Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Kaya?

Info

apakah-orang-kristen-tidak-boleh-kaya

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can We Be Rich and Godly At The Same Time?

Komisi pemuda di gereja kami baru saja memulai pendalaman Alkitab tentang khotbah di bukit. Ketika kami sedang mencoba memahami maksud dari perkataan Yesus dalam Lukas 6:20, salah seorang pemuda bertanya, “Apakah ayat ini hendak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya?”

Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, karena pernyataan Yesus memang sepertinya mengarahkan orang untuk berpikir demikian. Jika orang miskinlah yang akan mendapatkan Kerajaan Allah, apakah itu berarti orang Kristen harus dengan sengaja hidup miskin? Haruskah orang Kristen menghindari kelimpahan materi?

Jika kita membaca keseluruhan Alkitab, aku pikir kita akan menemukan bahwa jawabannya jelas “tidak”. Orang “miskin” yang disebutkan pada bagian ini bukanlah sembarang orang miskin. Mereka tidak hidup dalam kelimpahan materi karena iman mereka. Alkitab sendiri mencatat banyak orang yang melayani Tuhan sekaligus memiliki banyak harta. Allah memberkati mereka dan memuji sikap hidup mereka. Abraham, Ayub, dan Daud adalah contoh orang-orang kaya yang dekat kepada Allah.

Mungkin pertanyaan yang lebih besar di balik pertanyaan tadi adalah: apakah kita bisa menjadi kaya dan sekaligus menjadi orang yang mengutamakan Allah dalam hidup ini? Bagaimana bila kita adalah orang yang sudah diberkati dengan kekayaan karena latar belakang orangtua atau pekerjaan kita? Salahkah jika kita kaya, atau ingin menjadi kaya? Bagaimana orang Kristen harus melihat kekayan?

Setidaknya, ada tiga prinsip yang bisa kita pegang:

1. Kita tidak boleh terobsesi untuk menjadi kaya (atau lebih kaya)

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:10).

Jika kita berusaha mencari-cari argumen yang dapat membenarkan keinginan kita untuk mengejar Tuhan sekaligus mengejar kekayaan materi, kita akan kecewa. Aku akan menjadi orang pertama yangmengakui bahwa aku bergumul dengan dua hal tersebut. Sudah berulang kali aku berkeinginan untuk mengejar kekayaan materi, namun berulang kali pula Tuhan mengingatkan aku melalui firman-Nya dan sesama bahwa itu bukan sikap yang seharusnya aku miliki.

Uang pada dasarnya tidak jahat. Masalahnya bukan bukan terletak pada apakah kita memiliki banyak uang atau tidak, tapi pada keinginan untuk menjadi kaya dan cinta pada uang. Bagian Alkitab ini menunjukkan pada kita, bahwa sekali kita terjerat pada godaan untuk mencintai uang, kita tidak akan pernah merasa cukup dan makin lama makin menjauh dari Tuhan. Tidak heran, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 6:24, bahwa tidak mungkin seseorang bisa menjadi hamba Tuhan sekaligus hamba uang. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Jadi, jika tujuan utama kita adalah hidup dekat dengan Tuhan, akan bijaksana bila kita menjauhkan diri dari godaan untuk mengejar kekayaan materi. Salah satu bagian firman Than yang baik untuk direnungkan dalam konteks ini adalah Ibrani 13:5, “‘Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”

2. Kita tidak boleh menumpuk harta di dunia

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ jua hatimu berada” (Matius 6:19-21). Ayat ini memberi gambaran tentang apa yang fana. Kekayaan materi di bumi ini tidak akan bertahan selamanya—semua bisa rusak dan pada akhirnya tidak ada lagi. Yang akan bertahan selamanya adalah apa yang kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan; itu yang akan memberi kita harta abadi. Sebab itu, harta yang seharusnya kita inginkan adalah upah yang dijanjikan Tuhan kepada umat yang setia kepada-Nya—orang-orang yang mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan segenap hati, akal budi, jiwa, dan kekuatan.

Jika tujuan hidup dan yang membuat kita sibuk adalah upaya mengumpulkan banyak uang untuk membeli rumah yang besar, mobil yang bagus, pakaian yang mahal, serta untuk sekadar menikmati hidup yang mudah dan nyaman, kita tidak ada bedanya dengan orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus. Orang kaya itu berpikir bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Ia tidak menyadari bahwa ada kehidupan setelah kematian dan kekayaannya di dunia tidak dapat dibawa ke sana (Lukas 12:13-21).

Mentalitas yang hanya mencari kesenangan diri sendiri bukan saja tidak alkitabiah, tetapi, Yesus menyebutnya sebagai suatu kebodohan.

3. Kita harus siap berpisah dengan kekayaan yang kita miliki

“Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ‘Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: ‘Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah’” (Markus 10:21-23).

Jika saat ini kita memiliki banyak harta—baik itu hasil kerja keras kita atau warisan keluarga kita—kita diingatkan untuk tidak menggenggam kekayaan itu terlalu erat. Jika kita memegangnya terlalu erat, bisa jadi kita lebih mengandalkan harta kita daripada mengandalkan Allah.

Alkitab juga secara konsisten memanggl kita untuk menolong mereka yang membutuhkan. Salah satu aplikasinya adalah memberikan uang kepada orang-orang yang berkekurangan. Dalam Injil Lukas, Yohanes Pembaptis mendorong orang banyak untuk membagikan pakaian dan makanan yang mereka miliki kepada sesama yang tidak punya (Lukas 3:11). Beberapa orang Kristen yang kukenal tidak punya banyak uang, tetapi selalu menjadi orang-orang yang pertama memberikan apa yang mereka punya ketika ada sesama yang membutuhkan.

Kita yang berkelebihan dipanggil untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan Allah kepada kita bersama berkat-berkat yang diberikan-Nya. Tanggung jawab ini sesuai dengan perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

Jadi, salahkah bila orang Kristen menjadi kaya? Alkitab menunjukkan bahwa yang bermasalah itu bukanlah banyaknya kekayaan yang kita miliki, tetapi hati yang selalu mengejar dan melekat pada kekayaan. Tidak salah menjadi kaya atau bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang baik, selama kita tidak terjebak untuk mencari uang lebih daripada mencari Allah.

Bila hati kita dikuasai keinginan untuk mengumpulkan kekayaan di dunia, mari kita melepaskannya. Mari berjuang mengumpulkan harta di sorga dan menggunakan apa yang telah dikaruniakan Allah untuk memberkati sesama.

Baca Juga:

3 Tanda Aku Menggunakan Ponsel dengan Berlebihan

Aku sangat sering menggunakan ponsel. Begitu seringnya, sampai-sampai aku selalu merasa ada yang kurang apabila tidak tanganku tidak memegang ponsel. Apa yang kualami ini mungkin adalah bagian dari nomophobia (no-mobile-phobia): rasa takut akan kehilangan kontak dengan ponsel.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2017: Tren, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

8 Komentar Kamu

  • Amin.. Terima kasih artikelnya sangat memberkati..
    Intinya kita harus menomorsatukan Tuhan di atas segalanya..

  • amin

  • Apakah orang Kristen tidak boleh kaya?
    Jawabannya ada di Lukas 14:15-35
    Berbahagialah orang yg akan dijamu dalam Kerajaan Allah.
    Ada seorang yg mengadakan perjamuan besar, tapi semua undangannya ditolak, ada yg punya ladang ingin mengurusnya, ada orang yg punya 5 pasang lembu kebiri ingin melihatnya, ada orang yg baru kawin sehingga tidak bisa datang. Orang kaya seperti inilah yg tidak Tuhan inginkan. Jika anda diminta Tuhan untuk melepaskan segala kepentingan untuk mengikuti Yesus lakukanlah segera, jika Tuhan katakan ikutlah Aku, maka ikutilah Tuhan. Tuhan tidak suka orang kaya yg ketika dipanggil untuk menaati peraturannya berkata tunggu Tuhan, aku punya ratusan hektar tanah yg diduduki orang miskin kemudian mengusirnya dengan puluhan preman. Tuhan ingin katakan kasihilah Manusia, berilah tanahmu sebahagian untuk orang miskin. Kemudian ada orang kaya yg bilang tunggu Tuhan aku punya 5 perusahaan besar yg mempunyai omset milyaran dengan mencari keuntungan besar-besaran, Tuhan tidak suka orang kaya yg hanya mencari keuntungan bisnis, sedangkan pegawainya dipaksa terus bekerja tanpa mendapat kesejahteraan, Tuhan ingin orang kaya ini bisa jadi berkat bagi semuanya berilah kasih jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tau. Kemudian orang kaya ketiga inilah orang kaya yg mementingkan isterinya/suaminya/keluarganya ketika Tuhan memanggilnya dalam aturan, orang kaya ini melihat keluarganya yg ingin dibahagiaannya jadi korupsi untuk jadi kaya, berbuat curang dalam bisnis hanya ingin mengejar kekayaan, menggunakan jabatan posisi kedudukan untuk mengumpulkan harta, orang kaya seperti inilah yg tidak Tuhan sukai, ketika dipanggil menjalankan perintahNya, orang-orang kaya ini lebih mementingkan kehidupan dunia. Percuma orang kaya ini menyumbang ratusan juta untuk gereja, perlu diketahui Tuhan itu yg punya bumi ini, jika Tuhan berkehendak semuanya dalam sekejap bisa rata dengan tanah. Tuhan yg punya oksigen, jika Tuhan mau dalam sekejap manusia bisa mati, Tuhan juga yg punya jutaan ton emas di dalam tanah, jika Tuhan inginkan emas berjuta ton itu bisa keluar dari dalam bumi. Tuhan ingin manusia itu taat perintahNya, jangan angkuh karena kaya, mulailah menjalankan kasih, kasihilah sesamamu, jika mau jadi orang kaya yg akan masuk ke dalam kerajaan Allah, berbuat baiklah, tinggalkanlah dosa, hidup bersih, paling penting berikanlah tubuhmu sebagai persembahan hidup bagi Tuhan, muliakanlah Tuhan, tunjukkanlah Tuhan berkuasa penuh atas dirimu. Amin

  • Yugo Bekti Prasetyo

    saya jujur masih bingung.. rasanya sulit sekali kalau disebut sebagai orang kaya tetapi tetap bisa cinta Tuhan bukan kekayaannya… hanya bingung apakah memang benar bisa seperti itu? saya hanya bertanya lho…

  • keran kali

  • Amin…

  • Amin,

  • @Yugo Bekti Prasetyo jangan skeptis gitu dong, memang banyak orang kaya yg mencintai kekayaannya, tapi masih banyak juga kok yg lebih mencintai Tuhan Yesus. Contohnya banyak dokter yg lebih memilih melayani ke daerah pedalaman, padahal untuk masuk kedokteran aja habis berapa ratus juta, kadang mereka juga gak dibayar atau dibayarpun dengan hasil kebun pasien. Ada banyak orang kaya yg menyisihkan hartanya buat anak yatim piatu, melakukan kegiatan sosial pokoknya ada banyak yg tidak terlihat. Contoh terdekatnya, orang kaya yg meninggalkan rumah mewahnya, kemudian mengajak seluruh anggota keluarganya beribadah ke gereja tiap minggu, bisa saja rumahnya didatangi perampok atau terbakar, orang kaya ini menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus, orang kaya ini lebih memilih harta rohani, daripada harta duniawi yg bisa dirusak oleh rayap dan dicuri perampok. Saya masih percaya masih banyak orang kaya yg menjalankan perintahNya dengan tulus. Masih lumayan banyak dengan perbandingan 1:5 tapi memang lebih banyak orang miskin/sederhana yg masuk surga, tapi lumayanlah itu. Saya optimis jumlahnya pasti akan semakin banyak, orang kaya juga orang miskin sama-sama anak-anakNya, Tuhan Yesus selalu memberi tangan terbuka bagi anak-anakNya yg mencari kebenaran firmanNya.

Bagikan Komentar Kamu!