Apa yang Tidak Kuduga, Itu yang Tuhan Sediakan

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku,” demikian bunyi ayat pertama dari Mazmur 23.

Aku suka sekali membaca Mazmur itu dan mengamini bahwa Tuhan selalu memelihara, layaknya seorang gembala yang menjaga domba-dombanya. Namun, ketika keadaan hidupku sedang tidak menentu, aku pun khawatir dan meragukan pemeliharaan-Nya.

Peristiwa itu terjadi di hari Minggu, 4 Desember 2016. Studiku selama empat tahun di Yogyakarta telah usai dan tibalah saatnya bagiku untuk memulai lembaran baru dengan bekerja di ibu kota. Waktu itu uang di dompetku cuma ada seratus ribu, jumlah yang mepet untuk perjalanan merantau ke Jakarta. Setibanya nanti di Stasiun Pasar Senen, aku harus mencari angkutan lain ke kos yang jaraknya lumayan jauh. Karena takut uangnya tidak cukup, jadi aku berniat tidak membeli makanan apa pun di dalam kereta. Aku cuma membawa roti yang kubeli dari minimarket di stasiun.

“Tuhan, mohon perlindungan dan perkenanan-Mu buat perjalanan ini,” gumamku dalam hati.

Kereta pun melaju meninggalkan Kota Yogyakarta. Di sebelahku duduk seorang ibu. Dia membawa sebuah koper besar dan tampak kesulitan untuk menaikkannya ke tempat bagasi.

“Mari bu, saya bantu naikkan,” aku menawarkan bantuan kepadanya.

Ibu itu mengangguk. Kuangkat koper itu dan kuletakkan di tempatnya. Selama beberapa menit kami pun mengobrol lalu asyik dengan kegiatan masing-masing. Saat kereta tiba di Purwokerto, perutku mulai lapar. Roti yang kubeli di minimarket ternyata tidak cukup untuk membuatku tetap kenyang sampai tiba di tujuan. Masih ada 5 jam lagi sebelum aku sampai di Jakarta. Supaya tidak terlalu kepikiran dengan rasa lapar, kusandarkan kepalaku di jendela dan sejurus kemudian aku pun tertidur.

Namun, tak lama berselang, ada yang membangunkanku. “Dek, ini makan siang. Ayo makan,” kata ibu yang duduk di sebelahku seraya menyodorkan sekotak nasi.

Duh bu, makasih. Ndak usah. Malah merepotkan,” aku menolaknya dengan halus karena sungkan.

Nggak apa-apa. Ini makan. Saya sudah beli, tidak bisa dikembalikan lagi loh hehehe. Kita makan bareng ya.”

Aku tertegun. Kuucapkan terima kasih kepada ibu itu yang telah merogoh koceknya untuk membelikanku makanan. Kata ibu itu, saat dia melihatku, dia teringat akan putranya yang kuliah di luar kota, jadi dia pun membelikanku sekotak nasi lengkap dengan lauknya. Sepanjang sisa perjalanan, aku melayangkan pandanganku ke luar jendela dan merenung.

Perjalanan di atas kereta hari itu adalah perjalanan yang sendu, tidak ada sukacita sama sekali di hatiku meski aku sangat suka traveling naik kereta api. Aku khawatir kota Jakarta yang kutuju itu tidak akan membuatku betah. Aku bimbang apakah pekerjaan yang akan kugeluti nanti itu apakah sungguh panggilanku atau tidak. Aku merasa hari-hari di depanku akan suram, walau seharusnya aku mengucap syukur karena aku sudah mendapatkan kepastian pekerjaan. Aku pun ragu apakah uang yang kubawa di dompet nanti cukup untuk mengantarku tiba di tujuan akhir atau tidak. Pokoknya hari itu hidupku semuanya serba bimbang dan takut. Mazmur 23 yang kuingat pun tidak membantuku untuk percaya bahwa Tuhan memeliharaku.

Dalam ketakutan dan kekhawatiran itu, aku tahu bahwa uang yang kubawa cuma sedikit. Jadi, aku harus berhemat dengan tidak membeli makanan berat di kereta. Tapi… aku lupa bahwa Tuhan adalah sungguh gembala yang baik. Tuhan selalu peduli dan tidak ada setitik detail pun kehidupanku yang luput dari perhatian-Nya.

Tuhan, yang adalah Penciptaku tahu betul apa yang kubutuhkan. Dia tahu bahwa jika tidak makan, aku akan lapar. Selapis roti tidaklah mengenyangkan untuk perjalanan selama 9 jam. Maka, melalui seorang ibu yang duduk di sebelahku, Dia memberiku sekotak makanan, yang mana ketika aku memakannya, aku secara tidak langsung ditegur bahwa Tuhan memeliharaku.

Wow. Aku terdiam. Aku sadar bahwa pemeliharaan Tuhan itu terjadi setiap waktu. Hanya, seringkali aku lupa atau tidak mau tahu dengan pemeliharaan itu. Aku lebih memilih untuk fokus dengan kekhawatiranku hingga aku lupa untuk percaya sepenuhnya pada-Nya.

Sekotak nasi itu hanyalah sekelumit dari sekian banyak hal tak terduga yang Tuhan berikan kepadaku. Aku hanya berharap selapis roti dapat membuatku kenyang, tidak lebih. Tapi, Tuhan tahu bahwa itu tidak cukup buatku, hingga Dia pun memberiku yang lain, yang tidak kuduga sebelumnya.

Lewat sekotak nasi itu pula Dia mengingatkanku untuk tidak khawatir akan hari depan, akan apa yang hendak aku makan, minum, atau pakai. “Percaya saja,” bisik-Nya di hatiku. Dan, kepercayaan itulah yang akhirnya menuntunku untuk melangkah dengan pasti hari demi harinya. Sampai hari ini, aku sudah hampir dua tahun pindah dan bekerja di Jakarta. Kota yang awalnya kudatangi dengan keraguan, kini menjadi kota yang kudiami dengan semangat untuk berkarya.

Tuhan adalah Pencipta alam semesta. Aku dan kamu Dia ciptakan secara sempurna, tak ada satu pun detail yang terluput dari perhatian-Nya. Tuhan tidak pernah berbuat kesalahan, meski seringkali aku khawatir dan protes atas apa yang sudah Dia berikan padaku. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita dan akan memberikan-Nya pada waktu-Nya. Tugas kita adalah percaya, lalu nikmati perjalanan itu bersama-Nya.

Bagaimana denganmu? Adakah pengalaman serupa ketika Tuhan memeliharamu?

* * *

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”

Matius 6:25

Baca Juga:

Setelah Divonis Sakit, Aku Belajar Merawat Tubuhku

Sampai di titik ini aku merasa ditegur hebat. Melalui dua penyakit, Tuhan seolah mengingatkanku bahwa merawat tubuh asal-asalan itu bukanlah sesuatu yang berkenan kepada-Nya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Tuhan

22 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!