Rindu Pulang

Info

Selasa, 22 November 2016

Rindu Pulang

Baca: Ibrani 11:8-16

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. —Ibrani 11:16

Rindu Pulang

Istri saya memasuki kamar dan melihat saya sedang melongokkan kepala ke dalam lemari pada jam kuno berukuran besar yang ada di situ. Ia bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” “Bau jam ini seperti bau rumah orangtuaku,” jawab saya dengan malu-malu, sembari menutup pintu lemari pada jam itu. “Rasanya seperti pulang ke rumahku sendiri.”

Penciuman memang dapat membangkitkan kenangan-kenangan yang kuat. Kami telah memindahkan jam kuno tersebut dari rumah orangtua saya kira-kira dua puluh tahun yang lalu, tetapi aroma kayu di bagian dalam jam itu masih membuat saya terkenang kembali pada masa kecil saya.

Penulis kitab Ibrani menceritakan tentang orang-orang yang merindukan rumah mereka dengan cara yang berbeda. Alih-alih melihat ke belakang, mereka justru memandang ke depan dengan iman pada rumah mereka di surga. Walaupun apa yang mereka harapkan itu sepertinya masih jauh dari jangkauan, mereka percaya bahwa Allah setia dalam memenuhi janji-Nya untuk membawa mereka ke suatu tempat di mana mereka akan bersama-sama dengan Dia selamanya (Ibr. 11:13-16).

Filipi 3:20 mengingatkan bahwa “kewargaan kita adalah di dalam sorga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Dengan memandang ke depan untuk melihat Yesus dan menerima semua yang telah Allah janjikan kepada kita melalui Dia, kita dimampukan untuk tetap berfokus pada tujuan kita. Masa lalu atau masa kini tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan apa yang menanti di hadapan kita! —James Banks

Yesus, terima kasih karena Engkau setia menggenapi janji-janji-Mu. Tolonglah aku untuk selalu memandang ke depan dan berharap kepada-Mu.

Rumah yang terbaik dari semuanya adalah rumah kita di surga.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 18-19; Yakobus 4

Artikel Terkait:

Berlari Menuju Masa Depan

Bila masalah terus datang menerpa, mungkinkah kita bisa leluasa berlari menuju masa depan? Yonathan Syzao membagikan pengharapan yang ia miliki di tengah bayang-bayang kecemasan yang sempat membuatnya merasa tidak berdaya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!