Jauh Lebih Melimpah

Info

Kamis, 26 Oktober 2017

Jauh Lebih Melimpah

Baca: 1 Tawarikh 17:1-15

17:1 Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda.”

17:2 Lalu berkatalah Natan kepada Daud: “Lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Allah menyertai engkau.”

17:3 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman Allah kepada Natan, demikian:

17:4 “Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Bukanlah engkau yang akan mendirikan rumah bagi-Ku untuk didiami.

17:5 Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel keluar sampai hari ini, tetapi Aku mengembara dari kemah ke kemah, dan dari kediaman ke kediaman.

17:6 Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel, pernahkah Aku mengucapkan firman kepada salah seorang hakim orang Israel, yang Kuperintahkan menggembalakan umat-Ku, demikian: Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?

17:7 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.

17:8 Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku akan membuat namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.

17:9 Aku akan menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan akan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditekan oleh orang-orang lalim seperti dahulu,

17:10 sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku akan menundukkan segala musuhmu. Juga Aku beritahukan kepadamu: TUHAN akan membangun suatu keturunan bagimu.

17:11 Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.

17:12 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya.

17:13 Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kuhilangkan dari padanya seperti yang Kuhilangkan dari pada orang yang mendahului engkau.

17:14 Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya.”

17:15 Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini Natan berbicara kepada Daud.

Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku dan Aku akan mengokohkan takhtanya untuk selama-lamanya. —1 Tawarikh 17:12

Jauh Lebih Melimpah

Ulang tahun saya tepat sehari setelah ulang tahun ibu. Saat masih remaja, saya harus berpikir keras untuk mencari hadiah yang akan membuat ibu senang sekaligus yang harganya pas di kantong saya. Ibu selalu menerima hadiah saya dengan senang hati, dan keesokan harinya, pada ulang tahun saya, ia akan memberikan hadiah untuk saya. Sudah pasti hadiahnya untuk saya jauh lebih bagus daripada yang saya berikan untuknya. Tentu ibu tidak bermaksud meremehkan pemberian saya. Ibu hanya ingin memberikan dengan murah hati dari harta yang dimilikinya, yang tentu jauh lebih besar jumlahnya daripada milik saya.

Keinginan saya untuk memberikan hadiah kepada ibu mengingatkan saya akan keinginan Daud untuk membangun rumah bagi Tuhan. Karena terkejut melihat perbedaan mencolok antara istananya dan tenda tempat Allah menyatakan diri-Nya, Daud rindu membangun Bait Suci untuk Allah. Alih-alih memperkenankan keinginan Daud, Allah merespons dengan memberi Daud suatu pemberian yang jauh lebih baik. Allah berjanji bukan saja salah satu anak Daud (Salomo) akan membangun Bait Suci (1Taw. 17:11), Dia juga akan membangun keturunan atau dinasti bagi Daud. Janji tersebut dimulai dari Salomo dan digenapi pada puncaknya dalam diri Yesus, yang takhta-Nya benar-benar kukuh “untuk selama-lamanya” (ay.12). Daud ingin memberikan sesuatu kepada Allah dari miliknya yang terbatas, tetapi Allah menjanjikan sesuatu yang tidak terbatas.

Seperti Daud, kiranya kita selalu tergerak untuk memberi kepada Allah karena kita bersyukur kepada-Nya dan mengasihi-Nya. Lebih dari itu, kiranya kita selalu melihat betapa jauh lebih melimpahnya pemberian Allah bagi kita di dalam diri Yesus Kristus. —Kirsten Holmberg

Allah Bapa, aku berterima kasih untuk pemberian-Mu yang luar biasa bagiku di dalam Yesus Kristus. Kasih-Mu sungguh menakjubkan.

Yesus Kristus yang dikaruniakan Allah kepada kita jauh lebih bernilai daripada semua hal lain yang pernah kita terima.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 9-11; 1 Timotius 6

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

34 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!