Mengarungi Derasnya Arus

Info

Jumat, 26 Mei 2017

Mengarungi Derasnya Arus

Baca: 1 Tawarikh 28:9-20

28:9 Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.

28:10 Camkanlah sekarang, sebab TUHAN telah memilih engkau untuk mendirikan sebuah rumah menjadi tempat kudus. Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.”

28:11 Lalu Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup pendamaian.

28:12 Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus;

28:13 mengenai rombongan-rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN.

28:14 Juga ia memberikan emas seberat yang diperlukan untuk segala perkakas pada tiap-tiap ibadah; dan diberikannya perak seberat yang diperlukan untuk segala perkakas perak pada tiap-tiap ibadah,

28:15 yakni sejumlah emas untuk kandil-kandil emas dan lampu-lampunya yang dari emas, seberat yang diperlukan tiap-tiap kandil dan lampu-lampunya, dan perak untuk kandil perak seberat yang diperlukan perak untuk satu kandil dan lampu-lampunya, sesuai dengan pemakaian tiap-tiap kandil dalam ibadah.

28:16 Kemudian diberikannya sejumlah emas untuk meja-meja roti sajian, meja demi meja, dan perak untuk meja-meja dari perak;

28:17 selanjutnya emas murni untuk garpu-garpu, dan bokor-bokor penyiraman dan kendi-kendi, juga untuk piala-piala dari emas seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala, dan perak untuk piala dari perak seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala;

28:18 juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub, yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian TUHAN.

28:19 Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu.

28:20 Lalu berkatalah Daud kepada Salomo, anaknya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab TUHAN Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau sampai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah Allah selesai.

Janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau. —1 Tawarikh 28:20

Mengarungi Derasnya Arus

Awalnya saya menikmati pengalaman pertama saya berarung jeram, tetapi kemudian saya mendengar debur arus air yang deras di depan saya. Emosi saya pun bercampur aduk—rasa ketidakyakinan, ketakutan, dan ketidakamanan muncul bersamaan. Mengarungi jeram merupakan pengalaman yang sangat menggentarkan! Namun kemudian, tiba-tiba saja, semua itu selesai. Pemandu kami yang duduk di bagian belakang rakit telah berhasil memandu kami melewati jeram itu. Saya aman—setidaknya sampai menghadapi jeram-jeram berikutnya.

Masa-masa transisi dalam hidup kita dapat diibaratkan berarung jeram. Kita mengalami loncatan-loncatan perubahan yang tidak dapat kita hindari dari satu masa kehidupan ke masa berikutnya—dari berkuliah ke berkarier, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari tinggal bersama orangtua menjadi tinggal sendiri atau bersama pasangan, dari masa kerja ke masa pensiun, dari masa muda menjadi masa tua. Semua perubahan itu ditandai dengan rasa tidak pasti dan tidak aman.

Dalam salah satu masa transisi terpenting yang pernah dicatat dalam sejarah Perjanjian Lama, Salomo mewarisi takhta dari ayahnya, Daud. Saya yakin pada saat itu ia dipenuhi dengan keraguan akan masa depannya. Apa nasihat ayahnya? “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; . . . sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau” (1Taw. 28:20).

Kita semua akan mengalami masa-masa transisi yang sulit dalam hidup ini. Namun, bersama Allah di dalam rakit kehidupan ini, kita tidak akan pernah sendirian. Dengan memusatkan pandangan kita kepada Pribadi yang memandu kita dalam melintasi jeram-jeram kehidupan, kita akan mengalami sukacita dan rasa aman. Bukankah Dia telah memandu banyak orang sebelum kita? —Joe Stowell

Allah akan memandu kita melintasi derasnya arus perubahan zaman.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 28-29; Yohanes 9:24-41

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

31 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!