Waktu Pribadi Bersama Allah

Jumat, 30 Desember 2016

Waktu Pribadi Bersama Allah

Baca: Matius 14:13-23

14:13 Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.

14:14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”

14:16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”

14:17 Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.”

14:18 Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”

14:19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.

14:20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.

14:21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

14:22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

14:23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. —Matius 14:23

Waktu Pribadi Bersama Allah

Pagi itu suasana di kelas sekolah Minggu tempat saya melayani sangat ramai. Sekitar 12 anak kecil terus berceloteh dan bermain di ruangan. Karena banyaknya kegiatan yang berlangsung, ruangan kami menjadi panas. Saya pun membuka pintu ruangan dan mengganjalnya. Seorang anak laki-laki melihat itu sebagai kesempatan untuk kabur. Ia pun berjingkat keluar dari ruangan, mengira tidak ada yang memperhatikannya. Setelah membuntutinya, saya pun tidak heran menemukan bahwa ia mencari ayahnya dan langsung memeluknya.

Anak kecil tersebut melakukan apa yang perlu kita lakukan ketika hidup menjadi begitu sibuk dan membuat kita kewalahan—ia menyelip keluar agar bisa bersama ayahnya. Tuhan Yesus mencari kesempatan agar bisa menghabiskan waktu bersama Bapa Surgawi-Nya di dalam doa. Ada yang berpendapat bahwa mungkin itulah cara-Nya mengatasi berbagai tuntutan yang telah menguras tenaga-Nya sebagai manusia. Menurut Injil Matius, Yesus sedang pergi ke suatu tempat terpencil ketika orang banyak mengikuti Dia. Melihat kebutuhan mereka, Yesus melakukan mukjizat dengan menyembuhkan mereka dan memberi mereka makan. Namun setelah itu Dia “naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri” (Mat. 14:23).

Tuhan Yesus berulang-ulang menolong banyak orang, tetapi Dia tidak membiarkan diri-Nya menjadi kepayahan dan tergopoh-gopoh. Dia selalu memupuk hubungan-Nya dengan Allah melalui doa. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan menyediakan waktu pribadi bersama Allah untuk mengalami kekuatan dan kepuasan sejati dari-Nya? —Jennifer Benson Schuldt

Dari mana kamu menemukan kepuasan yang lebih besar—dari usaha kamu memenuhi segala tuntutan hidup ini atau dari hubungan kamu dengan Sang Pencipta?

Ketika kita mendekat kepada Allah, pikiran kita disegarkan dan kekuatan kita diperbarui!

Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 13-14; Wahyu 21

Artikel Terkait:

Ulasan Buku: Waktu Bersama Tuhan

Penting isinya. Praktis penyampaiannya. Buku karya Jean Flemming ini tidak hanya memberi wawasan bagi orang yang baru belajar bersaat teduh, tetapi juga menyegarkan kita yang sudah bertahun-tahun mempraktikkannya. Bagaimana agar saat teduh kita tidak menjadi sekadar rutinitas tanpa makna?

Bagikan Konten ini
18 replies
  1. Maria Mahdalena
    Maria Mahdalena says:

    Tuhan, ajarku selalu menyediakan waktu khusus buat Bapa, sebab hanya dari padaMu ada kekuatan dalam hidupku. Amin.

  2. trisna worms
    trisna worms says:

    Setiap waktu sangat berharga, biarlah dgn hidupku yg masih Kau anugerahkan kupakai untuk selalu dekat dgn Mu-trimakasih Tuhan Yesus. Amin

  3. Risaia
    Risaia says:

    Dan satu hal yang perlu diingat, kita memberikan waktu sisih bukan waktu sisa untuk Tuhan 🙂
    Gbu all 🙂

  4. Yesso Iskandar
    Yesso Iskandar says:

    terima kasih utk Renugan ini, sungguh sangat memberkati saya, apapun kesiapan, kesanggupan, kepentingan kita dlm keseharian, bagaimanapun juga harus TETAP sllu menjaga hubungan DEKAT dgn TUHAN ktn itu adalah hal yg utama dan terutama.
    Tanpa TUHAN dalam kehidupan, pekerjaa dan keluarga, maka sia-sialah hidup kita ini, karena TUHAN lah sumber segala sukacita dan pengharapanku. Terima Kasih TUHAN YESUS…, aminn

  5. Alex Tan
    Alex Tan says:

    yesss……hanya di dalam Dia dan bersama Dia kita beroleh kekuatan baru. Sempatkan waktu berdua dengan Nya

  6. icalpenyok
    icalpenyok says:

    Trimakasih Bapa untuk berkat” Mu yg sdh kami terima bersamaMu kami mampu mengelola ini semua dengan baik & selalu mengucap syukut, Amin.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *