Hal yang Kulupakan Ketika Aku Asyik Menggunakan Instagram Story

Info

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Sekitar setahun lalu, Instagram menciptakan inovasi baru yang sangat digemari oleh para penggunanya hingga saat ini: Instagram Story—yang sering disingkat menjadi Instastory ataupun Snapgram. Melalui fitur ini, kepada followers-nya, seseorang bisa membagikan gambar dan video yang dapat diedit terlebih dahulu secara real-time atau dalam waktu yang hampir bersamaan saat peristiwa tersebut terjadi.

Awalnya, seperti kebanyakan teman-temanku, aku menikmati fitur Instastory dengan cukup aktif. Setiap harinya aku bisa mengunggah 1-5 konten pada Instastoryku. Namun, sampai di satu titik, aku memutuskan untuk berhenti menggunakan fitur ini hingga waktu yang tidak ditentukan. Alasan aku berhenti menggunakan Instastory bukanlah karena fitur ini salah. Akan tetapi, aku berhenti karena kelemahanku sendiri, yang mungkin juga merupakan kelemahan bagi banyak orang, yaitu self-esteem, atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “harga diri”.

Jika ditilik lebih dalam, melalui bacaan dari Wikipedia maupun beberapa jurnal psikologi yang pernah kubaca, pada dasarnya self-esteem berarti bagaimana seseorang menilai harga dirinya sendiri.

Dalam pergumulanku pribadi, aku merasa bahwa Instastory telah merusak caraku menilai harga diriku sendiri.

Aku cenderung menempatkan dan mencari harga diriku melalui pengakuan-pengakuan dan pandangan dari orang lain. Ketika zaman beralih menjadi digital, cara yang paling mudah dan efektif untuk ‘menghitung’ harga diriku adalah melalui media sosial. Instastory memberiku kesempatan untuk meliput kehidupanku secara real-time. Para followers-ku bisa mengetahui apa yang sedang aku kerjakan, apa yang sedang aku makan, apa yang sedang aku rasakan, dan banyak hal lainnya melalui tiap-tiap gambar atau video yang kuunggah.

Inilah hal yang menurutku membuat Instastory lebih berbahaya daripada media sosial lainnya seperti Path, Facebook, ataupun Twitter. Melalui visual dan audio yang disajikan secara real-time, tanpa sadar aku telah menjadikan Instastory sebagai sarana untukku memamerkan kehidupanku kepada orang lain. Aku bisa menunjukkan betapa menyenangkannya aktivitas yang kulakukan, betapa enak dan mahalnya makanan yang aku makan, betapa sibuk dan kerennya pekerjaanku, dan banyak hal lainnya.

Tanpa kusadari, aku berjuang untuk melihat diriku terlihat lebih berharga dengan memamerkan kehidupan yang kujalani. Aku jadi sangat tergoda untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain tentang betapa kerennya dan menyenangkannya hidupku. Bahkan, seringkali, tanpa kusadari aku ingin supaya orang lain iri melihat diriku dan kehidupanku.

Sebenarnya, bukanlah hal yang salah untuk mencari dan menemukan harga diri. Dalam pandangan dunia, self-esteem adalah hal yang penting karena hal ini akan mendorong manusia termotivasi untuk menjalani hidupnya. Bahkan, Abraham Maslow, seorang psikolog yang juga teoritikus menempatkan self-esteem atau harga diri sebagai peringkat kedua dalam piramida kebutuhan psikologis manusia.

Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah dengan self-esteem selama kita mencarinya di tempat yang benar. Namun, sayangnya adalah dunia kita saat ini telah kehilangan tempat mencari self-esteem yang benar.

Dalam pergumulanku saat itu, aku membaca sebuah artikel berjudul “Find Your Self-esteem in Someone Else” yang ditulis oleh Jon Bloom. Kutipannya adalah sebagai berikut:

Sekitar pergantian abad ke-20, teori tentang “self-esteem” muncul di bidang psikologi, dan pada tahun 1960 teori ini diterima oleh budaya Barat dan dianggap sebagai salah satu akar utama dari kesehatan mental. Tetapi sesungguhnya teori ini tidak mengatasi masalah mendasar, yaitu keterpisahan dari Allah. Setelah lebih dari 50 tahun mencoba menerapkan teori ini sebagai obat untuk penyakit kita akan identitas, kita mendapati bahwa diri kita hanya semakin terisolasi dan hubungan kita dalam komunitas dan masyarakat hanya menjadi lebih retak. Semua ini terjadi karena kita kita mencari harga diri kita di tempat yang salah dan untuk alasan yang salah.

Perjuanganku untuk menaikkan nilai harga diriku melalui pengakuan dan penghargaan dari orang lain melalui media sosial sesungguhnya berasal dari keterpisahanku dengan Allah. Sadar atau tidak sadar, seringkali aku merasa tidak ada seorangpun yang bisa ataupun mau mengapresiasi, menghargai, mengasihi, dan mengakui diriku kalau aku tidak tampil menawan di hadapan orang lain. Hal ini jelas tidaklah benar. Alkitab dengan jelas mengatakan:

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4).

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Lukas 12:6-7).

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa diriku begitu berharga di hadapan-Nya. Aku diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sang pencipta alam semesta. Bahkan, kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak sedikitpun menghilangkan kasih-Nya kepadaku dan juga kepada seluruh umat manusia. Kita tetap dipandang-Nya berharga, begitu berharga hingga Allah sendiri melalui Yesus Kristus datang ke dunia, mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus dosa-dosa kita.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Mungkin bagi beberapa orang, ayat-ayat di atas terasa seperti hapalan di luar kepala. Namun, ayat tersebut adalah bukti nyata bahwa kasih-Nya kepada kita telah dinyatakan di atas kayu salib. Darah-Nya yang tercurah sudah membuktikan betapa berharganya aku dan kamu di hadapan Allah.

Harga diriku tidak ditentukan dari seberapa banyak likes atau comment yang aku dapatkan di tiap-tiap gambar atau story yang kuunggah. Harga diriku dan harga dirimu begitu mahal, seharga darah yang telah Yesus curahkan untuk menebus dosa-dosa kita.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa ketika aku menggunakan Instastory dan media sosial lainnya, seharusnya aku tidak mencari harga diriku di sana. Harga diriku tidak ditemukan pada media sosial. Harga diriku yang sesungguhnya hanya kutemukan pada salib Kristus.

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Baca Juga:

Ketika Keraguan akan Imanku Membawaku Pada Yesus

Aku dilahirkan di keluarga bukan Kristen yang cukup taat beribadah. Bahkan, kedua orangtuaku pernah menyekolahkanku di sebuah sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Namun, sampai di satu titik, aku mulai meragukan iman yang kupercayai yang pada akhirnya menuntunku kepada Yesus.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2017: Dunia, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

12 Komentar Kamu

  • sangat memberkati! terima kasih sudah berbagi!

  • Nicolaus Permana Tri Rahmanto

    turn your eyes upon Jesus
    look full in His wonderful face
    and the things of earth will grow strangely dim
    in the light of His glory and grace

    🙂

  • God bless the writer and the reader

  • Terimakasih Lidya Corry, sungguh sangat memberkati. Terpujilah Allah.

  • Sedang bergumul salah satunya dalam hal ini juga. Sangat memberkati, Tuhan memberkati kita semua.

  • lalu seharusnya kita gunakan instastory atau tidak usah?

  • @Lidya Corry Terima Kasih sharing artikel ini sangat bermanfaat. Saya tau kamu lagi kangen dengan orang yg kamu cintai, ingatlah dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia, Tuhan Yesus sudah menempatkan orang percaya ke tempat yg layak disisiNya. Berdoalah kepada Tuhan, sampaikan semuanya kepada Tuhan Yesus. Ada pelangi sehabis hujan, itulah janji kasih setia Tuhan Yesus bagi anak-anakNya yg mengasihiNya.
    @aben saya bantu jawab ya, setelah saya baca artikel di atas akhirnya saya ambil kesimpulan tidak perlu pakai instastory. Saya sebenarnya kurang paham tentang Instagram, soalnya semenjak saya buat akun Instagram sampai akhirnya saya tutup akun Instagram saya follower 0, saya buat instastory pun ngapain juga memang siapa yg lihat. Saya seorang introvert. Saya lebih suka berteman di dunia nyata, karena saya bisa lihat wajah teman-teman saya tanpa kena efek aplikasi camera 360. Menurut pendapat pribadi saya, instagram adalah media sosial, memang tujuannya buat menunjukkan aktifitas apa yg kita rasakan, memang sebaiknya aktifitas itu harusnya natural tanpa dibuat-buat. Bagi yg ingin terjaga kehidupan pribadinya bisa dipakai mode private. Semoga kita lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial, kalau menurut pandangan ajaran Kristus, media sosial itu hubungan dengan sesama manusia, jadi tidak mencampuri sampai kesitu. Selama pemakaian punya dampak positip, silahkan bermedia sosial dengan bijak.

  • nice

  • sangat memberkati, terimakasih! Tuhan berkati

  • @aben
    menurut pendapat saya, saya rasa bukan soal boleh atau tidak boleh, tetapi ketika melakukannya mari sebelumnya kita “self talk” atau introspeksi diri mengapa kita hendak upload insta story, jadi lebih penting bagaimana sikap hati kita. Sama seperti ketika kita berbuat baik (apapun perbuatannya) akan baik jika motivasi kita benar, yaitu kita mengasihi sesama karena Kristus telah mengasihi kita lebih dahulu dan kita ingin memuliakan nama Tuhan. Sebaliknya jika kita berbuat baik supaya kita diakui, bukan Tuhan yang dimuliakan, maka perbuatan “baik” itu tidak lagi menjadi perbuatan baik. Itulah poin penting iman Kristen, bukan APA yang kita lakukan, tetapi MENGAPA kita melakukannya. Jadi, apabila kita upload insta story, upload foto di instagram, atau sosial media lain, update status, lakukan itu semua untuk memuliakan nama Tuhan. Untuk menguatkan sesama kita, untuk membagikan nilai-nilai Firman Tuhan (tidak harus mengutip ayat, tetapi yang penting prinsipnya, misalnya mengasihi, mendoakan musuh, dll) supaya setiap orang yang membacanya, apalagi orang yang belum percaya dapat melihat kasih Kristus melalui hidup kita. Jika sebaliknya, maka sebaiknya tidak perlu upload/update. Kiranya Tuhan memberkati 🙂

  • Duma Rosmeika Pakpahan

    God bless you Lidya

Bagikan Komentar Kamu!