Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

Info

jangan-melompat-masih-ada-harapan

Oleh Leslie Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Please Don’t Jump, There’s Hope

Hari itu, aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika seorang polisi datang dan mengetuk pintu kamar apartemenku. “Permisi, apakah kamu mengenal seorang wanita tua yang tinggal di lantai ini?”

Di belakang tempat polisi itu berdiri, ada sebuah kursi yang berada persis di sebelah pagar pembatas apartemen. Setahuku, kursi itu bukanlah kursi milik tetanggaku. Saat aku mengamati keadaan, aku melihat beberapa polisi telah hadir dan mereka membentangkan garis pembatas di sepanjang koridor lantai apartemenku. Melihat peristiwa itu, rasanya tidak sulit bagiku untuk menebak apa yang sedang terjadi. Di tahun-tahun yang lalu, apartemen tempat tinggalku adalah tempat yang populer untuk orang-orang bunuh diri karena dulu jarang ada gedung lain yang setinggi apartemenku.

“Sebenarnya, kebanyakan penghuni apartemen di sini sudah lansia,” jawabku kepada polisi. Kemudian aku teringat akan tetangga di sebelahku. Kulirikkan mataku ke arah jendelanya yang hanya berjarak 60 sentimeter dari tempatku berdiri. Melihat mataku terarah ke jendela, polisi itu pun mengikuti apa yang kulakukan, kemudian dia mengangguk dan berkata, “Tetanggamu ada di dalam kamarnya.” Aku pun merasa lega.

Kemudian, aku jadi teringat lagi tentang tetanggaku yang lain. Seorang yang tinggal beberapa kamar dari tempatku sebenarnya sedang mengalami depresi berat karena cacat yang dialaminya. Aku melirik ke arah kamarnya dan melihat pintu telah terbuka. Polisi-polisi yang datang terus menyusuri koridor dan mengetuk setiap pintu-pintu kamar. Aku melihat bayangan tangan tetanggaku itu, dan hatiku pun lega karena aku tahu dia sedang baik-baik saja.

Polisi yang berbicara denganku tadi kemudian bertanya kepadaku apakah aku keberatan untuk melihat foto wajah wanita tua itu. Dia ingin mengetahui apakah aku mengenal wanita itu atau tidak, namun setelah aku melihat fotonya, ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali.

Wanita tua itu mungkin tidak tinggal di apartemen ini. Mungkin saja dia tinggal di apartemen lain, dan sepertinya dia sudah merencanakan tindakan bunuh diri. Kursi yang kulihat itu mungkin saja adalah kursi yang dia bawa sendiri ke lantai 10 di gedung apartemenku, kemudian, di ujung koridor yang sepi ini dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat. Apartemenku adalah wilayah yang paling sepi di daerah ini, sehingga aksi bunuh diri yang dilakukan wanita itu tidak terelakkan karena tidak ada orang lain yang melihatnya.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu polisi itu. Aku pun melangkah keluar kamar dan pergi bekerja. Tapi, aku sempat melirik sejenak pagar pembatas itu. Tepat 10 lantai di bawah pagar, aku dapat melihat jenazah sang wanita tua itu tergeletak dan telah dibungkus dengan kain.

Aku berpamitan dengan polisi itu, berjalan melewati garis pembatas dan bergegas menuju lift. Sambil melangkah keluar, aku merasakan kesedihan di hati. Aku tidak mengenal siapa wanita tua itu, namun aku merasakan kesedihan mendalam. Tidaklah sulit untuk menebak alasan mengapa di apartemen yang banyak dihuni lansia ini ada seorang wanita tua memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat.

Mungkin dia hidup sebatang kara dan tak memiliki keluarga. Atau, jika dia memiliki keluarga, mungkin saja tidak tidak akrab dan merasa terbuang. Mungkin dia mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Mungkin dia merasa bahwa tidak ada lagi alasan baginya untuk terus hidup. Hidup tanpa kasih, tanpa tujuan, hanya ada rasa kesepian dan hidup yang hampa. Tidak ada lagi yang tersisa selain dari rasa putus asa.

Tidak ada lagi alasan untuk terus hidup. Tidak ada harapan.

Memilih kematian seolah menjadi satu-satunya jalan keluar. Satu-satunya sumber kelegaan.

Kalau saja aku dan istriku ada di luar kamar saat wanita tua itu hendak bunuh diri, maka bisa saja kami menghentikan aksi nekatnya itu. Jika saja ada seseorang yang memiliki kesempatan untuk memberitahu wanita itu: Jangan melompat! Harapan masih ada.

Harapan. Terkadang hanya harapanlah yang menjadi satu-satunya alasan bagi seseorang untuk terus melanjutkan hidupnya.

Ketika kamu kehilangan segalanya, dan seolah tidak ada masa depan lagi dalam hidupmu. Ketika semua hal tidak berjalan baik, dan juga seakan tidak mungkin membaik.

Apakah yang akan menghentikan kita untuk memilih jalan pintas? Apakah yang akan menghentikan kita untuk pergi ke lantai tertinggi sebuah gedung atau meminum obat sampai over dosis?

Harapan. Harapan bahwa suatu saat, entah bagaimana caranya, sesuatu akan membaik. Ada harapan di tengah rasa kesepian, ada seseorang di luar sana yang masih peduli kepada kita dan berkata, “Kamu sangat berarti bagiku. Jangan pergi, aku membutuhkanmu di dalam hidupku.” Masih ada harapan, sekalipun itu di tengah rasa keputusasaan. Seseorang akan datang mengulurkan tangannya, memberikan sebuah pelukan dan ia berkata, “Jangan khawatir, karena aku ada bersamamu. Aku akan berjalan bersamamu.”

Hanya ada satu Pribadi yang dapat memberikan kita harapan. Hanya ada satu Pribadi yang berjanji kepada kita bahwa Dia akan selalu ada di setiap langkah kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat memegang janji itu, karena Dia selalu bersedia mendengarkan kita. Hanya ada satu Pribadi yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat berkata kepada kita dengan penuh kepastian, “Jangan khawatir, Aku memiliki kuasa. Aku tahu bagaimana keadaanmu, dan Aku tahu apa yang harus diperbuat. Aku tahu apa yang kamu butuhkan.”

Pribadi itu adalah Yesus. Dia pernah hidup sebagai manusia biasa, Dia sangat tahu apa yang sesungguhnya kita rasakan. Kesedihan, kesepian, keputusasaan yang kita rasakan. Sebagai Anak Allah, Dia memiliki kuasa ilahi untuk mengatasi tiap situasi yang kita hadapi. Dia mengetahui bagaimana cara mendukung dan menghibur kita, dan Dia dapat memberikannya bagi kita.

Sebagian dari kita mungkin masih tetap harus menghadapi situasi yang sulit, namun kita memiliki sebuah jaminan pasti bahwa Dia akan berjalan bersama kita setiap hari, setiap jam, setiap menit. Dan yang paling penting di atas semuanya adalah, kita dapat terus melanjutkan hidup ini karena kita tahu Yesus mengasihi kita. Bagi Yesus, aku begitu berharga hingga Dia rela mati untuk menyelamatkanku. Dia memiliki tujuan untukku. Dia menempatkanku di dunia untuk suatu alasan. Dia mau aku hidup bagi-Nya.

Ketika seolah tidak ada lagi alasan untuk tetap hidup, ketika kita telah kehilangan segalanya, kita masih memiliki satu hal. Yesus memberi kita harapan. Harapan untuk hidup. Harapan untuk tetap percaya.

Jika saat ini kamu merasa putus asa, jika kamu ingin menyerah di dalam hidup ini, jika kamu telah mengambil sebuah kursi dan berjalan menuju lantai tertinggi, berhentilah. Aku mohon, berhentilah. Masih ada satu Pribadi yang mengasihimu. Yesus teramat sangat mengasihimu.

Baca Juga:

Mengapa Mission Trip Tidak Selalu jadi Program yang Tepat?

Pernahkah kamu mengikuti mission trip yang diadakan oleh gerejamu? Pada kenyataannya, kegiatan perjalanan misi yang nampak menyenangkan ini tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa demikian?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 05 - Mei 2017: Tujuan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!