Damai Natal di Media Sosial

Info

damai-di-media-sosial

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Selama bertahun-tahun umat Kristiani di Indonesia merayakan Natal dengan berbagai semaraknya, namun di penghujung tahun ini kita cukup diguncang. Menjelang Natal, sempat terjadi pengeboman sebuah gereja di Samarinda, yang kemudian disusul kasus pembubaran ibadah Natal di Sabuga. Wacana pelarangan ucapan Natal beserta pembatasan ornamen khas Natal juga menyebar di mana-mana.

Tidak hanya di media massa, pembahasan mengenai isu ini bahkan berlangsung lebih panas di media sosial. Masyarakat Indonesia yang sejak dulu sepakat mengenai toleransi beragama sesuai sila pertama Pancasila, kini seolah terbagi menjadi kubu-kubu yang mendefinisikan toleransi dengan versi masing-masing. Tak jarang, sesama rekan seiman juga ikut-ikutan reaktif terlibat dalam perdebatan ini dan hanya berujung pada distorsi makna Natal yang sebenarnya.

Apa sih arti Natal sehingga kita sebegitu ngotot membelanya? Kalau Natal bagi kita adalah selebrasi untuk senang-senang, ramai-ramai, dan ngumpul-ngumpul, berarti Natal yang kita bela tidak lebih dari sepaket acara hiburan. Kalau Natal bagi kita merupakan sebuah ritual agama tahunan yang wajib diikuti, berarti Natal yang kita bela hanyalah program institusi gerejawi belaka.

Bila merujuk pada makna Natal dalam Alkitab, kelahiran Kristus tidak pernah tentang ornamen dan hingar-bingar perayaan, melainkan demonstrasi kasih Allah dan turunnya damai sejahtera di atas bumi. Ketika kita membahas mengenai Natal di media sosial maupun saat menanggapi komentar orang lain yang tidak sepaham, sudahkah kita memegang teguh motif damai tersebut?

Kita seringkali lupa bahwa di balik setiap akun media sosial ada seorang manusia, yang punya perasaan, pemikiran, martabat dan nilai-nilainya sendiri. Terlepas dari apa kepercayaan mereka, mereka juga membutuhkan Kristus. Jika kita ikut-ikutan tersulut provokasi lalu merespons berbagai komentar seputar Natal tanpa intensi mengasihi, maka kita sudah menutup jalan bagi pemberitaan kabar baik.

Dalam pergumulan bangsa kita mengenai Natal, pertama-tama hendaklah kita juga mengambil waktu untuk refleksi pribadi dan menggumulkan, sudahkah Juruselamat itu hadir dalam hati kita dan tercermin melalui kehidupan kita? Puluhan kali mengikuti perayaan Natal selama hidup kita, kiranya kita tidak hanya mengulang-ulang aktivitas rohani tanpa berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.

Dalam harapan kita akan suasana Natal yang kondusif dan hangat di Indonesia, hendaklah kita tidak hanya berkomentar di media sosial, namun juga mendoakan keamanan bangsa ini. Karena surga bersorak sorai bukan ketika kita merayakan Natal dengan gegap gempita, tetapi ketika melalui kita, ada orang yang menjadi percaya. Kiranya damai dan sukacita Natal itu tidak hanya benderang di lingkup gereja dan persekutuan, tetapi bahkan terpancar juga di tiap-tiap akun media sosial kita.

Selamat merayakan Natal bagi teman-teman di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Kisah Orang Majus Keempat

Ketika aku merenungkan kembali tentang Natal, aku teringat akan sebuah kisah fiksi yang pernah aku baca beberapa tahun lalu tentang kisah orang Majus keempat, yang bernama Artaban. Kisah ini dimuat pada sebuah majalah rohani yang tergeletak di ruangan kelasku di SMA. Aku membacanya beberapa kali dan kemudian menulisnya kembali dalam secarik kertas dan kusimpan baik-baik. Kisah ini mengingatkanku untuk belajar dari teladan yang diberikan oleh Artaban.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2016: Mengalami Bahagia Memberi, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

4 Komentar Kamu

  • let’s spread God’s love n peace..

  • terima lasih Tuhan Yesus .. karena Engkau mau datang ke dunia sebagai juruslamat kita semua yg percaya .. amin.

  • tulisannya bagus. membukakan pikiran kita bagaimana harus bersikap

  • Sangat mendamaikan sekali. ya..medsos sangat panas sekali saat ini..apalagi ada yg melaporkan penistaan agama. damai natal jd hilang..argumen berhamburan..lebih2 lagi..Tuhan kita diolok-olok di medsos..disangkal keberadaan n kekudusanNya. Tapi aq yakin Bapa di Sorga maha sabar dan akan hitung satu-satu apa yg telah diperbuat dan akan jd timbanganNya nanti.

Bagikan Komentar Kamu!