Ketika Malam Tirakatan Mengajariku Cara untuk Mencintai Indonesia

Info

ketika-malam-tirakatan-mengajariku-cara-untuk-mencintai-indonesia

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo
Foto oleh Aryanto Wijaya

Satu hari menjelang peringatan hari kemerdekaan, lingkungan tempat tinggalku selalu mengadakan acara tirakatan—sebuah acara untuk merenungkan dan merefleksikan kembali makna kemerdekaan Indonesia. Di acara malam tirakatan, seluruh warga, tak peduli apapun latar belakangnya bersatu padu mensyukuri dan merayakan kemerdekaan Indonesia.

Sewaktu aku masih duduk di kelas 5 SD, aku dan teman-teman di sekitar rumahku begitu antusias untuk mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan di malam tirakatan. Ada yang berlatih membaca puisi, ada yang berlatih fashion show, ada pula yang berlatih menari dan menyanyikan lagu kebangsaan. Waktu itu aku mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi bersama kedua temanku. Acara malam tirakatan itu berlangsung dengan meriah. Tak hanya warga dari lingkungan RT-ku saja, tetapi RT-RT lain juga ikut bergabung.

Tahun demi tahun pun berlalu. Satu per satu temanku yang dulu selalu melewatkan tirakatan bersama-sama mulai pergi merantau. Ada yang ke luar kota, ada juga yang ke luar pulau. Malam tirakatan yang dulu aku lalui dengan sukacita pun akhirnya menjadi malam yang membosankan karena aku kehilangan teman-temanku. Ketika malam tirakatan itu tiba, aku tidak bergairah sama sekali untuk mengikutinya dan memilih untuk diam saja di rumah.

Melihat diriku yang tak bersemangat sama sekali, ibuku menghampiriku dan memberi nasihat. “Nak, kita tidak boleh jadi orang yang cuek dengan lingkungan kita. Kita harus membaur, mengetahui keberadaan mereka, belajar menyapa dan mengenalkan diri kita kepada mereka. Kita juga belajar untuk mengenal mereka. Jarang-jarang kita bisa ngumpul kalau bukan di acara malam tirakatan.” Perkataan ibuku itu membuatku jadi teringat akan sebuah ayat yang sering disebutkan di gereja. Ayat itu diambil dari Matius 5:16 di mana Tuhan Yesus berkata bahwa kita adalah terang dunia, dan kita harus menjadi terang bagi lingkungan sekitar kita.

Ayat tersebut membuatku berpikir: Bagaimana aku dapat menampilkan terang Kristus di lingkunganku jika aku sendiri tidak dikenal di lingkunganku? Bagaimana aku dapat menunjukkan terang Tuhan di RT-ku jika aku tidak berani mengenal dan dikenal oleh orang-orang di lingkunganku? Oleh karena itu, mulai tahun 2015 aku mulai aktif kembali mengikuti malam tirakatan yang diselenggarakan di RT-ku. Awalnya aku sempat merasa canggung karena aku tidak terlalu mengenal orang-orang yang hadir. Tetapi, puji Tuhan karena aku bisa fokus mengikuti acara itu tanpa merasa sedih sekalipun teman-temanku yang dahulu sering bersamaku di malam tirakatan telah pergi.

Di malam itu, ada seorang kakek yang bercerita di depan warga tentang perjuangannya dulu pada zaman kemerdekaan. Di usianya yang sudah sepuh, beliau tetap antusias menceritakan kisahnya. Tapi, kemudian beliau menangis apabila mengingat dan membandingkan kondisi anak-anak muda zaman dahulu dengan sekarang. Katanya, banyak anak muda sekarang yang bersifat tidak peduli dengan tanah airnya seakan-akan mereka lupa akan perjuangan para pahlawan. Bahkan, beliau juga mengkritik anak-anak muda di RT-ku yang menghilang dan tidak lagi terlihat di acara-acara kebersamaan seperti malam tirakatan ini. Di akhir ceritanya, kakek itu ingin sekali melihat anak-anak muda di RT-ku bisa membaur dengan warga lainnya, minimal di acara malam tirakatan.

Sebagai anak Tuhan, percakapan dengan kakek itu membuatku juga diingatkan kembali bahwa sudah seharusnya aku menjadi terang di manapun aku berada. Seringkali beberapa acara yang diselenggarakan di gereja membuatku lupa untuk ikut menyambut acara kemerdekaan di lingkungan tempat tinggalku sendiri. Aku lupa bahwa untuk menjadi pancaran terang kasih Tuhan bagi lingkunganku, aku harus terlebih dahulu mengenal mereka.

Mungkin tindakan yang aku lakukan hari ini hanyalah sebuah tindakan kecil yang mungkin juga dampaknya kecil. Tetapi, aku berharap bahwa tindakan nyata sekecil apapun kelak akan berdampak, minimal untuk pribadiku sendiri dan juga lingkunganku.

Sebelum aku dapat mencintai Indonesia, aku harus terlebih dahulu peduli dengan lingkungan tempat tinggalku. Untuk berbuat sesuatu tidak harus selalu dimulai dengan hal-hal yang luar biasa, cukup dimulai dari hal yang sederhana. Lewat hadir dan turut serta dalam acara lingkup lokal seperti malam tirakatan, di situlah sesungguhnya aku sedang belajar mencintai Indonesia dan memancarkan terangku sebagai orang Kristen bagi orang-orang di lingkungan tempat tinggalku.

Baca Juga:

1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia

Keputusanku untuk belajar mengenal Indonesia lebih dekat dijawab Tuhan dengan sebuah kesempatan berharga. Bak gayung bersambut, aku diterima menjadi seorang relawan untuk mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Perjalanan inilah yang pada akhirnya memberiku jawaban dari bagaimana seharusnya aku mencintai Indonesia.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 08 - Agustus 2017: Impian, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!