Menanti dengan Penuh Harap

Info

Selasa, 1 Mei 2018

Menanti dengan Penuh Harap

Baca: Mazmur 130:1-6

130:1 Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!

130:2 Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.

130:3 Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?

130:4 Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.

130:5 Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.

130:6 Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.

Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. —Mazmur 130:6

Menanti dengan Penuh Harap

Setiap hari May Day (1 Mei) di Oxford, Inggris, orang-orang sudah berkumpul sejak pagi-pagi buta untuk menyambut musim semi. Pada jam 6 pagi, Magdalen College Choir akan menyanyi dari atas Magdalen Tower. Ribuan orang menanti dengan penuh harap ketika kegelapan dihalau oleh fajar yang merekah diiringi lantunan lagu dan dentang lonceng.

Seperti para hadirin di Oxford, saya pun sering menanti. Saya menantikan jawaban atas doa atau petunjuk yang saya mohonkan kepada Allah. Walaupun saya tidak tahu pasti kapan persisnya penantian saya berakhir, saya belajar untuk menanti dengan penuh harap. Dalam Mazmur 130, pemazmur menuliskan kesedihan-nya yang mendalam saat menghadapi situasi yang sepekat malam. Di tengah-tengah masalahnya, ia memilih untuk percaya kepada Allah dan berjaga-jaga seperti pengawal yang bertugas untuk mengumumkan datangnya fajar. “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi” (ay.6).

Penantian yang penuh harap akan kesetiaan Allah dalam menghalau kegelapan itu telah memberikan pengharapan kepada pemazmur untuk tetap bertahan di tengah-tengah penderitaannya. Berdasarkan janji-janji Allah yang terdapat di sepanjang Kitab Suci, pengharapan itu memampukannya untuk terus menanti meskipun ia belum melihat cahaya matahari yang terbit.

Jika kamu merasa berada di tengah-tengah kegelapan malam, kuatkanlah hatimu. Fajar segera menyingsing, entah dalam kehidupan sekarang atau kelak di surga! Sementara itu, janganlah menyerah, tetapi teruslah berjaga-jaga untuk menantikan pembebasan dari Tuhan. Dia selamanya setia. —Lisa Samra

Ya Bapa, sinarilah kegelapan hidupku. Bukalah mataku untuk melihat karya-Mu dan percaya sepenuhnya kepada-Mu. Aku bersyukur karena Engkau setia.

Allah dapat dipercaya baik dalam terang maupun dalam kegelapan.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-Raja 10-11; Lukas 21:20-38

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

48 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!