Apakah Media Sosial Membuat Kita Lebih Banyak Berdosa?

Info

apakah-media-sosial-membuat-kita-lebih-banyak-berdosa

Oleh Ian Tan, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Are We Sinning More on Social Media?

Hari itu jam 3 dini hari. Aku masih terjaga dan berusaha keras supaya bisa tertidur. Di atas kasur, aku mencoba berbagai macam posisi, namun semuanya itu tidak berhasi membuatku jatuh terlelap. Akhirnya, kuambil iPhoneku dan dengan segera kubuka aplikasi Facebook. Tanpa kusadari, setiap harinya, Facebook dan Instagram adalah aplikasi yang selalu aku buka.

Seperti biasanya, jariku mengusap-usap layar ponselku. Aku mengecek satu per satu update yang muncul di akun Facebookku. Dari sekian banyak konten yang muncul, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Konten itu berjudul “Astaga!” disertai sebuah video dengan keterangan “Seorang pengasuh menginjak-nginjak anak usia 2 tahun.” Karena penasaran, aku pun membuka video berdurasi 2 menit 40 detik itu. Video itu adalah sebuah rekaman CCTV di mana seorang wanita memukuli anak kecil karena dia menumpahkan makanannya. Kemudian, wanita yang sepertinya adalah seorang pengasuh itu membanting anak tersebut ke lantai. Tak berhenti di situ, kemudian dia mengambil sebuah benda mirip sisir, lalu memukuli punggung anak itu berkali-kali. Tatkala anak itu menangis, wanita itu malah menendang dan menginjak punggung anak itu.

“Apa perempuan ini gila?” tanyaku kepada diri sendiri. Video kekerasan itu membuatku merasa kesal dan marah.

Aku masih kesal dengan video kekejaman yang baru saja kulihat itu, tapi itu tidak membuatku berhenti menjelajah Facebook. Jariku terus mengusap layar dan mataku membaca tiap-tiap konten yang muncul. Tidak lama kemudian, aku terpaut pada sebuah video lain yang diberi judul “Haha…” Hanya dalam beberapa detik saja aku segera menyadari bahwa video itu bukanlah berisi candaan, melainkan sebuah kengerian yang tidak sepatutnya ditertawakan. Dalam video itu ada seorang siswi yang dipojokkan oleh tiga atau empat orang siswi lainnya. Secara bergiliran siswi yang malang itu dianiaya. Rambutnya dijambak, kemudian mereka menamparnya berkali-kali. Video itu membuatku marah, tapi aku jauh lebih heran dengan judul yang diberikan atas video itu. Bagaimana bisa ada orang yang merasa bahwa perilaku kekejaman itu dianggap lucu? Setelah melihat dua video itu, bukannya mengantuk, aku malah semakin tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, aku bercerita tentang video-video yang telah kutonton itu kepada temanku. Aku juga bercerita tentang betapa jahatnya komentar-komentar penonton video itu. Aku seolah tidak percaya kalau mereka mampu memberikan komentar sedemikian buruknya seperti itu. Tapi, dengan tenang temanku menjawab, “Memangnya kamu belum pernah melihat video di mana orang benar-benar dipenggal?”

Saat itulah aku menyadari apa yang sesungguhnya menjadi inti dari semua masalah ini. Kekejaman seperti yang aku lihat dalam dua video tadi malam sesungguhnya bukanlah hal baru. Yang membuatnya menjadi baru adalah akses orang-orang untuk menonton video seperti itu jadi semakin mudah dengan hadirnya media sosial. Kemajuan teknologi telah membuat media sosial menjadi panggung terbuka untuk mempertontonkan aksi-aksi kekejaman dan kekejian yang bisa dengan mudahnya diakses siapapun. Sangat disayangkan karena media sosial telah disalahgunakan menjadi suatu perantara untuk menyebarkan dan mengabadikan tindakan-tindakan manusia yang penuh dosa.

Jika seseorang menyaksikan tayangan-tayangan kekejaman seperti itu secara berkelanjutan, bisa saja dia akan kehilangan harapan bahwa ada keadilan bagi orang-orang yang lemah dan tertindas. Dunia ini seakan-akan memperlihatkan bahwa adalah sesuatu yang wajar apabila pelaku kejahatan dapat bebas begitu saja tanpa menanggung akibat dari perbuatannya.

Fenomena ini sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Jika kita membuka Alkitab dan membaca Mazmur pasal tiga, sekilas kita dapat melihat bagaimana dunia ini bisa menjadi begitu kejam. Raja Daud waktu itu telah kehilangan dukungan dari rakyat-rakyatnya yang percaya bahwa Tuhan telah meninggalkan Daud. Daud harus melarikan diri dari kejaran anaknya sendiri, yaitu Absalom yang berniat membinasakannya. Betapa menakutkannya peristiwa itu! Namun, kita bisa melihat bahwa di tengah peliknya masalah yang seolah tak ada lagi harapan itu, Raja Daud tetap yakin bahwa Tuhan akan melindungi, memulihkan, dan melepaskan dirinya dari tangan musuh-musuhnya (Mazmur 3:7-9).

Amsal 15:3 mengingatkan kita bahwa mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang yang jahat dan yang baik. Kepada orang-orang baik, Tuhan mengaruniakan berkat-Nya atas upah dari kesalehan mereka sehingga kita dapat melihat bahwa sesungguhnya Tuhan berkenan kepada hati yang tulus. Akan tetapi, bagi orang-orang yang jahat, Tuhan memperhatikan dan akan menghakimi mereka. Entah itu ketika mereka masih hidup di bumi, atau mungkin pada hari penghakiman terakhir nantinya (Mazmur 11:6-7).

Ketika aku mengetahui bahwa pada akhirnya Tuhan yang kupercaya akan bertindak, aku dapat terus berharap bahwa suatu saat nanti segala kekejaman dan kekacauan di bumi akan berakhir. Kelak, segala sesuatu akan dipulihkan-Nya.

Baca Juga:

Ketika Orang yang Kucintai Meninggalkanku

Aku begitu bahagia ketika akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat teman lelaki yang selama ini aku sukai. Aku merasa begitu bahagia ketika dia berkata bahwa dia mencintaiku, menyayangiku, dan tak ingin aku terluka. Akan tetapi, karena sebuah peristiwa yang tidak kuduga, dia pun pergi meninggalkanku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2017: Tren, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

5 Komentar Kamu

  • Jadi apakah media sosial yang dulu dengan naifnya dianggap bebas dengan pasti kini telah membungkam kita? Sebuah riset dari Pew Research Center menunjukkan bahwa media sosial nyatanya membuat kita semakin lebih terhambat dan cenderung untuk tidak mengekspresikan pandangan pribadi sesungguhnya dibandingkan kehidupan nyata.

  • Mauritska Regina

    kerennnn..

  • Ya pastinya, di medsos saya jadi iseng gangguin cewek, kepoin Instagram, facebook, ask.fm pokoknya hidup jadi iseng, jadi anonim, punya akun anonim. ya itu tujuannya hanya buat iseng godain cewek. tapi akhirnya sampai ke satu titik, untuk apa, toh dia gak welcome ke kita, jadi kesannya menganggu. sekarang sih udah tobat, buat cewek-cewek yg merasa terganggu dengan akun anonim, helly_gukguk minta maaf, helly_gukguk hanya pingin punya teman mungkin caranya yg salah. medsos buat dunia jadi kecil, tapi juga buat dunia jadi tidak asik.

  • semua ini, tegantung dari pemahaman masing2 setiap orang berdasarkan iman yg dimilikinya, Amin

Bagikan Komentar Kamu!