Untuk Indonesia, Aku Tetap Optimis!

Info

Untuk-Indonesia-Aku-Tetap-Optimis

Oleh Sukma Sari

Tujuh puluh dua tahun bukanlah perjalanan yang singkat, apalagi bagi suatu bangsa. Jika kita menoleh sejenak ke belakang, ada begitu banyak peristiwa yang telah dialami oleh bangsa kita, Indonesia. Jauh sebelum mendeklarasikan kemerdekaannya, bangsa ini harus merasakan pedihnya masa-masa kolonialisme—dijajah oleh bangsa lain. Bahkan, setelah merdeka pun, bangsa ini tetap harus menghadapi banyak masalah.

Sebagai warga negara Indonesia yang lahir jauh setelah bangsa ini meraih kemerdekaannya, aku tidak tahu bagaimana euforia yang terjadi tatkala naskah proklamasi dibacakan. Yang aku ingat adalah masa ketika negeri ini memasuki masa transisi yang disebut dengan reformasi. Ruko miliki teman sekolahku habis terbakar. Sepanjang perjalananku dari rumah hingga ke sekolah, aku melihat banyak ujaran-ujaran kebencian bernada rasis yang dituliskan di warung atau toko-toko.

Karena segala kenangan buruk inilah, seringkali aku jadi membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju di Asia. Melihat praktik korupsi yang menggerogoti birokrasi, peredaran obat terlarang yang terselubung, kriminalitas, juga kasus-kasus intoleransi membuatku merasa jengah akan kondisi bangsa ini. Kadang, aku jadi bertanya-tanya: Mengapa aku seorang Indonesia? Mengapa aku lahir dan besar di Indonesia? Mengapa Indonesia tidak seperti negara lain yang lebih maju?

Namun, tatkala pikiranku bertanya-tanya demikian, ada sebuah ayat yang juga terlintas di benakku. Ayat ini seolah menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku itu. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7). Ayat ini tidak asing di telingaku. Biasanya, ketika ibadah dengan tema kebangsaan, ayat ini sering disebutkan.

Ayat ini menegurku. Aku rasa bukan suatu kebetulan jika saat ini aku berstatus sebagai seorang warga negara Indonesia. Jika Tuhan begitu mengasihi Niniwe—kota besar yang berpenduduk lebih dari 120.000 jiwa, yang semuanya tidak bisa membedakan kanan dan kiri dan semua ternaknya (Yunus 4:11), lantas, siapakah aku sampai-sampai aku tidak mengasihi bangsa ini? Lambat laun, aku menyadari bahwa terlepas dari segala permasalahan yang menyelubungi negeri ini, masih ada banyak hal yang patut disyukuri. Terlepas dari segala kekurangannya, negeri ini adalah negeri yang indah.

Indonesia adalah negara kepulauan. Wilayahnya dikelilingi oleh perairan. Penduduknya beragam, berasal dari berbagai suku, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda namun bersepakat untuk bersatu menjadi suatu bangsa Indonesia. Orangtuaku adalah orang Kristen, sedangkan sebagian besar keluargaku menganut agama Islam. Selain berbeda kepercayaan, keluarga besarku juga berasal dari berbagai macam suku. Ketika tiba hari lebaran, kami turut mengikuti tradisi mudik dan menikmati sukacita kebersamaan. Keberagaman keluarga inilah yang mengajarkanku apa arti toleransi antar umat beragama sesungguhnya, bahkan sebelum aku duduk di bangku sekolah.

Ketika aku pergi menjelajah ke daerah Sukamade, aku bertemu dengan serombongan turis dari Swiss. Mereka mengungkapkan kekaguman mereka akan keindahan pantai-pantai Indonesia. Lalu, dalam perjalananku ke Yogyakarta bulan Maret lalu, aku bercakap-cakap dengan seorang turis dari Maroko. Katanya, satu hal yang amat dia sukai dari Indonesia adalah keramahan penduduknya. Jika orang luar saja mampu kagum terhadap Indonesia, masakan aku yang adalah warga Indonesia tidak bangga dan bersyukur atas negeri ini?

Bersyukur dan bangga saja aku rasa belum cukup untuk mencintai negeri ini. Aku jadi teringat akan sebuah kutipan yang pernah disebutkan oleh John F. Kennedy, seorang mantan presiden Amerika Serikat yang berkata: Jangan pernah tanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu. Salah satu kontribusi yang telah kuberikan kepada Indonesia adalah dengan menjadi warga negara yang proaktif. Ketika tiba waktunya pesta demokrasi digelar, aku menggunakan hak suaraku. Ketika saat ini aku sudah bekerja sebagai karyawan swasta, aku memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Dengan nomor ini, aku belajar untuk membayar pajak yang adalah kewajibanku sebagai warga negara. Setiap Rupiah pajak yang diserahkan kepada negara inilah yang akan menjadi penggerak pembangunan sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia. Tatkala kita membayar pajak, kita sedang berkontribusi untuk membangun negara ini.

Sahabatku, perjuangan kita saat ini belumlah usai. Perjuangan kita sekarang bukanlah perjuangan melawan penjajah dengan mengangkat bambu runcing seperti masa pra-kemerdekaan. Perjuangan kita adalah bagaimana kita bisa menjaga dan mengisi kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan. Mari bersama-sama kita berjuang menjaga kesatuan dan persatuan, juga kerukunan antara suku, agama, dan budaya. Kita boleh bermimpi setinggi mungkin untuk bangsa ini. Jika kamu punya kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke luar negeri, pergilah. Tetapi, jangan lupa untuk kembali karena negeri ini membutuhkanmu.

Terlepas dari banyak permasalahan yang melanda negeri ini, aku tetap optimis. Negeri ini bisa menjadi lebih baik, selama aku dan kamu tetap percaya dan tidak berpangku tangan. Percayalah, Allah yang dahulu memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir adalah Allah yang sama yang memberkati Indonesia sekarang dan seterusnya.

Satu hal yang perlu kita imani adalah Allah selalu menyertai.

Baca Juga:

Mengapa Aku Mengagumi Superhero Sejak Kecil

Sejak aku masih kecil, aku begitu terobsesi akan superhero. Sebagai seorang anak SD yang sering diolok-olok oleh oleh teman-temanku, aku jadi berharap andai saja aku bisa memiliki superhero yang mampu melindungiku. Obsesiku akan superhero inilah yang akhirnya membuat teman-teman sekelasku menganggapku aneh.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 08 - Agustus 2017: Impian, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!