Tak Seekor Burung Pun

Info

Minggu, 28 Mei 2017

Tak Seekor Burung Pun

Baca: Matius 10:28-33

10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.

10:30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.

10:31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.

10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. —Mazmur 116:15

Tak Seekor Burung Pun

Di sepanjang hidupnya, ibu saya adalah seorang wanita yang sangat menjaga martabat dan perilakunya. Namun, kini ia terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit karena termakan usia. Pergulatan Ibu untuk bernapas dan kondisi fisiknya yang semakin menurun terasa sangat berlawanan dengan cerahnya suasana musim semi yang terlihat dari jendela kamar rumah sakit.

Meski secara emosional kami telah siap, tetap saja kami tak mampu menghadapi kenyataan dari perpisahan yang ada di depan mata. Kematian itu sungguh sebuah penghinaan! pikir saya.

Saya pun mengalihkan pandangan ke tempat pakan burung yang ada di luar jendela. Seekor burung terbang mendekati tempat itu untuk mematuk biji-bijian yang tersedia. Langsung terlintas di benak saya suatu frasa yang tidak asing lagi, “Seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Mat. 10:29). Yesus memang mengatakannya kepada murid-murid-Nya ketika Dia mengutus mereka untuk melayani di Yudea, tetapi prinsip itu juga berlaku bagi kita semua. “Kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit,” kata Yesus kepada mereka (ay.31).

Ibu saya bergerak-gerak dan membuka matanya. Ketika ingatannya kembali ke masa kanak-kanaknya, beliau mengucapkan sebuah istilah dalam bahasa Belanda untuk mengungkapkan kasih kepada ibunya dan menyatakan, “Muti sudah tiada.”

“Ya,” ujar istri saya. “Ia sudah bersama Yesus sekarang.” Masih tidak yakin, Ibu melanjutkan: “Joyce dan Jim?” Ia bertanya tentang saudara perempuan dan laki-lakinya. “Ya, mereka juga sudah bersama Yesus,” jawab istri saya. “Kita juga akan segera bersama mereka.”

“Aku sudah tak sabar lagi,” kata Ibu dengan lirih. —Tim Gustafson

Bapa Surgawi, hidup ini kadang terasa berat dan menyakitkan. Namun, Engkau selalu menyertai kami, mengasihi kami, menjaga kami, memegang kami! Dan Engkau berjanji takkan pernah meninggalkan dan menelantarkan kami.

Kematian adalah kegelapan terakhir sebelum terbitnya fajar surga.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 4-6; Yohanes 10:24-42

Artikel Terkait:

Matahari yang Direnggut

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

30 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!