Catatan Natal di Tanah Rantau

Info

Oleh Aloysius Germia Dinora, Yogyakarta

Tahun ini adalah kali ketiga aku tidak merayakan Natal bersama keluarga. Sebagai anak rantau yang tinggal dan bekerja jauh dari rumah, kadang ada rasa rindu dan sepi ketika harus merayakan Natal tanpa kehadiran orang-orang terkasih. Jika biasanya di rumah aku selalu menyambut Natal dengan melayani di gereja, mendekorasi rumah, dan bersilaturahmi dengan kerabat, di tanah rantau aktivitas ini menjadi sesuatu yang kurindukan.

Namun, walau jauh dari kehangatan keluarga, pengalaman melewatkan Natal di tanah rantau ternyata mengajariku untuk memandang Natal dari sudut pandang yang berbeda. Natal bukanlah tentang perayaan yang gemerlap, melainkan Natal adalah sebuah peristiwa tentang penyertaan Allah atas kita umat manusia.

Natal tahun 2014 adalah kali pertama ketika aku tidak merayakan Natal bersama dengan keluarga. Waktu itu, aku dan seorang temanku tinggal selama tiga hari di sebuah biara novisiat, sebuah tempat awal pendidikan bagi para calon pastor. Senada denganku, rupanya para calon pastor yang usianya rata-rata di bawah 20 tahun itu pun baru pertama kali merayakan Natal tanpa kehadiran keluarga. Mereka tidak mungkin pulang, karena saat-saat Natal adalah masa di mana mereka menjadi sangat sibuk untuk melayani umat. Tapi, alih-alih mengeluh, mereka berusaha menguatkan satu sama lain untuk tetap memberi makna bahwa keluarga itu tidak harus sebatas hubungan darah. Dalam sebuah ibadah penutup, mereka turut menyanyikan lagu “Keluarga Cemara”, sebagai buah nyata penghayatan mereka akan kebersamaan.

Pengalaman kedua tentang Natal di tanah rantau terjadi pada tahun 2015. Waktu itu aku sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama satu bulan di pedalaman Kalimantan Barat. Selain mendapatkan pengalaman merayakan Natal bersama penduduk lokal yang ramah, pengalaman Natal kali ini juga ternyata mendebarkan. Tepat saat malam Natal pukul 23:00, ketika misa Natal usai dilaksanakan, teman sekelompokku mendapatkan musibah. Kakak kandungnya meninggal dunia. Kabar duka ini baru saja kami dapatkan karena sinyal ponsel yang tidak stabil saat itu.

Sebagai rekan satu kelompok, aku dan temanku yang lain berusaha untuk mencarikan transportasi ke Pontianak supaya kemudian dia bisa terbang ke Jawa untuk menemui almarhum kakaknya. Tapi, tidak ada transportasi yang tersedia, baik itu mobil ataupun speed boat yang bisa mengantar temanku, karena saat itu semua orang sedang merayakan Natal.

Kami berpacu dengan waktu. Berhubung jenazah kakak temanku itu akan segera dikebumikan, maka tak ada pilihan lain selain segera mengantarkan temanku ke bandara menggunakan sepeda motor. Itu pun kami tidak yakin apakah tiket pesawat masih tersedia atau tidak. Tapi, kami memutuskan untuk tetap mencoba berangkat. Akhirnya, jam tiga subuh pun kami berangkat supaya temanku bisa mendapatkan tiket penerbangan di pagi hari.

Jika sebelumnya aku melalui Natal dalam suasana damai, kali ini berbeda sama sekali. Suasana begitu menantang. Tanpa pengetahuan jalan yang cukup, plus tanpa Google Maps, di hari Natal kami malah mengendarai sepeda motor tua dan menembus belantara Kalimantan. Namun, puji syukur karena Tuhan tidak meninggalkan kami. Dia mendengar doa-doa yang kami gumamkan dalam hati. Dia menyertai perjalanan kami hingga akhirnya kami bisa tiba di bandara dengan selamat dan temanku pun akhirnya mendapatkan tiket untuk pulang ke rumahnya.

Perjalanan menantang hari itu pada akhirnya menjadi sebuah momen yang mengakrabkan kami. Padahal, sebelumnya sebagai teman satu kelompok, kami sering berbeda pendapat dan merasa tidak cocok satu sama lain. Tapi, perjalanan selama lima jam itu membuat kami banyak membagikan cerita pengalaman hidup kami masing-masing. Dan, melalui cerita inilah akhirnya kami menjadi saling mengenal satu sama lain.

Dua peristiwa yang pernah kualami di hari Natal inilah yang mengingatkanku kembali untuk tetap bersukacita meski harus melewatkan Natal tidak bersama dengan keluarga. Melalui para calon pastor yang tak dapat merayakan Natal bersama keluarga terkasih, aku belajar bahwa Natal adalah momen untuk mengasihi semua orang, bukan hanya keluarga sedarah. Seperti para calon pastor yang saling mengasihi rekan sekerjanya, di Natal kali ini pun aku mau membagikan sukacita dan kasih itu kepada orang-orang di sekitarku.

Melalui perjalanan membelah belantara Kalimantan yang mendebarkan, aku pun belajar bahwa Natal sejatinya adalah tentang penyertaan Allah. Seperti Dia menyertai perjalanan aku dan teman-temanku melalui jalan yang gelap dan menakutkan, demikianlah juga Allah menyertai kehidupan kita. Ketika kita terjatuh dalam dosa, Dia tidak serta merta meninggalkan kita, malahan Dia merancangkan rencana keselamatan yang agung dengan cara Dia sendiri yang datang ke dunia, mengambil rupa manusia, untuk menyelamatkan kita (Yohanes 3:16).

Apapun keadaan kita hari ini, entah kita merayakan Natal bersama dengan keluarga ataupun seorang diri, kiranya refleksi Natal sederhana ini boleh mengingatkan kita kembali untuk mengucap syukur atas kebaikan Allah dan meneruskan kebaikan itu kepada orang lain.

Selamat Natal!

Baca Juga:

Natal—Saatnya Memilih untuk Mengasihi

Bicara tentang Natal tidak bisa lepas dari yang namanya “kasih”. Natal selalu identik dengan pernyataan kasih Allah bagi dunia melalui kelahiran Sang Juruselamat. Sebagai para pengikut Kristus, kita tahu bahwa kita dipanggil untuk hidup serupa dengan-Nya. Namun, masing-masing kita mungkin memiliki pergumulan tersendiri tentang hidup di dalam kasih.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2017: Natal, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

8 Komentar Kamu

  • Kalau km kali ketiga, aku kali keempat. Waktu dan keadaan yang serupa denganku. Semangat terus dalam melayani kak, Tuhan memberkati.

  • Sama seperti pengalamaan diriku. Akhirnya aku menemukan artikel ini. Terimakasih. Semoga natal kali ini tanpa keluarga tercinta juga masih bisa memberi ku makna yg sama. Tuhan memberkati

  • Oswaldus sabungan doli sihaloho

    Wahhh… pengalaman yg luar biasa…walaupun saya belum pernah mengalamiya, tpi saya bisa membayangkan……
    Tuhan yesus memberkati⛄❄️
    Merry christmas❄️ and happy new year.

  • Thn ke 13 jauh dr keluarga n orng2 terkasih di pelosok timur indonesia….
    Rindu suasana natal bersama keluarga tp waktu n kesempatan yg belum mengizinkan cma bisa melayani orng2 yg mau mudik natalan sampe rasa sedih n bangga sdh campur aduk smua…
    Cma doa n yg bisa sampe ke kampung halaman….
    Buat anak rantau semangat ada waktunya buat kt bersama keluarga moga tahun depan kt semua bisa bersama keluarga n orng2 terkasih..
    Gbu all

  • AKU ketiga kalinya natal dirantau jawa
    Ketika dulu punya rencana natal 2016 aku pulang kerumah,tapi apa mau dikata abang ku satu2 ya meninggal dunia.Dan aku harus melihat abang ku
    Dan planing lagi natal 2017 aku harus pulang kerumah bersama keluarga ku Terkasih,tetapi Tuhan punya Rencana lain papa ku meninggal Dunia bulan agustus kemarin.Dan skrg semua biarlah Tuhan yang mengabulkan
    Tuhan memberkati

  • terima kasih untuk sharingnya, ini natal pertama saya di tanah rantau, di tanah kalimantan

  • Haleluyah, mujizat Tuhan itu nyata

  • Halleluyaa.. praise the Lord..

Bagikan Komentar Kamu!