Berbagi Takjil di Perempatan Lampu Merah

Info

berbagi-takjil-di-perempatan-lampu-merah

Oleh Noni Elina Kristiani, Surabaya

Langit senja begitu indah sore itu ketika aku tengah berada dalam perjalanan menuju rumah. Selama kuliah di luar kota, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman setiap dua minggu sekali. Hal yang paling aku sukai ketika dalam perjalanan adalah aku bisa menikmati waktu bersama Tuhan. Mengendarai sepeda motor selama satu setengah jam cukup membuat seorang sanguinis sepertiku bosan. Jadi aku sering menyanyikan lagu-lagu pujian atau mengobrol dengan Tuhan seakan Dia juga berkendara bersamaku. Aku hanya berharap pengguna jalan lain tidak menganggapku gila karena melihatku berbicara sendiri.

Di tengah-tengah perjalanan, suara azan magrib berkumandang bersama dengan suara sirine yang cukup panjang. Ya, saat itu adalah bulan puasa bagi umat Muslim. Terbersit dalam benakku, apa yang bisa aku lakukan untuk menunjukkan kasih kepada mereka?

Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya aku sampai dengan selamat di rumah. Suasana rumah memang selalu membuatku rindu. Bau temboknya, suhu ruangannya, bahkan wangi yang ada di dalam lemari pun begitu khas rasanya. Memang tidak ada yang lebih nyaman selain di rumah. Ketika di rumah, kegiatan memasak selalu tidak terlewatkan.

“Mbak Ana* juga pulang kampung lho,” kata adikku ketika makan malam.

“Oh ya? Kalau gitu Mbak mau WhatsApp dia ah, biar kita bisa ketemuan,” aku begitu antusias untuk bertemu dengan saudara perempuanku yang satu itu.

Meskipun kuliah di kota yang berbeda, aku dan Ana adalah teman satu sekolah selama SMK dan aku tinggal di rumahnya hingga lulus. Rumah kami berbeda kabupaten, jarak yang perlu ditempuh hanya 30 menit saja. Aku merindukannya, dia saudara perempuan yang sangat berarti bagiku. Meski aku dan dia berbeda iman, hubungan kami sangat dekat. Sejak kecil kami sering berbagi cerita, kami memiliki hobi dan selera makanan yang sama. Aku benar-benar kangen untuk bertemu Ana.

Malam itu setelah menikmati obrolan bersama adik laki-lakiku, aku memasuki kamar. Sedangkan obrolanku dengan Ana di WhatsApp terus berlanjut.

Noni: “Jadi besok sore aku ke sana yaa…”

Ana: “Oke, tapi sorenya aku ada kegiatan bagi-bagi takjil gratis lho.”

Noni: “Kalau gitu aku boleh ikutan?”

Aku kaget dengan pertanyaanku sendiri. Tapi mengapa tidak? Tiba-tiba hatiku begitu menggebu-gebu menantikan jawaban dari Ana. “Tuhan, mungkinkah ini kesempatan yang Kau beri?” ujarku dalam hati.

Beberapa menit kemudian Ana membalas chat-ku.

Ana: “Boleh. Ikut aja…”

* * *

Aku menatap diriku di cermin. Apakah aku sudah menggunakan baju yang tepat? Haruskah aku mengikat rambutku atau mengurainya saja? Padahal aku hanya akan pergi membagi-bagikan takjil di perempatan lampu merah, bukannya mau pergi kencan. Tapi mengapa aku begitu gugup? Ternyata hal ini tidak semudah yang aku pikirkan semalam. Sempat terbersit dipikiranku untuk membatalkannya, tapi setelah berdoa aku merasa Tuhan tetap ingin aku melakukannya. Oke, baiklah.

Aku jadi teringat ketika aku dan Ana masih kecil. Saat itu kami berumur 8 tahun, Ana tengah menginap di rumahku. Dia mengajarkanku cara membaca huruf Arab.

“Sini Nin, aku ajari kamu ngaji ya. Ini bacanya Alif, Ba’, Ta’, Tsa’…,” kata Ana.

Aku pun menirukan bagaimana caranya membaca sambil melihat huruf-huruf itu. Dan di hari Minggu aku mengajak Ana pergi ke gereja untuk ikut Sekolah Minggu. Kami begitu senang saat itu, kami berbagi apa pun yang kami ingin bagikan tanpa berpikir panjang. Setelah kami bertumbuh dewasa, aku dan Ana benar-benar mendalami iman kami masing-masing. Kami saling mengasihi satu sama lain, sehingga kalaupun bertengkar, kami bisa dengan mudah baikan. Aku jadi merindukan masa-masa kami bersama dahulu, saling berbagi dalam kasih tanpa mempertimbangkan banyak hal.

Aku memantapkan hatiku ketika bertemu dengan Ana. Seperti biasa kami selalu heboh ketika bercerita dan kami suka menertawakan hal-hal sepele yang kami anggap lucu. Hari sudah pukul 5 sore dan kami pun berangkat menuju perempatan lampu merah di pusat kota. Sesampainya di tempat, belum ada satu pun rekan yang hadir. Ana lalu menelepon seseorang dan menyalakan loudspeaker ponselnya sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka.

“Halo Mbak, Aku sama Noni sudah di lokasi. Mbak lagi di mana?” tanya Ana kepada temannya yang ada di balik telepon.

“Ini dek, sebentar lagi kami berangkat. Eh iya, tapi Noni nggak pake kalung salib ‘kan? Atau atribut salib lainnya gitu?” tanyanya.

Ana kontan menatapku sambil tersenyum canggung. Aku hanya tidak tau harus bersikap bagaimana ketika mendengar pertanyaan itu dan hanya balas tersenyum.

“Eh, nggak kok mbak… Hehe.” jawab Ana.

Telepon berakhir dan kami berjalan menuju perempatan lampu merah yang dekat dengan alun-alun kota. Beberapa waktu kemudian berhentilah sebuah mobil di depan kami. Dari dalam mobil itu keluar remaja-remaja berhijab yang siap membagikan takjil. Mereka bersikap ramah kepadaku dan kami saling berkenalan. Ada banyak kardus yang perlu diturunkan dan gelas-gelas plastik berisi takjil. Setelah semuanya siap, kami pun berpencar dan membagikan takjil kepada setiap orang yang berhenti di lampu merah. Kami menghampiri pengendara sepeda motor, bapak becak, dan sopir angkot.

Ada perasaan aneh di hatiku ketika aku bisa melawan rasa gugup yang semula menghantuiku. Aku berhasil meruntuhkan keraguanku lalu kemudian perasaan itu berubah menjadi sukacita yang tak terkatakan. Dari seberang jalan aku menatap Ana yang dibalut dengan busana Muslim, termasuk hijab. Kemudian aku melihat diriku sendiri yang mengenakan pakaian biasa bahkan tanpa mengenakan tanda salib sebagai aksesoris yang menunjukkan kekristenanku. Mungkin saja dia akan menyuruhku melepaskan kalung salib itu jika memakainya. Akan tampak aneh jika bakti sosial dari organisasi Muslim mengikutsertakan seseorang yang mengenakan kalung salib di lehernya, kan?

Ya, aku memang yang paling berbeda di antara mereka semua. Tapi bagiku itu tidak masalah. Karena cukup bagiku untuk taat pada apa yang Tuhan Yesus ingin aku lakukan, yaitu mengasihi. Kini aku belajar bahwa kekristenan bukanlah tentang atribut yang menempel di tubuhku, tapi lebih daripada itu… Kekristenan adalah bagaimana kita memiliki hidup yang menggambarkan Kristus.

Saat itu langit senja tampak jauh lebih indah dari biasanya. Aku tengah menikmati cilok hangat di depan teras masjid sambil menunggu Ana menyelesaikan salat magrib. Aku asik bercengkrama meski kini tanpa suara. Ditemani angin semilir dan suara burung yang kembali ke sangkarnya. Betapa Allah telah mengerjakan sesuatu yang indah, di dunia ini dan juga di hati anak-anak-Nya yang mau taat. Aku hanya bisa berbisik dan berkata, “Selanjutnya apa yang Kau ingin aku lakukan, Tuhan?”

* bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Tuhan Merombak Kriteria Pacar Idamanku

Tidak banyak hal menarik yang dimiliki oleh pria ini. Dia bukanlah seorang yang tinggi, dia tidak memperhatikan penampilannya, dan dia juga seperti tipe pria yang membosankan. Dia bukanlah tipe pria yang dikagumi banyak wanita.

Namun akhirnya, dia menjadi pacarku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2016: Mengalami Bahagia Memberi, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!