4 Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jika Kamu Jatuh Cinta pada yang Berbeda Iman

Info

4-pertanyaan-yang-perlu-dijawab-jika-kamu-jatuh-cinta-pada-yang-berbeda-iman

Oleh Noni Elina Kristiani, Surabaya
Ilustrasi gambar oleh Lily Elserisa

Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan dua kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosial membuatku secara alami mempunyai banyak kenalan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah di sekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah. Oleh karena itu, mayoritas teman-temanku berbeda iman denganku.

Dulu aku beranggapan bahwa tidak salah untuk jatuh cinta dengan mereka yang tidak mengenal Kristus. Karena bukan salahku jika aku tumbuh besar di lingkungan seperti itu, kan? Aku tumbuh menjadi seorang remaja yang ingin menikmati rasanya dicintai dan mencintai. Tidak ada yang bisa menghalangiku saat itu.

Hingga ketika aku berusia 17 tahun, aku mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Aku mengikuti sebuah retret yang akhirnya mengubah pola pikirku tentang bagaimana seharusnya aku hidup. Namun aku masih memiliki hubungan yang spesial dengan seseorang yang tidak mengenal Kristus.

Hubungan itu terus berlanjut selama 2 tahun. Tidak mudah untuk melepaskan seseorang yang waktu itu kuanggap sebagai cinta pertamaku. Namun seiring berjalannya waktu, Tuhan membentuk karakterku sedemikian rupa hingga membuatku mengerti bahwa hubungan itu tidak dapat berlanjut.

Aku mengerti bagaimana perasaan ketika jatuh cinta dengan mereka yang berbeda iman dan bagaimana sulitnya melupakan mereka. Perasaan itu sungguh nyata, namun aku sadar bahwa itu tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah inilah yang membantuku untuk merenung dan mengambil keputusan ketika diperhadapkan pada hubungan yang rumit dengan mantan pacarku yang berbeda iman. Jika kamu juga mengalami apa yang dulu pernah aku alami, semoga pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantumu juga.

1. Apakah dia dapat membawaku lebih dekat kepada Tuhan?

Salah satu ciri orang yang tepat adalah orang itu dapat membawamu semakin dekat kepada Tuhan. Bagaimana mungkin dia dapat membawamu semakin bertumbuh di dalam iman jika dia tidak mempercayai Yesus sebagai Sang Pemberi pertumbuhan? Tuhan tidak ingin kita berada dalam sebuah hubungan yang membawa kita menjauh dari Dia.

Ketika aku mulai belajar memiliki saat teduh setiap hari, aku ingin sekali mendiskusikannya dengan orang lain. Tapi aku tidak bisa mendiskusikannya dengan pacarku yang berbeda iman waktu itu. Ketika aku semakin memiliki waktu untuk Tuhan, aku kemudian menyadari bahwa hubungan itu tidak membawaku mendekat kepada-Nya.

2. Apakah aku memiliki waktu untuk melayani Tuhan?

Tuhan mengingatkan kita dalam Ibrani 10:25 supaya kita tidak menjauhi diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Bahkan Tuhan ingin kita terlibat dalam membangun gereja-Nya (Efesus 4:16). Apakah hubunganmu dengan dia membuatmu undur dalam pelayanan? Hal ini tentu saja tidak akan menjadi kesaksian yang baik bagi orang yang kita layani. Kita akan menjadi batu sandungan ketika kesaksian hidup kita tidak sesuai dengan pelayanan yang kita lakukan.

3. Seberapa besar kasihku pada anak-anakku kelak?

Apakah kamu cukup peduli dengan anak-anakmu di masa depan, ketika memilih calon Ibu/Ayah bagi mereka? Bagaimana kamu ingin mereka dibesarkan? Iman seperti apa yang ingin kamu tanamkan kepada mereka? Bagaimana mereka dapat mengenal Sang Juruselamat? Semua hal ini tidak bisa kita lakukan seorang diri saja. Hal inilah yang membuat kita memerlukan seorang pasangan yang memiliki iman yang sama dengan kita, untuk membangun sebuah keluarga yang takut akan Allah bersama-sama.

4. Apakah aku sungguh-sungguh mengasihi Tuhan?

Ketika aku merendahkan hati untuk datang kepada Tuhan dengan berdoa dan merenungkan firman-Nya, Tuhan menyatakan bahwa dia bukanlah yang terbaik bagiku. Firman-Nya sangat jelas dalam 2 Korintus 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang tidak percaya.” Pada akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu. Bukan dengan terpaksa, tapi karena aku ingin taat kepada Tuhan. Karena aku mengasihi-Nya.

Markus 12:30 mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Aku mengakui tidak mudah untuk melupakan mantan pacarku yang berbeda iman, namun aku diingatkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan kekuatanku. Aku ingin mengasihi-Nya melebihi apapun meski harus mengorbankan perasaan cintaku. Pada akhirnya, aku boleh dipulihkan dari perasaan cinta itu dan dibawa kepada pengertian yang benar tentang kasih yang sejati.

* * *

Kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita miliki. Kita tidak bisa mengasihi jika kita tidak memiliki kasih yang sejati. Tuhan Yesuslah kasih yang sejati itu. Kasih Tuhanlah yang membuatku menyadari bahwa rencana-Nya indah dalam hidupku. Dia rindu memberikan pasangan hidup yang terbaik bagiku, tetapi pertama-tama aku harus melepaskan apa yang selama ini aku genggam, yaitu perasaanku pada dia yang berbeda iman denganku. Karena itulah, aku rela melepaskan apa yang tidak dikehendaki-Nya, dan memberikan seluruh hatiku untuk mengasihi-Nya.

Baca Juga:

Mengapa Aku Memutuskan untuk Mengendalikan Lidahku

Seringkali aku kehilangan kendali atas emosiku sehingga aku terjebak dalam kekhawatiran dan rasa depresi. Kata-kata yang kuucapkan telah menyakitiku dan juga orang lain. Aku menegur diriku kembali. Aku merasa tidak layak menjadi seorang Kristen. Bahkan aku merasa sangat malu untuk menghadap Tuhan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 03 - Maret 2017: Dilema, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

9 Komentar Kamu

  • Ka saya ingin bertanya, saya pernah pacaran dengan orang yang beragama katholik dan saya beragama Kristen-Protestan. Apakah itu bisa disebut dengan pacaran berbeda Iman? Padahal kita sama” mengenal Tuhan Yesus. Terima Kasih

  • Nice, luar biasa dan sangat memberkati. Sesuai dgn apa yg pernah kualami
    God Bless 😉

  • untuk pasangan yg seiman hrus juga membawa pasanganny lebih dekat kepada Allah…

    krna tanpa Dia semua perjalanan akan sia-sia

    God Bless Us

  • Terima kasih buat kesaksiannya…kiranya dapat menjadi berkat buat pemuda pemudi dlm membangun hubungan yang berkenan bagi Tuhan.

  • Izin saya mau bertanya ,
    kalau pasangan kita yg berbeda iman meminta kepada saya untuk mengenal Tuhan Yesus , dan ingin menerima Tuhan Yesus sbg juru selamat di dlm hidupnya ,
    tindakan apa yg harus kita lakukan ?
    Terimakasih

  • ” Kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita miliki. Kita tidak bisa mengasihi jika kita tidak memiliki kasih yang sejati.”

    Manny thanks for this words 🙂

  • Ada baiknya segera undur diri jika sejak awal Tuhan sudah menghalangi pertemuan pertama, atau baca gelagat tidak sejalan dalam pola pikirnya. Gbu.

  • @rinus s lubis Bagikan Injil Kristus kepada dia. Ceritakan bagaimana semua manusia berdosa, diperbudak oleh dosa, dan layak untuk mendapat hukuman yang kekal (Roma 3:23, Yohanes 8:34, Roma 6:23). Ceritakan bahwa kita semua layak untuk dibinasakan. Namun, jangan berhenti di sana.

    Perkenalkan dia kepada Yesus Kristus yang menjadi korban bagi kita (Yesaya 53). Yesus mati agar kita hidup kekal dan dapat mengenal Bapa. Yesus mati agar hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada kita menjadi tanggungan-Nya. Pada hari yang ketiga Dia bangkit, menandakan bahwa Yesus menang atas maut – dan kita juga bisa berkemenangan atas dosa yang begitu mengikat, jika kita percaya dan bertobat. Tantang dia untuk menerima Yesus sebagai Tuhan, Raja, dan Juruselamat pribadi dalam hidupnya. Berdoalah bersama dia sbg tanda komitmen penyerahan diri kepada Kristus.

  • Teman teman saya mau bertanya:
    Kan bacaan di atas jika kita “sudah” pacaran. Nah jika kita “belum” pacaran, tetapi hanya dekat dengan orang yang beda iman tersebut bagaimana ya? Terimakasih sebelumnya

Bagikan Komentar Kamu!