Menyingkirkan Penghalang

Minggu, 17 September 2017

Menyingkirkan Penghalang

Baca: Filemon 1:8-16

1:8 Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,

1:9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,

1:10 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus

1:11 —dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

1:12 Dia kusuruh kembali kepadamu—dia, yaitu buah hatiku—.

1:13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,

1:14 tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.

1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,

1:16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

[Ia] bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. —Filemon 1:16

Menyingkirkan Penghalang

Saya bertemu Mary tiap hari Selasa ketika saya mengunjungi “Balai”—rumah rehabilitasi yang membantu mantan narapidana berbaur kembali dengan masyarakat. Keadaan hidup saya berbeda jauh dari hidup Mary: ia baru saja keluar dari penjara, masih bergumul dengan kecanduan, dan hidup terpisah dari anaknya. Bisa dibilang Mary tersisih dari pergaulan.

Seperti Mary, Onesimus tahu artinya terpinggirkan dari pergaulan. Sebagai budak, Onesimus pernah berbuat salah kepada Filemon, tuannya yang juga seorang Kristen. Sekarang, Onesimus dipenjara. Di penjara, Onesimus bertemu Paulus dan percaya kepada Kristus (Fil. 1:10). Meskipun hidup Onesimus telah berubah, ia tetaplah budak. Paulus mengirimnya kembali kepada Filemon dengan membawa surat yang mendesak Filemon untuk menerima Onesimus “bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih” (ay.16).

Filemon memiliki pilihan: Ia dapat tetap memperlakukan Onesimus sebagai budak atau menyambutnya sebagai saudara di dalam Kristus. Saya memiliki pilihan juga. Apakah saya melihat Mary sebagai mantan narapidana dan pecandu yang sedang berusaha pulih—atau sebagai wanita yang hidupnya sedang diubah oleh kuasa Kristus? Mary adalah saudara saya di dalam Tuhan, dan kami bersyukur dapat menempuh perjalanan iman kami bersama-sama.

Kita mudah terjebak dengan menjadikan status sosial, ekonomi, golongan masyarakat, atau perbedaan budaya sebagai pemisah di antara kita. Injil Kristus menyingkirkan segala penghalang itu dan selamanya mengubah hidup kita serta hubungan di antara kita. —Karen Wolfe

Ya Allah, terima kasih karena Injil Yesus Kristus mengubah hidup manusia dan hubungan di antara kami. Terima kasih karena Engkau telah menyingkirkan penghalang di antara kami dan menjadikan kami semua anggota keluarga-Mu.

Injil mengubah hidup manusia dan hubungan di antara mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 27-29 dan 2 Korintus 10

Bagikan Konten Ini
20 replies

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *