Saat Kehidupan Menjelang Kesudahannya

Info

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 清明特輯 | 在生命的盡頭,誰可以拉住你的手(有聲中文)

Nenekku terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nafasnya terengah-engah dan sesekali dia mengerang karena merasa sakit dan tidak nyaman. Wajahnya yang keriput menunjukkan usianya yang tua.

Aku terduduk di sampingnya, tak sekalipun tatapanku lepas darinya. Dengan semua kekuatannya, Nenek membuka matanya dan menatap lurus ke arahku.

“Nenek lapar?” tanyaku. Nenek menjawabku dengan keheningan; dia tidak lagi punya kekuatan untuk berbicara.

Tiga minggu telah berlalu sejak Nenek pulang dari rumah sakit. Jika ditotal sejak hari pertama Nenek dirawat di rumah sakit, sudah 17 hari dia tidak memakan makanan keras apapun. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau dia akan menjadi sangat lemah.

Terlepas dari fakta bahwa Nenek telah berusia 92 tahun dan pernah memiliki riwayat penyakit jantung, kesehatannya selalu prima. Dia tidak butuh banyak pertolongan dalam kesehariannya; dia makan dan tidur teratur setiap hari, dia pun tampak lebih sehat dan muda jika dibandingkan dengan para lansia lainnya yang bahkan usianya lebih muda dari dia. Selain itu, dia juga selalu memiliki pandangan yang positif tentang kehidupan (tidak seperti teman-temannya) dan sering mengatakan kalau dia harus hidup dengan baik supaya bisa terus mengikuti perkembangan dunia sekarang.

Namun, saat ini dia terbaring sekarat untuk menghadapi masa-masa terakhir dalam hidupnya. Dia terlihat sangat kesakitan. Di balik pembawaanku yang tenang, perasaanku jadi campur aduk, dan aku pun bertanya: Bagaimana aku bisa menghibur Nenek dan membuatnya merasa sedikit lega di tengah situasi ini?

Aku dengan cepat menemukan jawabannya—tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berdoa.

Di titik ini, Nenek dengan lembut mengulurkan tangannya dan memegangku. Meski tangannya lemah, tapi terasa hangat. Aku berdoa di dalam hati: Tuhan, Engkau ada bersamanya. Tolong, berikanlah dia penghiburan dengan kehadiran-Mu. Hanya Engkau yang dapat memberinya penghiburan yang sejati… Setelah beberapa saat, Nenek sepertinya tertidur; wajahnya tampak damai. Perlahan-lahan aku melepaskan tanganku darinya dan berdoa supaya Tuhan sajalah yang memegang dan menguatkannya.

Ini adalah pengalaman pertamaku menyaksikan seseorang berjuang di momen terakhir kehidupannya. Kematian adalah peristiwa yang suatu saat nanti pasti akan kita alami, namun yang jadi pertanyaannya adalah: Siapakah yang akan menemani kita kelak di jalan yang panjang dan sepi ini?

Aku teringat akan sesuatu yang beberapa tahun lalu menegurku: Kita semua datang ke bumi ini sendirian dan suatu saat akan pergi dengan cara yang sama—sendirian. Meskipun terdengar pesimis, tapi itulah kenyataan yang harus benar-benar kita hadapi. Keluarga dan teman-teman kita hanya bisa menemani kita di saat-saat terakhir kita di bumi, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk menemani kita ke perjalanan setelah kematian.

Dan inilah yang membuat banyak orang putus asa. Kematian menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh banyak orang—pikiran bahwa kita harus menghadapi rasa takut yang paling dalam dan gelap itu sendirian!

Namun, puji Tuhan karena aku menemukan harapan di dalam Kristus. Karena Tuhan selalu beserta kita, tidak ada satu pun momen dalam hidup kita di mana kita sendirian. Tuhan ada bersama kita di gunung-gunung ataupun lembah-lembah kehidupan. Daud berkata dalam Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Dan, di atas segalanya, Yesus telah menang atas kematian, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:55, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Kita tidak lagi menghadapi ketidaktahuan dan keputusasaan setelah kita mati, tetapi kita beroleh kehidupan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Inilah yang menunjukkan besarnya kasih Allah bagi kita—Dia selalu bersama kita dan Dia ingin membawa kita kepada kehidupan yang baru.

Semakin aku berpikir tentang hal ini, semakin aku menyadari bahwa kita baru dapat mengerti kehadiran Allah sepenuhnya ketika hidup kita hampir berakhir, karena di titik inilah kita tidak dapat bergantung kepada siapapun dan apapun lagi selain Allah. Hanya di kesepian kita yang paling dalamlah kita bisa menemukan bahwa hanya Tuhanlah yang pasti dan Dialah batu perlindungan di mana kita dapat menempatkan kepercayaan kita.

Hanya Dia yang dapat memberikan kita penghiburan sejati dan pertolongan di masa-masa tergelap. Hanya Allah yang akan bersama dengan kita selamanya—semua hal lainnya hanyalah sementara dan akan berlalu.

Aku mengucap syukur pada Allah karena aku tidak pernah sendirian dalam menyelesaikan perjalananku di dunia ini. Jadi, selama waktu-waktuku hidup, aku mau hidup dengan kepercayaan penuh pada kasih setia-Nya dan menyandarkan hidupku pada-Nya, batu perlindunganku yang kokoh.

Ya Tuhan Yesus, peganglah tanganku erat-erat.

Baca Juga:

Tetap Beriman di Tengah Kecelakaan

Brakk! Kereta yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Suasana panik dan yang bisa kulakukan hanyalah tertunduk dan berdoa.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Allah: Perjalanan untuk Bertumbuh Semakin Mengenal-Nya, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

3 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!