Masalah dari Kecongkakan

Kamis, 8 Februari 2018

Masalah dari Kecongkakan

Baca: Amsal 16:16-22

16:16 Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.

16:17 Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya.

16:18 Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.

16:19 Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.

16:20 Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

16:21 Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.

16:22 Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya.

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. —Amsal 16:18

Masalah dari Kecongkakan

Orang yang berhasil meraih ketenaran atau reputasi yang luar biasa di masa hidupnya sering disebut sebagai “tokoh legendaris di zamannya”. Seorang teman yang pernah menjadi pemain bisbol profesional berkata bahwa ia bertemu banyak orang di dunia olahraga yang hanya menjadi “tokoh legendaris di pikirannya sendiri”. Kesombongan memang dapat menyimpangkan cara kita memandang diri kita sendiri, sedangkan kerendahan hati akan membuat kita memandang diri sendiri secara realistis.

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (16:18). Jika kita memandang diri sendiri melalui cermin yang mementingkan diri, kita akan melihat gambar diri yang menyimpang. Meninggikan diri sendiri akan membuat kita terjatuh dan hancur.

Penawar dari racun kesombongan adalah kerendahan hati sejati yang diberikan Allah. “Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak” (ay.19).

Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:26-28).

Memang tidak salah apabila kita menerima penghargaan atas prestasi dan kesuksesan kita. Tantangannya bagi kita adalah bagaimana kita tetap berfokus pada Pribadi yang memanggil kita untuk mengikut-Nya dengan berkata, “karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:29). —David C. McCasland

Tuhan Yesus, berilah kami kerendahan hati-Mu dalam interaksi kami dengan sesama hari ini. Kiranya kami memuliakan-Mu dalam segala perbuatan dan perkataan kami.

Kerendahan hati yang sejati berasal dari Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 4-5; Matius 24:29-51

Bagikan Konten ini
38 replies
  1. Doli Cihui
    Doli Cihui says:

    Terimakasih Tuhan Yesus Kristus.. KasihMu yg menghidupkan dan membahagiakan kami selamanya.. Amiiinn

  2. sinta sianipar
    sinta sianipar says:

    Terimakaaih TUHAN buat firman Mu pada hari ini. Terimakasih karena Engkau tetap mengingatkan kami agar kami hidup dengan rendah hati. Ajarlah kami agar dapat melakukan nya di dalam kehidupan kami sehari – hari. Amin

  3. agusti lim
    agusti lim says:

    semua yang ada di dunia ini milikMu, tak ada yang dapat kami sombongkan di dalam hidup ini. ajarkan kami, tentang kerendahan hati yang sejati, biarlah kami bermegah di dalamMu.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *