Ingatlah Saatnya

Info

Jumat, 13 Januari 2017

Ingatlah Saatnya

Baca: Mazmur 126

126:1 Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”

126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.

126:4 Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. —Mazmur 126:3

Ingatlah Saatnya

Putra kami bergumul dengan kecanduan narkoba selama tujuh tahun, dan selama masa itu saya dan istri menjalani hari-hari yang sungguh sulit. Di saat kami berdoa dan menantikan pemulihannya, kami belajar mensyukuri kemenangan-kemenangan kecil yang terjadi. Jika tidak terjadi sesuatu yang buruk sepanjang 24 jam, kami akan saling mengatakan kepada satu sama lain, “Hari ini berlalu dengan baik.” Kalimat singkat itu mengingatkan kami untuk mensyukuri pertolongan Allah atas hal-hal yang sederhana.

Mazmur 126:3 jauh lebih baik dalam mengingatkan kita pada belas kasihan Allah dan betapa berartinya karya-Nya bagi kita: “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Sungguh ayat yang sangat indah untuk kita renungkan sembari terus mengingat belas kasihan yang kita terima dari Tuhan Yesus yang tersalib! Segala kesusahan yang dialami tiap-tiap hari tidak dapat mengubah kebenaran ini: Apa pun yang kita alami, Tuhan telah menunjukkan kebaikan-Nya yang tak terselami kepada kita, dan “untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 136:1).

Ketika kita pernah menghadapi suatu situasi sulit dan mengalami sendiri bahwa Allah itu setia, ingatan pada pengalaman tersebut akan sangat menolong kita pada saat situasi sulit berikutnya melanda. Kita mungkin tidak tahu bagaimana cara Allah membawa kita melalui situasi-situasi tersebut, tetapi kebaikan-Nya di masa lalu memampukan kita untuk percaya bahwa Dia akan kembali menolong kita. —James Banks

Kasih setia-Mu berlimpah terus, ya Khalik, Pembela dan Kawan kudus. Robert Grant (Kidung Jemaat, No. 4)

Di saat kita tak bisa melihat tangan Allah, kita bisa mempercayai hati-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 31-32; Matius 9:18-38

Artikel Terkait:

Rencana Tuhan di Balik Retaknya Keluargaku

Sejalan dengan waktu, mama dan papa memutuskan untuk berpisah. Aku pun mengalami trauma dan dilema yang cukup besar. Aku merasa tidak bisa dekat dengan seseorang karena aku takut disakiti dalam sebuah relasi. Namun, melalui peristiwa ini, aku melihat bimbingan Tuhan yang ajaib.

Baca kesaksian Felicia selengkapnya di dalam artikel ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

21 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!