Kesaksian Sederhana

Info

Selasa, 27 Desember 2016

Kesaksian Sederhana

Baca: 2 Petrus 1:12-21

1:12 Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima.

1:13 Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini.

1:14 Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

1:15 Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.

1:16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.

1:17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

1:18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.

1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

1:20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,

1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. —2 Petrus 1:16

Kesaksian Sederhana

Tawa keras tiba-tiba keluar dari kamar rumah sakit tempat ayah saya dirawat. Di kamar itu berkumpul dua pengemudi truk berusia lanjut, seorang mantan penyanyi lagu country, seorang perajin, dua wanita dari peternakan, dan saya sendiri.

. . . lalu orang itu bangun dan memukul kepalaku dengan botol,” kata sang perajin saat mengakhiri ceritanya tentang perkelahian yang dialaminya di sebuah bar.

Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar kisah pedih yang sekarang terdengar lucu itu. Ayah pun ikut tertawa, meski ia sulit bernapas dengan baik karena kanker yang menggerogoti paru-parunya. Sambil terengah-engah, ia mengingatkan setiap orang di situ bahwa saya adalah seorang pengkhotbah, sehingga mereka harus berhati-hati dalam berbicara. Kami semua sempat terdiam, sebelum kembali tertawa lepas karena cerita lucu tadi.

Tiba-tiba saja, kira-kira 40 menit sejak kedatangan mereka, perajin teman Ayah itu mengucapkan sesuatu dengan serius sambil memandang ayah saya. “Howard, sekarang aku tak lagi minum-minum dan berkelahi di bar. Itu adalah kisah masa lalu. Sekarang aku mempunyai tujuan lain dalam hidupku. Aku ingin menceritakan padamu tentang Juruselamatku.”

Ia pun menceritakan kesaksiannya, walau sempat diprotes oleh ayah. Saya belum pernah mendengar penyampaian berita Injil seindah dan selembut itu. Ayah menyimak dan memperhatikan kesaksian temannya itu. Beberapa tahun kemudian, ayah saya mau menyerahkan hidupnya dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Suatu kesaksian sederhana dari seorang teman lama yang hidup dengan sederhana itu kembali mengingatkan saya bahwa sederhana tidak berarti bodoh atau lugu, melainkan lugas dan apa adanya.

Sama seperti Tuhan Yesus dan keselamatan dari-Nya. —Randy Kilgore

Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku. —Matius 28:19

Bacaan Alkitab Setahun: Zakaria 1-4; Wahyu 18

Artikel Terkait:

Pengalamanku Merasakan Gempa Nepal 2015

Seorang teman kita dari Singapura pernah merasakan gempa Nepal 2015. Hingga sekarang, setiap kali dia mendengar suara yang serupa dengan alarm gempa bumi, tubuhnya secara otomatis menjadi kaku dan langsung bereaksi seakan ada bahaya. Bagaimana pengalamannya? Baca kisah selengkapnya di dalam artikel berikut.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

9 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!