Ketika Temanku Menjadi Tersangka Kasus Pembunuhan

Info

ketika-temanku-menjadi-tersangka-kasus-pembunuhan

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When A Friend is Suspected of Rape and Murder

6 Maret 2016

Aku baru akan pergi tidur; waktu menunjukkan hampir jam 11 malam. Seperti biasa, aku memeriksa ponselku untuk terakhir kalinya sebelum tidur. Teman baikku, Linda, baru saja mengirimiku serentetan pesan.

Apa yang akan kubaca adalah sesuatu yang mengerikan dan menghancurkan hati.

Pesan itu berbunyi: “Jo … sebuah kasus besar baru saja terjadi di Siem Reap dan foto laki-laki itu mirip Kosal … Kosal terlibat dalam sebuah kasus pemerkosaan…”

Kosal. Pemerkosaan. Kedua kata itu begitu tidak masuk akal ketika digabungkan. Aku pun membaca lagi pesan yang dikirimkan Linda tentang bagaimana dia melihat sebuah posting di Facebook yang dibagikan oleh beberapa pemuda Kambodia yang kami kenal ketika kami mengadakan perjalanan misi ke negara itu beberapa waktu lalu. Posting itu dilengkapi dengan sebuah foto seorang laki-laki berusia 25 tahun, seorang yang telah kami kenal selama 6 tahun.

Ketika Linda memasukkan tulisan dalam bahasa Khmer tersebut ke dalam Google Translate, terdapat beberapa kata yang muncul dari hasil terjemahannya: “pemerkosaan”, “pembunuhan”, “gadis berusia 11 tahun”, dan “Kosal”. Dia kemudian mengkonfirmasikan hal itu dengan seorang pemimpin gereja lokal, dan mendapati bahwa Kosal telah dituduh memerkosa dan membunuh seorang gadis berusia 11 tahun.

Itu bagaikan aku menerima kabar dukacita dari temanku. Atau bahkan lebih buruk. Perutku terasa sakit dan jantungku berdegup kencang ketika aku memikirkan apa yang baru saja kubaca. Kosal? Tidak mungkin. Wajahnya yang sedang tersenyum langsung melintas di pikiranku.

Kami baru bertemu Kosal dalam perjalanan misi terbaru kami ke Siem Reap, Kambodia. Itu adalah perjalananku yang kelima, dan perjalanan Linda yang ketujuh. Segalanya baik-baik saja saat itu. Hal apa yang membuat segalanya menjadi begitu buruk hanya dalam waktu empat bulan? Apa yang membuatnya melakukan tindakan yang mengerikan itu? Bagaimana keluarganya menanggapi berita ini? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku, namun tak ada jawaban yang kutemukan. Aku ingin menanyakan teman-temanku di Kambodia namun saat itu sudah terlalu malam. Aku merasa tidak berdaya dan tidak berguna.

Aku tidak dapat tidur nyenyak malam itu. Aku hanya tidak dapat percaya bagaimana seorang yang lemah lembut seperti Kosal dapat terlibat dalam kasus pembunuhan yang begitu keji.

Aku bertemu Kosal enam tahun lalu—ketika aku pertama kali pergi ke Kambodia—dalam sebuah sesi Pendalaman Alkitab yang diadakan oleh tim perjalanan misi gerejaku di Singapura untuk para pemuda di desa Pouk di Siem Reap. Pemalu, sopan, dan sederhana, Kosal diperkenalkan kepada kami sebagai seorang kerabat dari seorang pemimpin gereja lokal dalam komunitas tersebut.

Kosal yang saat itu berusia 18 tahun adalah salah satu dari beberapa orang non-Kristen yang hadir dalam sesi malam itu. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian ketika salah satu rekanku membagikan Injil kepadanya melalui seorang penerjemah. Malam itu, dia menanyakan banyak pertanyaan yang dijawab dengan sabar oleh temanku. Beberapa bulan kemudian, kami mendapat kabar bahwa Kosal menerima Tuhan dan mengikuti kelas bahasa Inggris secara rutin.

Berikutnya, kami bertemu Kosal setiap kali kami melakukan kunjungan balik dan mengadakan program-program untuk para pemuda dan anak-anak. Dia telah menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di desanya dan melayani secara aktif dan rutin di gereja. Karena dia kini semakin mengerti bahasa Inggris, kami dapat berkomunikasi lebih banyak dengannya. Dia masih pemalu, namun dia kini sudah bisa bercanda dan mengolok kami ketika kami mencoba berbicara dalam bahasa Khmer.

Bertemu dia kembali dalam perjalanan misi kami yang terakhir adalah bagikan bertemu seorang teman lama. Pertemuan itu menghangatkan hati kami. Kami begitu senang melihat pertumbuhannya. Dia telah menjadi salah satu pemimpin kunci dari para pemuda di desa Pouk dan sangat terkenal dan dipandang baik oleh komunitas di sana. Selama dia mengajar, murid-muridnya akan berpartisipasi secara aktif. Setelah kelas selesai, mereka akan berkumpul mengitarinya untuk bermain. Itu adalah bukti bagaimana dia begitu peduli dengan mereka dan bagaimana mereka menikmati kehadiran Kosal.

Itulah yang membuat berita ini menjadi begitu mengagetkan. Mengapa Kosal melakukan pemerkosaan dan pembunuhan—apalagi korbannya adalah muridnya sendiri, seperti yang kemudian kami ketahui? Kosal berulang kali menyatakan bahwa dia tidak bersalah, namun para pemimpin gereja lokal, yang mengabari kami secara rutin, memberitahu kami bahwa polisi mempunyai bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah pelakunya.

Beberapa hari berikutnya, kami mengetahui bahwa Kosal, yang merupakan tetangga gadis tersebut, menjadi seorang tersangka karena dia berada di tempat kejadian perkara saat itu. Hari itu, bibi gadis itu baru saja kembali dari pasar dan menemukan diri gadis itu tergantung di jendela dengan kabel televisi, terlihat seperti sebuah bunuh diri. Kosal, yang mendengar teriakan minta tolong sang bibi, berlari untuk membantu memotong kabel tersebut. Polisi tiba di TKP tak lama kemudian. Setelah memeriksa tubuh gadis itu, mereka menyimpulkan bahwa korban telah diperkosa dan kemudian dibunuh. Tidak ada hal detail yang dibagikan pada saat tersebut. Tidak dijelaskan juga bagaimana polisi menentukan Kosal sebagai pelaku perbuatan tersebut.

Yang kami tahu hanyalah dia ditangkap di tempat dan tes DNA kemudian dilakukan untuk menentukan apakah dia bersalah atau tidak. Kami diberitahu bahwa hasilnya akan keluar dalam waktu 10 hari. Jika dia terbukti bersalah, kemungkinan besar dia akan dipenjara seumur hidup.

Kami pun menunggu. Tapi bukan 10 hari. Kami harus menunggu sekitar 10 minggu sampai akhirnya kami mengetahui kebenaran di balik kasus ini.

Selama waktu tersebut, Kosal ditahan di penjara dan kami tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa dan meminta kabar terbaru dari para pemimpin. Aku memikirkan betapa Kosal mungkin merasa kesepian dan ketakutan, dan para pemimpin juga merasa kecewa karena harus menghadapi fakta bahwa salah satu anggota mereka menjadi tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Begitu menyakitkan bagi kami mengetahui bahwa kami tidak dapat menawarkan bantuan apa-apa selain kata-kata penguatan dan berjanji kepada mereka bahwa kami juga turut mendoakan Kosal.

21 April 2016

Ketika segala hal terlihat begitu gelap, secercah harapan muncul. Hasil tes DNA akhirnya keluar dan hasilnya negatif! Kosal tidak bersalah. Dia terlibat dalam kasus ini hanya karena dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Rasa sukacita dan lega memenuhi hatiku ketika salah seorang pemimpin gereja lokal memberitahu kami tentang hasil tes tersebut. Pada saat yang sama, aku merasa kesal—karena Kosal telah diperlakukan dengan tidak adil—dan simpati yang dalam terhadapnya ketika aku memikirkan tentang penderitaan emosi dan psikologis yang dihadapinya dalam beberapa bulan terakhir. Namun, aku juga bersemangat karena mengetahui bahwa penderitaan Kosal akan segera berakhir.

Sayangnya, sukacita kami tidak bertahan lama.

Kami diberitahu bahwa masalahnya tidak sesederhana itu. Kosal tidak akan dilepaskan dari penjara karena hakim menolak permintaan ditutupnya kasus itu. Kecuali para pemimpin gereja lokal bersedia membayar suap, Kosal akan tetap ditahan di penjara setidaknya untuk setahun ke depan untuk kejahatan yang tidak dia lakukan.

Itu menjadi sebuah pukulan bagi para pemimpin gereja lokal, yang telah bekerja tanpa mengenal lelah untuk membuktikan bahwa Kosal tidak bersalah. Mereka menjadi sangat marah dan tidak terima. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa itu sama saja dengan “menculik secara legal dan meminta tebusan”. Namun di tengah situasi yang sepertinya mustahil, mereka menolak untuk menggunakan cara yang tidak benar. Mereka memutuskan untuk berjuang untuk melepaskan Kosal dengan cara-cara yang benar.

Selama beberapa bulan berikutnya, para pemimpin itu berusaha keras untuk mengajukan banding kepada pengadilan yang lebih tinggi, meskipun mereka telah diberitahu bahwa hal itu sia-sia saja. Gereja lokal juga bersatu dalam solidaritas untuk berdoa bagi Kosal dan keluarganya. Dan Tuhan menjawab doa mereka dengan cara yang tidak terbayangkan: Di tengah tragedi yang tidak masuk akal ini, kedua orang tua Kosal dan dua adik perempuannya mulai pergi ke gereja.

Jelas sekali bahwa Tuhan tidak melupakan Kosal dan keluarganya. Dan itu baru awalnya saja.

2 September 2016

4 bulan kemudian, kami mendengar kabar yang telah lama kami nanti-nantikan. Pada tanggal 2 September, Kosal akhirnya dibebaskan dari penjara. Setelah melalui 6 bulan penderitaan di dalam penjara untuk kejahatan yang tidak dilakukannya, dia akhirnya bebas.

Sore itu juga ketika Kosal dibebaskan, aku melihat sebuah foto di Facebook yang menunjukkan Kosal yang sedang makan malam bersama dengan beberapa pemimpin gereja lokal. Dia tersenyum dan keadaannya terlihat baik. Itu adalah sebuah foto yang indah yang menunjukkan kesetiaan, pemulihan, dan kasih Tuhan.

* * *

Sudah hampir dua bulan sejak Kosal dibebaskan dari penjara. Dia masih belum pulih sepenuhnya dari penderitaannya selama di penjara: dia masih mengalami mimpi buruk, dan seringkali tidak dapat tidur. Tapi ada satu hal baik yang terlihat. Seluruh keluarga Kosal kini menerima Yesus dalam hidup mereka. Beberapa minggu yang lalu, seluruh keluarga Kosal memberikan kesaksian di gereja tentang anugerah dan kebaikan Tuhan.

Ketika aku melihat kembali keseluruhan kisah ini, hatiku dipenuhi oleh sukacita dan rasa syukur karena aku melihat bagaimana Tuhan menjawab doa anak-anak-Nya. Dia tidak hanya menyelamatkan Kosal, keluarganya, dan komunitasnya dari masa-masa yang sulit ini, tapi juga Dia melakukan sebuah pekerjaan yang indah dengan membawa seluruh keluarganya kepada Kristus. Kisah Kosal adalah sebuah kesaksian tentang kesetiaan Tuhan kepada anak-anak-Nya (Roma 8:28), dan kisah inilah yang akan aku ingat ketika aku menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupanku.

Aku berdoa agar Kosal terus bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Bagi Tuhanlah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Baca Juga:

Aku Tidak Memilih untuk Menjadi Gay

Aku pertama kali menyadari bahwa aku mempunyai perasaan-perasaan ini ketika aku mulai memasuki masa puber ketika aku SMP. Aku merasa tertarik dengan seorang laki-laki di kelasku. Saat mulai kuliah, aku juga terkagum-kagum dengan seorang teman laki-laki di kampusku. Itulah saat di mana aku mengindentifikasikan diriku sebagai seorang “gay”.

Baca kesaksian Raphael selengkapnya dalam artikel ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 11 - November 2016: Menghadapi Kenyataan Hidup, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!