Napas Hidup

Jumat, 20 Januari 2017

Napas Hidup

Baca: Kejadian 2:4-8

2:4 Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, —

2:5 belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu;

2:6 tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu–

2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Ketika itulah Tuhan Allah . . . menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. —Kejadian 2:7

Napas Hidup

Pada suatu pagi yang dingin dan membeku, saat saya dan putri saya berjalan bersama menuju sekolahnya, kami sangat senang melihat hembusan napas kami berubah menjadi uap. Kami tertawa geli melihat bermacam-macam bentuk uap yang dihasilkan dari hembusan napas kami. Saya mensyukuri momen itu, karena saya dapat menikmati kebersamaan dengan putri saya dan merasakan hidup.

Hembusan napas kami yang biasanya tidak terlihat itu tampak di udara dingin, dan itu membuat saya memikirkan tentang Sumber dari napas dan hidup kita—Allah Pencipta kita. Dia, yang menciptakan Adam dari debu tanah dan memberinya napas hidup, juga memberikan hidup kepada kita dan setiap makhluk ciptaan-Nya (Kej. 2:7). Segala sesuatu berasal dari-Nya, bahkan napas yang kita hirup tanpa memikirkannya.

Karena sekarang kita mempunyai banyak kemudahan dan teknologi, kita mungkin cenderung melupakan asal mula kita dan kenyataan bahwa Allah sebagai sumber hidup kita. Namun ketika kita berhenti sejenak untuk mengingat bahwa Allah adalah Pencipta kita, kita dapat menjadikan ucapan syukur sebagai kebiasaan kita sehari-hari. Kita dapat meminta pertolongan-Nya sambil menyadari dengan rendah hati dan penuh syukur bahwa hidup kita adalah anugerah. Kiranya ucapan syukur kita terus melimpah dan menyentuh hati orang lain, sehingga mereka juga akan bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan dan kesetiaan-Nya. —Amy Boucher Pye

Bapa Surgawi, Engkau sungguh Allah yang dahsyat dan mengagumkan! Engkau menciptakan kehidupan dengan napas-Mu sendiri. Kami memuji-Mu dan mengagumi-Mu. Terima kasih untuk karya ciptaan-Mu.

Bersyukurlah kepada Allah, Pencipta kita, yang memberi kita napas hidup.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 49-50; Matius 13:31-58

Artikel Terkait:

Ketika Aku Kehilangan Orang yang Kukasihi

Bagaimana caramu memelihara kenangan tentang orang terkasih yang sudah meninggal dunia? Kenangan akan orang-orang yang terkasih ini membuat Peerapat merenungkan kembali mengapa kita harus menghadapi kematian.

Bagikan Konten ini
21 replies
  1. silvya
    silvya says:

    Tuhan Yesus,q gk sanggup lagi hadapi pergumulan q. Tuhan Yesus,bwtlah Sh**** hr ni smngat bljar& mendapatkan nilai 100 bsok,Tuhan.Amin

  2. Christianti Rehulina Sitepu
    Christianti Rehulina Sitepu says:

    skrg pas sekali genap usia putriku 3 th. dri renungan hri ini ak bljar bersyukur dianugerahkan putri dan putra yg bgtu lucu. yrimakasih Tuhan atas segala yg Engkau anugerahkan.

  3. Hendri matalu
    Hendri matalu says:

    Terimakasih Tuhan u firmanmu Hari INI,ampuni anakmu yg selalu Lupa u mengucap syukur atas berkatmu …..

  4. arifah
    arifah says:

    Bapa surgawi aq bersyukur dgn nafas khdp yg Engkau bri,aq percy mha suci Allah Tuhan semest alm. Dari Allah aq ada unt Allah kuhdp dan kpd Allah aq kembali.Mh bnr Allah dgn sgl firman Nya.

  5. Jimmi
    Jimmi says:

    Terima Kasih ya Tuhan buat Nafas Kehidupan dan Kesehatan yang masih engkau berikan pada kami sampai dengan sekarang ini..,

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *