Perhatikan Awan

Info

Selasa, 13 Juni 2017

Perhatikan Awan

Baca: Ayub 37:1-16

37:1 “Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya.

37:2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya.

37:3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi.

37:4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran.

37:5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita;

37:6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras!

37:7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya.

37:8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya.

37:9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara.

37:10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku.

37:11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya,

37:12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya.

37:13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.

37:14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah.

37:15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya?

37:16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu,

Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan? —Ayub 37:16

Perhatikan Awan

Suatu hari bertahun-tahun lalu, saya dan anak-anak saya sedang berbaring di halaman sambil melihat awan yang melayang. “Ayah,” kata salah satu anak saya, “mengapa awan itu melayang?” “Begini, Nak,” jawab saya, sambil bermaksud menunjukkan kepadanya pengetahuan saya yang sangat luas. Namun, seketika itu juga saya terdiam. “Maaf, Ayah tidak tahu,” jawab saya kemudian, “tetapi Ayah akan mencarikanmu jawabannya.”

Kemudian saya menemukan jawabannya. Kumpulan titik-titik air yang padat turun ke bumi karena pengaruh gravitasi, kemudian bertemu dengan temperatur udara bumi yang lebih hangat. Titik-titik air tersebut kemudian berubah menjadi uap air dan kembali naik ke udara. Itulah penjelasan ilmiah tentang fenomena awan tersebut.

Namun, penjelasan ilmiah itu bukanlah jawaban satu-satunya. Awan dapat melayang karena hikmat-Nya, Allah telah mengatur hukum alam sedemikian rupa untuk menyatakan “tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu” (Ayb. 37:16). Karena itulah awan dapat juga dipandang sebagai tanda kasatmata yang menyatakan kebaikan dan anugerah Allah di dalam alam ciptaan-Nya.

Jadi, jika nanti kamu melihat ke langit dan memandang awan-awan, ingatlah ini: Pribadi yang menciptakan segala sesuatu dengan indahnya itulah yang membuat awan-awan melayang di udara. Dia melakukan itu untuk menggugah kita agar mengagumi dan memuja-Nya. Langit—termasuk awan kumulus, stratus, maupun sirus—menceritakan kemuliaan Allah. —David Roper

Kami mengagumi Engkau, Pencipta Ajaib, saat kami memandang dunia-Mu. Engkau layak menerima segala pujian dari hati kami yang terdalam!

Alam ciptaan dipenuhi dengan tanda-tanda yang menunjukkan keagungan Sang Pencipta.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 6-8 dan Yohanes 21

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!