Ketika Sahabatku Mengecewakanku, 3 Perenungan Ini Menolongku untuk Mengampuninya

Oleh Glori Ayuni, Tangerang

Aku memiliki sahabat di kampus, namanya Dewi*. Persahabatan kami dimulai sejak semester pertama perkuliahan dimulai. Kami duduk di fakultas, program studi, dan kelas yang sama. Bahkan, kami pun tinggal di rumah kos yang sama.

Sebagai seorang dengan kepribadian plegmatis dominan, aku begitu bersyukur bisa bersahabat dengan Dewi yang tipe kepribadiannya sanguine. Jika sehari-harinya aku adalah orang yang cukup pendiam dan cuek, Dewi adalah orang yang selalu ceria dan juga peka terhadap keadaan sekitarnya. Dua kepribadian yang berbeda ini ternyata saling melengkapi dan membuat kami bersahabat erat.

Tapi, suatu hari Dewi menyakiti hatiku, dan sangat sulit buatku untuk memaafkannya.

Kisah ini bermula ketika charger ponselnya tertinggal di kelas. Saat itu, ponsel Dewi sedang dalam keadaan di-charge. Tapi, karena aku membutuhkan ponselnya untuk merekam sesuatu, aku pun mencabutnya dari charger. Setelah proses perekaman itu usai, kami pun pulang. Aku sama sekali tidak ingat dengan charger tersebut. Jika biasanya Dewi selalu mengecek kembali barang bawaannya, hari itu dia tidak melakukannya. Pada malam hari, dia mencari charger-nya dan bertanya padaku. Barulah saat itu aku sadar bahwa charger Dewi tertinggal di kelas.

Aku merasa bersalah, karena bagaimanapun juga, aku telah lalai dengan tidak memasukkan kembali charger Dewi ke dalam tasnya setelah selesai kugunakan. Aku langsung meminta maaf padanya, tapi dia tidak merespons permintaan maafku. Kemudian, ketika dia keluar kamar, aku melihat bahwa baterai ponselnya sudah habis. Jadi, aku berinisiatif untuk men-charge ponselnya. Tapi, alangkah terkejutnya aku karena ternyata dia melepaskan charger ponsel itu. Lalu, keesokan paginya dia memilih meminjam charger dari teman kos kami yang lain. Padahal, aku yang tinggal sekamar dengannya juga memiliki charger dengan merek ponsel yang sama. Hari itu perasaanku jadi campur aduk. Jika awalnya aku diliputi rasa bersalah, sekarang aku jadi marah, sedih, juga sakit hati karena merasa niat baikku ditolak. Aku tidak terima dengan sikapnya. Jadi, aku pun tidak menegurnya selama satu minggu.

Saat itu, aku masih merasa bahwa dirikulah yang benar. Jadi, aku sungguh tidak mau menegur Dewi terlebih dulu sampai dia sendiri yang memulainya duluan. Tapi, saling berdiam diri ini malah membuatku makin merasa tidak nyaman dan jadi membenci Dewi. Aku bertanya dalam hati: apakah caraku merespons masalah ini adalah cara yang berkenan kepada Allah? Sebagai orang Kristen, aku tahu betul bahwa Alkitab mengatakan kepadaku untuk mengampuni orang yang bersalah kepadaku. Tapi, sulit bagiku untuk melakukannya di kala aku masih memelihara rasa egois dalam diriku.

Saat itu aku pun merenung, mencoba merefleksikan kembali apakah cara-cara yang kulakukan dalam menyikapi masalah ini berkenan kepada Allah atau tidak. Dalam perenungan itu ada tiga hal yang sangat menegurku.

1. Aku merenungkan bahwa Allah mengampuni kita terlebih dahulu, bahkan ketika kita tidak sadar akan dosa-dosa yang kita lakukan

Aku memiliki kebiasaan mencatat isi khotbah yang kudengar saat ibadah. Isi khotbah itu kutulis di sebuah catatan khusus dan aku terbiasa untuk selalu membacanya kembali. Saat aku masih bergumul dengan rasa sakit hatiku kepada Dewi, kubuka catatanku dan di sana aku menemukan sebuah catatan tentang kasih Allah kepada manusia.

Di dalam Roma 8:32, Rasul Paulus menuliskan demikian: “Ia yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua…” Ayat ini menyentakku. Alih-alih membenci dan mengganjar hukuman kepada manusia yang memberontak kepada-Nya, sebaliknya Allah malah memilih untuk mengasihi manusia. Allah telah memberikan yang terbaik untuk mengasihi manusia, yaitu dengan kelahiran dan kematian Yesus Kristus di kayu salib.

Allah tidak melakukan kesalahan apapun, tapi alih-alih membiarkan para manusia binasa dalam dosa, Allah sendirilah yang memulai pengampunan itu, bahkan ketika kita masih terbuai di dalam dosa-dosa yang kita lakukan.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

Melalui kebenaran ini, Tuhan menegurku. “Kalau Allah saja memilih untuk mengasihi manusia, lalu mengapa aku yang sudah diselamatkan oleh Yesus malah memilih untuk tidak mengasihi sesamaku?”

2. Aku merenungkan bahwa ketika Yesus dihina dan dianiaya, Dia tidak membalasnya dengan sesuatu yang jahat

Ketika Yesus lahir dan melayani di dunia, kehidupan-Nya tidak terluput dari berbagai penderitaan. Sebagai bayi mungil, Dia dan keluarga-Nya harus melarikan diri untuk menghindari pembunuhan yang dilakukan oleh raja Herodes. Tak berhenti sampai di situ, sepanjang pelayanan Yesus di dunia, Dia banyak sekali dihina dan diejek. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak suka kepada Yesus dan terus mencari-cari kesalahan-Nya hingga akhirnya Yesus pun dijatuhi hukuman mati dengan cara disiksa dan disalib.

Tapi, dari seluruh perlakuan jahat yang diterima-Nya, adakah kita menemukan Yesus membalasnya dengan sesuatu yang jahat? Tidak sama sekali. Alih-alih membalas setiap ejekan dan hinaan yang diterima-Nya dengan kata-kata kasar, atau bahkan membela diri, Yesus malah melepaskan pengampunan untuk mereka:

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Jika Yesus yang mendapatkan perlakuan sangat buruk pun mampu mengampuni, lantas mengapa begitu sulit buatku untuk mengampuni orang lain?

3. Aku merenungkan bahwa panggilan hidup orang Kristen adalah menjadi sempurna seperti Bapa di surga

Sebagai makhluk yang tidak sempurna, kita sering menemui kesulitan dalam berhubungan dengan sesama. Ada kalanya kesalahpahaman terjadi. Ada kalanya konflik pun tak terhindarkan. Namun, Tuhan Yesus telah menunjukkan teladan yang sempurna kepada kita. Dan, sebagai murid-murid-Nya, kita pun diminta untuk menjadi sempurna, seperti apa yang Yesus sendiri katakan:

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).

Teladan kasih yang Yesus berikan itu dilakukan demi kita. Karena kasih-Nya, Yesus datang ke dunia dan lahir sebagai seorang bayi mungil. Karena kasih, Dia rela dicecar dan diperlakukan dengan hina oleh para ahli Taurat, prajurit, dan orang banyak. Karena kasih-Nya pula, Dia menderita dan mati untuk menjadi korban yang sempurna, memulihkan relasi kita dengan Bapa. Karena kasih-Nya, kita pun beroleh hidup.

Ketika aku mengingat tentang apa yang sudah Yesus lakukan untukku, akhirnya aku pun menjadi malu dengan diriku sendiri. Aku tahu bahwa Yesus telah mengajariku untuk mengampuni, tapi karena rasa egoisku, aku malah tidak mau mengampuni orang lain, bahkan menuntut orang lain dululah yang harus berdamai denganku. Di akhir perenungan ini, aku bertanya pada diriku sendiri: “Untuk apa selama ini aku tahu kebenaran bahwa menjadi seorang Kristen berarti adalah menjadi murid Kristus, tetapi aku sendiri tidak hidup sebagai murid?

Akhirnya, dengan pertolongan Roh Kudus, aku dimampukan untuk mengampuni Dewi. Di dalam doaku, aku berkomitmen untuk tidak lagi membenci Dewi. Aku ingin mengikis rasa egois dalam diriku. Dan, seperti Yesus yang telah mengasihiku, aku mau kembali belajar untuk mengasihi orang lain.

Setelah berdoa, aku pun memberanikan diri untuk memulai rekonsiliasi dengan Dewi. Karena saat itu Dewi sedang tidak berada di kos, dan keesokan harinya pun aku tidak yakin apabila dia akan datang ke kampus, jadi aku mengiriminya sebuah chat. Di dalam chat itu, aku menuturkan alasan di balik aku tidak menyapanya selama satu minggu. Puji Tuhan, Dewi menerima permintaan maafku. Bahkan, dia juga turut meminta maaf atas perlakuannya yang membuatku salah paham dan sakit hati.

Hari itu, kami pun berdamai dan hatiku merasa tenang. Sekarang, kami bisa saling menyapa kembali dan bersahabat seperti biasanya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Saat Tuhan Berkata Wanita Itu Bukan Untukku

Apa yang aku anggap terbaik bagiku, belum tentu memang yang terbaik dari Tuhan. Selama 5 tahun lebih aku yakin bahwa dia adalah orang yang paling tepat untuk jadi pasanganku. Tapi, Tuhan berkata lain. Ketika dia yang kuperjuangkan akhirnya memilih meninggalkanku, di sinilah Tuhan mengajarku untuk memaknai hidupku dari perspektif yang berbeda.

Bagikan Konten Ini
7 replies
  1. Thia A K
    Thia A K says:

    Artikel yang sangat menegur saya,terutama saat saya selalu ingat akan fitnahan dari teman saya.Semoga saya juga dimampukan dalam mengampuni mereka,Amin

  2. katriel
    katriel says:

    saya baru saja melakukan hal yang sama yang dilakukan penulis.. saya berharap teman saya mau mengerti, tapi mungkin kita memang butuh waktu sendiri

  3. Evita
    Evita says:

    Pas kali hari ini terjadi.
    Kawanku si gatris..
    Buat palak aja kerjanya..
    Kudiami lah..
    Terakhirnya ga cakapan kami padahal habis kelompok kecil kami tadi..
    Ntah apa apa..
    Tapi ya udah lah..
    Minta maaf lah aku tis..
    Sama sama dewasa lah kita menyikapi kehidupan..

  4. Theresa
    Theresa says:

    Artikel yang sangat memberkati dan sangat menegur 🙂
    kebetulan sedang sakit hati dengan seorang sahabat

  5. Handyanto
    Handyanto says:

    @Tetti Noni
    Yang anda maksud mengampuni atau memaafkan??
    Mungkin maksud Anda memaafkan orang tersebut dan tidak mau “kenal/akrab” lagi…sebenarnya itu hak Anda.
    Seringkali kita memaafkan karena merasa kasihan/tidak enak…dan setelah itu kita tidak bisa/ tidak mau akrab lagi…malah menjauhi…itu seperti hanya seperti memaafkan di bibir saja…mungkin masih ada dendam di hati.
    Itu sebenarnya belum bisa dikatakan memaafkan….apalagi mengampuni.
    Karena sifat Allah bukan seperti itu…Allah itu Kasih dan setia.
    Kecuali memang Anda benar2 memaafkan setulus hati…dan untuk alasan tertentu memang tidak mau akrab lagi (mungkin takut terjadi lagi kesalahan yang sama)…sekali lagi itu hak Anda…dengan catatan tidak ada dendam yang terpendam.
    Ada pepatah “Begitu indah mendengar orang saling memaafkan…sampai kita menyadari betapa susahnya kita untuk memaafkan orang lain”.
    GBU.

  6. Megaria Damanik
    Megaria Damanik says:

    aku juga sering sekali mengalami apa yg penulis rasain. sering sekali setiap aku marah karena sakit hati,kecewa atau jengkel, dengan mendiami mereka atau tidak ingin berhubungan dg mereka adalah cr bgi diriku untuk menunjukan kekesalanku. tapi setiap kali aku spt itu, ada roh kudus yg bekerja dlm hati “untuk apa aku ttp seperti ini?apa yg akan aku dapatkan?”, dan akhirnya aku mengalahkan rs egois ku sendiri dengan memulai percakapan kembali atau bahkan meminta maaf lebih dulu meskipun aku tdk bersalah. Kelegaan dari Tuhan itu rsnya sungguh luar biasa:)

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *