidak pernah menemukan apa alasan di balik kesembuhanku yang tiba-tiba dan cepat, tapi aku ingat seorang perawat berkata kepadaku saat itu, “Tuhanmu telah menyelamatkanmu!”

Rencana Tuhan itu berbeda untuk semua orang; tidak semua orang akan melalui pengalaman yang dramatis sepertiku. Tetapi, pengalaman inilah yang menjadi titik balik dalam hidupku. Sejak hari itu, aku berubah. Aku mulai berdoa, mempelajari Alkitab, dan pergi ke gereja. Aku juga mulai mengubah karakterku, tidak lagi tergesa-gesa seperti dahulu. Tak lama kemudian, aku dibaptis sebagai orang Kristen dan mulai melayani di gereja. Tuhan berkata kepadaku bahwa hidupku adalah milik-Nya, dan karena Dia telah menebusku, maka aku melayani-Nya.

Ketika aku berumur 19 tahun, aku diterima di sebuah universitas yang baik di Hong Kong, dan bahkan melayani sebagai ketua himpunan mahasiswa. Meskipun saat aku kecil aku dipandang rendah, sekarang aku dikenal sebagai mahasiswa yang baik dan menjadi teladan. Perubahan ini semuanya adalah pekerjaan Tuhan.

Meskipun semua prestasi ini memberiku kedudukan yang lebih baik di mata dunia, bagiku ukuran kesuksesan yang paling penting bukanlah dipuji oleh manusia, melainkan menjadi kepunyaan kerajaan Allah—diakui oleh Allah sebagai anak-Nya dan ditopang oleh kasih-Nya yang tidak pernah berkesudahan.

Mengakhiri pertandingan dengan baik
Dulu aku adalah seorang yang tidak punya harapan dan masa depan. Aku bertahan hidup hanya karena obat-obatan. Namun, Tuhan tidak hanya memberikanku keluarga yang mau merawatku, menyembuhkanku secara fisik dan spiritual, tetapi juga memberiku hikmat dan kebaikan di mata manusia. Perubahan hidupku adalah saksi dari kebaikan Tuhan yang juga kita baca dalam Alkitab.

Teman, mungkin saat ini kamu merasa terbebani karena keadaanmu: Mengapa aku lebih buruk daripada yang lain dalam banyak hal? Mengapa aku tidak terlahir dengan kaya raya? Bagaimana aku bisa mewujudkan segala keinginanku kalau aku memulainya dengan sesuatu yang buruk?

Seiring aku bertumbuh dewasa, aku juga sering berkeluh kesah seperti itu. Namun, ada bacaan Alkitab yang menggerakkan dan mengingatkanku untuk tidak mengeluh tentang keadaanku:

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1 Korintus 1:27-29)

Setiap kali aku membaca ayat ini, hatiku dipenuhi rasa syukur—aku pernah dianggap rendah oleh dunia, tetapi Tuhan telah menebus hidupku melalui kasih karunia-Nya. Bahkan sejak aku berada dalam rahim ibuku, Tuhan menjagaku. Dia punya rencana dan tujuan untuk hidupku.

Jadi, ketika kita mengandalkan Tuhan, meskipun kita memulai pertandingan hidup ini dalam keadaan yang buruk, kita dapat mengakhirinya dengan baik. Tapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak akan memiliki kesulitan dalam kehidupan kita. Jika hidupmu, seperti hidupku, dipenuhi kehancuran sejak awal dan kamu tidak ingin terus jatuh dalam pusaran tragedi, aku punya kabar baik untukmu—Tuhan dapat menebus hidupmu dan memenuhinya dengan harapan.

Jika ini adalah kerinduan hatimu, aku mengundangmu untuk berdoa seperti ini:

Tuhan,

Aku mengakui bahwa aku tidak dapat sepenuhnya mengontrol hidupku. Aku tidak dapat mengubah keadaan seperti latar belakang keluargaku. Tetapi aku tahu bahwa Engkaulah Tuhan yang sanggup menebus segala sesuatu.

Oleh karena itu, aku dengan rela menerima Engkau sebagai Tuhan dalam hidupku. Izinkan aku untuk mengalami perubahan yang berasal dari percaya kepada-Mu. Aku percaya, Engkau dapat menuntunku di jalan yang berbeda, karena Engkaulah pencipta yang memberikan makna dalam hidupku.

Tolonglah aku, agar aku tidak kehilangan diriku di tengah pengertian sukses menurut dunia dan pengakuan dari orang lain. Biarlah hidupku menjadi berharga dan bermakna karena persekutuan dengan-Mu. Amin!

Baca Juga:

Aku Menemukan Kepuasan di Tengah Keterbatasan Keuangan

Penghasilanku dan suamiku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Kadang kami merasa Tuhan tidak adil. Namun, seiring aku semakin mengenal-Nya, aku sadar bahwa harta terbesar yang seharusnya kumiliki bukanlah uang.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Keluargaku: Berjalan Bersama Melewati Berbagai Musim Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

26 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!