Untuk Acara Apa?

Info

Kamis, 2 Februari 2017

Untuk Acara Apa?

Baca: Pengkhotbah 3:9-17

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.

3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

3:16 Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.

3:17 Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”

Segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya. —Pengkhotbah 3:14

Untuk Acara Apa?

Wajah Asher yang masih berumur 4 tahun itu terlihat ceria di bawah tudung kaos kesukaannya. Kaos lengan panjang dengan tudung kepala berbentuk buaya itu lengkap dengan rahang bergigi yang terlihat seperti menerkam kepalanya! Ibunya sempat cemas. Mereka sekeluarga hendak berkunjung ke rumah kerabat yang sudah lama tidak mereka temui dan ia ingin memberikan kesan yang baik.

“Sayangku,” kata ibunya, “kaos itu tidak cocok untuk acara kita nanti.”

“Cocok!” ujar Asher dengan ceria.

“Hmm, untuk acara apa?” tanya ibunya. Asher menjawab, “Yah, untuk semuanya!” Akhirnya, ia pun diizinkan ibunya memakai kaos itu.

Anak laki-laki yang ceria itu rupanya sudah memahami kebenaran yang ada di Pengkhotbah 3:12—“Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.” Kitab Pengkhotbah kadang terasa muram dan sering disalah mengerti karena isinya ditulis dari sudut pandang manusia dan bukan Allah. Raja Salomo sebagai penulisnya bertanya, “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?” (ay.9). Namun di sepanjang kitab itu, kita melihat pengharapan di sana-sini. Salomo juga menulis: “Bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (ay.13).

Kita melayani Allah yang memberikan segala sesuatu yang baik untuk kita nikmati. Segala sesuatu yang dilakukan Allah “akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14). Ketika kita mengakui Dia dan taat mengikuti perintah-Nya yang penuh kasih, Dia mengisi hidup kita dengan tujuan, makna, dan sukacita. —Tim Gustafson

Ya Tuhan, tolonglah kami mengalami kembali sukacita sederhana seperti yang dirasakan anak-anak ketika kami menghargai segala pemberian-Mu yang baik.

Tuhan yang menjadikan kamu menghendakimu untuk menjadikan Dia sebagai pusat hidupmu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 29-30; Matius 21:23-46

Artikel Terkait:

Aku Ingin Hidup Nyaman—Apakah Itu Salah?

Adakah yang salah dengan menginginkan hidup nyaman? Untuk menjawab pertanyaan ini, Julian memiliki 5 pertanyaan yang dapat kita renungkan.

Baca selengkapnya di dalam artikel berikut.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

17 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!