Kesetiaan Total

Minggu, 11 Maret 2018

Kesetiaan Total

Baca: Mazmur 34:1-5

34:1 Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.

34:2 Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.

34:3 Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

34:4 Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!

34:5 Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! —Mazmur 34:4

Kesetiaan Total

Para penggemar olahraga yang sangat memuja tim favorit mereka biasanya tidak malu-malu menunjukkan kesetiaan mereka. Mereka memakai atribut dengan logo tim pujaan mereka, menulis komentar di media sosial tentang tim itu, atau membahas prestasi tim itu bersama penggemar lainnya. Saya sendiri termasuk di antara mereka. Kamu bisa melihatnya dari koleksi topi dan kaos Detroit Tigers yang saya miliki, serta isi pembicaraan saya dengan para penggemar tim pujaan saya tersebut.

Kesetiaan kita pada sebuah tim olahraga dapat mengingatkan kita bahwa kesetiaan sejati dan terbesar yang kita miliki haruslah kepada Tuhan kita. Saya terpikir tentang kesetiaan total seperti itu ketika membaca Mazmur 34. Dalam mazmur tersebut, Daud mengarahkan perhatian kita kepada Pribadi yang jauh lebih utama daripada segala sesuatu yang ada di bumi.

Daud berkata, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu” (ay.2), dan itu membuat kita berpikir tentang momen-momen dalam hidup ini ketika kita menjalaninya dengan sikap seolah-olah Allah bukanlah sumber kebenaran, terang, dan keselamatan kita. Daud berkata, “Puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku” (ay.2), dan kita teringat betapa seringnya kita lebih memuji apa yang ada di dunia ini daripada memuji-Nya. Daud berkata, “Karena Tuhan jiwaku bermegah” (ay.3), dan kita menyadari bahwa betapa seringnya kita menyombongkan keberhasilan-keberhasilan kita yang tidak seberapa daripada memegahkan segala hal yang telah Yesus lakukan untuk kita.

Tidaklah salah menikmati olahraga, hobi, dan keberhasilan kita. Akan tetapi, pujian tertinggi kita haruslah ditujukan hanya kepada Tuhan kita. “Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! (ay.4). —Dave Branon

Tuhan, tolonglah aku untuk selalu memuji-Mu dan bermegah di dalam-Mu. Tolonglah aku untuk selalu berfokus kepada-Mu.

Kasih yang sejati menuntut kesetiaan.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 14-16; Markus 12:28-44

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Tora Tobing

Bagikan Konten ini
37 replies
  1. Haris Situmeang
    Haris Situmeang says:

    Ajari kami Bapa untuk lebih mendekatkan diri dan lebih setia kepadaMu
    Amin
    Selamat hari minggu

  2. agusti lim
    agusti lim says:

    segala pujian, hormat, dan kemuliaan hanya bagi Allah, pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Aku hendak bermazmur bagiMu atas anugerah dan penyertaanMu yang sempurna di hidup kami. Kami mau setia kepadaMu seumur hidup kami.

  3. Nia berutu
    Nia berutu says:

    Thanks Lord for your heart. Hatimu ada bagi kami setiap waktu, apapun yang kami lakukan. Kadang kami lebih memegahkan diri dengan segala kenikmatan dunia, dgn melupakan suatu hal yang besar, bahwa apa yg kami miliki semata2 bukan utk kepentingan kami. Bahkan kami lebih memuja2 para artis2 kpop di korea sana yang bahkan tidak mengenal kami. Betapa hinanya kami ini Tuhan

  4. Flandy
    Flandy says:

    Pujian dan syukur hanya bagimu Tuhan kami, biarlah kami selalu datang memuji dan memuliakan akan kebesaranmu Tuhan. Amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *