Pengabdian Sepenuh Hati

Senin, 29 Mei 2017

Pengabdian Sepenuh Hati

Baca: Matius 6:1-6

6:1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. —Matius 6:1

Pengabdian Sepenuh Hati

Saya selalu terkesan akan kesederhanaan yang anggun dan khidmat dari upacara Pertukaran Prajurit Penjaga di Makam Pahlawan Tak Dikenal di Taman Makam Nasional Arlington. Acara yang dikoreografi dengan saksama itu merupakan penghormatan bagi para tentara yang namanya—dan pengorbanannya—“hanya dikenal oleh Allah”. Yang sama mengesankannya adalah momen-momen di saat tidak ada orang yang menyaksikan mereka: para prajurit itu tetap melangkah bolak-balik dengan teratur, jam demi jam, hari demi hari, bahkan dalam cuaca yang paling buruk sekalipun.

Ketika Badai Isabel sedang mengancam Washington, DC, pada September 2003, para penjaga dihimbau untuk mencari perlindungan. Seperti dapat diduga, para penjaga itu menolak melakukannya. Tanpa memikirkan kepentingan mereka sendiri, mereka tetap berjaga bahkan di tengah ancaman badai untuk menghormati rekan-rekan mereka yang telah gugur.

Saya percaya, dasar dari pengajaran Yesus dalam Matius 6:1-6 adalah kerinduan-Nya bagi kita untuk hidup dengan pengabdian yang tanpa pamrih dan tiada henti kepada-Nya. Alkitab memanggil kita untuk berbuat baik dan menjalani hidup dalam kekudusan, tetapi itu haruslah dalam penyembahan dan ketaatan (ay.4-6), bukan tindakan yang dibuat-buat untuk meninggikan diri (ay.2). Rasul Paulus mendorong pengabdian seumur hidup ini ketika ia menasihatkan kita untuk menyerahkan tubuh kita sebagai “persembahan yang hidup” (Rm. 12:1).

Baik sedang seorang diri atau ada di depan umum, kiranya kami dapat menunjukkan pengabdian dan komitmen kami yang sepenuh hati kepada-Mu, Tuhan. —Randy Kilgore

Berilah aku kekuatan hari ini, ya Tuhan, untuk bertekun, dan untuk memuliakan nama-Mu di mana pun aku melayani. Aku rindu menyerahkan diriku dalam pengabdian yang tanpa pamrih karena Engkau mengasihiku.

Semakin kita melayani Kristus, semakin enggan kita melayani diri sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 7-9; Yohanes 11:1-29

Bagikan Konten Ini
32 replies
  1. Rosinta Sibuea
    Rosinta Sibuea says:

    Amen saat melayani benar2 hanya untk Tuhan Yedus saja,kt hrs msu bayar harga,punya kerendahan hati,walau kt tdk salah tp kt dipersalahkan kt tetap minta ampun,dan mengampuni

  2. Hanna Yosi Simanjuntak
    Hanna Yosi Simanjuntak says:

    terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri maka engkau akan dapat mendengar suara Tuhan dgn damai. amin..

  3. dewi
    dewi says:

    aku msh jauh dri kata melayaniMu,ajari ku utk melakukan kehendakMu Mulai dri hal yg trkecil ya Tuhan.agar aku bisa dipercayakan perkara yg besar lg nnti…amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *