Menampilkan Gambar Diri

Senin, 27 Maret 2017

Menampilkan Gambar Diri

Baca: Yesaya 43:1-9

43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

43:3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.

43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.

43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,

43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

43:8 Biarlah orang membawa tampil bangsa yang buta sekalipun ada matanya, yang tuli sekalipun ada telinganya!

43:9 Biarlah berhimpun bersama-sama segala bangsa-bangsa, dan biarlah berkumpul suku-suku bangsa! Siapakah di antara mereka yang dapat memberitahukan hal-hal ini, yang dapat mengabarkan kepada kita hal-hal yang dahulu? Biarlah mereka membawa saksi-saksinya, supaya mereka nyata benar; biarlah orang mendengarnya dan berkata: “Benar demikian!”

Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau. —Yesaya 43:4

Menampilkan Gambar Diri

Untuk memperingati ulang tahun Winston Churchill ke-80, parlemen Inggris menugasi Graham Sutherland untuk melukis potret negarawan terkenal itu. Konon Churchill bertanya kepada sang seniman: “Bagaimana kamu akan melukis saya? Seperti malaikat atau buldog?” Churchill menyukai kedua persepsi populer tentang dirinya itu. Sutherland pun berkata bahwa ia akan melukis seperti yang dilihatnya.

Namun, Churchill tidak senang dengan hasilnya. Lukisan karya Sutherland tersebut memperlihatkan Churchill sedang duduk di sebuah kursi dengan ekspresi muram yang menjadi ciri khasnya. Gambaran itu memang mirip dengan kenyataannya, tetapi tidak memikat. Setelah peluncurannya, lukisan itu pun disembunyikan Churchill di gudang bawah tanah. Lukisan itu kemudian dimusnahkan secara diam-diam.

Seperti Churchill, banyak dari kita memiliki gambar diri yang juga kita inginkan agar dilihat orang lain—baik itu menggambarkan kesuksesan, kesalehan, kecantikan, atau kekuatan. Kita berupaya keras untuk menyembunyikan “sisi buruk” kita. Mungkin di lubuk hati kita yang terdalam, kita takut orang tidak akan mengasihi kita jika mereka mengenali gambar diri kita yang sesungguhnya.

Bangsa Israel yang ditawan oleh kerajaan Babel berada dalam keadaan mereka yang terburuk. Karena dosa-dosa mereka, Allah memperkenankan para musuh untuk mengalahkan mereka. Namun, Dia meminta mereka untuk tidak takut. Dia mengenal nama mereka dan telah menyertai mereka dalam setiap kesulitan yang mereka alami (Yes. 43:1-2). Mereka aman di dalam tangan-Nya (ay.13) dan “berharga” di mata-Nya (ay.4). Meskipun mereka buruk, Allah tetap mengasihi mereka.

Apabila kebenaran yang luar biasa itu kita hayati sungguh-sungguh, kita tidak akan menggebu-gebu mencari pengakuan dan penerimaan dari orang lain. Allah mengetahui gambar diri kita yang sesungguhnya dan Dia masih mengasihi kita tanpa batas (Ef. 3:18). —Sheridan Voysey

Karena Allah begitu mengasihi kita, kita mampu menampilkan gambar diri kita yang sesungguhnya di hadapan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 1-3; Lukas 4:1-30

Artikel Terkait:

Aku (Ternyata Tidak) Bodoh

“Aku kecewa karena aku merasa diciptakan Tuhan sebagai seorang yang bodoh. Nilai-nilaiku di sekolah sejak kelas 1 SD selalu banyak merahnya. Melihat teman-teman yang punya ranking di kelas, aku sering merasa iri. Mengapa Tuhan ciptakan mereka pintar dan aku bodoh? Namun, sekalipun lebih sering belajar, tetap saja aku masih merasa bodoh. Sepertinya sia-sia berusaha, karena aku merasa memang aku ini diciptakan sebagai orang bodoh. Mau apa lagi?”

Baca kesaksian Helen Maria selengkapnya di dalam artikel berikut.

Bagikan Konten ini
19 replies
  1. maria risma
    maria risma says:

    “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” aminnnn !!!!!

  2. Aprima Tirsa
    Aprima Tirsa says:

    terima kasih Tuhan utk kasih-Mu yg begitu bsar dalam hidupku, kasih-Mu bnar nyata adanya

  3. Roland Voeller
    Roland Voeller says:

    baca renungan ini jd teringat trntang materi persekutuan doa wktu itu..
    kristen bukan hny agama yg dipeluk dan diyakini tapi kristen merupakan gaya hidup!
    gaya hidup untuj seturut dengan citra Kristus.
    dan lagu sekolah minggu ‘Ku istimewa’..

    slmt menjalani hari dan tetap berkarya dalam Kristus..
    Tuhan berkati

  4. galih
    galih says:

    Terpujilah ALLAH BAPA Yang Bertakhta di dalam Kerajaan Sorga , anugerah kasih setia-Mu sungguh selalu indah nyata banyak tangguh kekal tebal teguh tentram baik selalu bahagia murni menang terus tinggi luas lebar segar nyaman sejuk terang kuat abadi hebat besar sampai selama – lamanya buat kami semua , ampunilah segala dosa – dosa kesalahan – kesalahan kecerobohan – kecerobohan yang sengaja maupun tidak sengaja kami semua lakukan dari perkataan kami semua dan perbuatan kami semua , Engkau selalu memberikan sukacita damai sejahtera buat kami semua , kasih-Mu sungguh selalu terang buat kami semua , sertai , lindungilah , berkatilah kami semua untuk mampu menyebarkan kasih-Mu yang sungguh indah nyata banyak tangguh besar terhadap sesama kami senantiasa. Gbu us all. Amen

  5. trisna worms
    trisna worms says:

    Tak peduli apa yang Dunia katakan. Tak peduli apa yang aku pikirkan tentang diriku. Jika Tuhan katakan aku Berharga, demikianlah aku. Amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *