Ketika Aku Bertengkar dengan Pacarku

Info

ketika-aku-bertengkar-dengan-pacarku

Oleh Edna Ho, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Day My Boyfriend And I Fought

Aku sangat kesal dengan pacarku―sebutlah dia “T”.

Ceritanya diawali ketika orangtuaku mengunjungiku di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk menghadiri wisudaku. Saat itu akhir pekan dan aku begitu bersemangat. T tidak pernah bertemu dengan orangtuaku sebelumnya, jadi aku pikir ini adalah kesempatan yang baik baginya untuk bertemu dengan mereka.

Di saat yang sama, T juga harus mempersiapkan pernikahan teman baiknya. Ini adalah temannya yang dia kenal ketika dia menempuh studi di Australia, yang berarti banyak teman-temannya yang sudah lama tak dia jumpai akan datang juga ke Malaysia untuk menghadiri pernikahan teman mereka tersebut. T menjadi sangat bersemangat untuk bertemu mereka.

Orangtuaku ada di Kuala Lumpur selama dua malam. Di malam yang pertama, T memberitahuku bahwa dia ingin pergi bersama teman-temannya dari Australia. Aku dengan senang menyetujuinya karena aku pikir masih ada satu malam lagi bagi kita untuk pergi menemui orangtuaku.

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Setelah kebaktian, aku ada sebuah latihan untuk memimpin pujian. Ketika latihan itu selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku menerima sebuah pesan dari orangtuaku yang menanyakan apakah kita akan makan malam bersama. Aku bertanya pada T, dan tak kusangka, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak enak badan. Aku rasa aku tidak bisa makan malam dengan orangtuamu.”

Aku sangat kecewa, tapi aku berusaha menyembunyikannya. Aku segera membalas pesan ibuku dan berkata bahwa kami tidak akan makan malam bersama mereka. Ibuku membalas, “Mama sangat kecewa.”

T kemudian mengantarkanku dan beberapa rekan yang lain pulang. Di sebuah perempatan lampu merah, dia menengok ke arahku dan bertanya, “Apakah kamu masih akan makan malam dengan orangtuamu?” Aku menggelengkan kepala, karena orangtuaku tinggal di sebuah hotel yang cukup jauh, dan aku tidak punya mobil. T lalu bertanya lagi, “Lalu apakah kamu mau ikut aku makan malam dengan teman-temanku dari Australia?”

Mataku langsung terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Dia bisa menolak ajakan makan malam dengan orangtuaku (yang kemungkinan akan jadi mertuanya), mengatakan bahwa dia sedang kurang enak badan, lalu sekarang akan pergi makan malam dengan teman-temannya dari Australia?

Kami bertengkar di dalam mobil, dan T menjadi frustrasi dan marah. Aku lalu mengatakan bahwa ibuku menjadi sangat kecewa. Berusaha untuk memperbaiki keadaan, dia berkata, “Oke, ayo kita temui orangtuamu sekarang.”

“Tapi tadi kamu bilang kamu kurang enak badan?”

“Iya, tapi aku tidak ingin mengecewakan mereka.”

“Sekarang sudah terlambat.”

Aku begitu marah dengannya sampai-sampai aku tidak dapat berkata apa-apa lagi dan langsung keluar dari mobil. Berbagai pikiran melayang di dalam kepalaku. Aku bertanya pada diriku sendiri, Ke mana semua keromantisan, kehangatan, dan perasaan itu pergi? Apakah aku telah salah mengambil keputusan dengan menjadikan dia pacarku? Mengapa dia berlaku seperti ini? Aku pikir dia seharusnya bisa menjadi lebih baik!

Keesokan harinya, kami saling mengirimkan pesan melalui ponsel. Setelah melihat keseluruhan keadaan, aku sadar bahwa aku telah terlalu cepat menghakimi T. Dia tidak berani bertemu orangtuaku karena dia merasa tidak dalam kondisi yang prima dan karena itu dia merasa tidak dapat “mengesankan” mereka. Dia lebih memilih untuk bertemu dengan teman-temannya dari Australia karena dia nyaman dengan mereka dan tidak merasa ada tekanan untuk “mempertunjukkan” dirinya. Selain itu, kami juga sudah memesan tiket untuk mengunjungi kampung halamanku di lain waktu.

Hari berikutnya, T datang ke rumahku dan kami pun baikan. Tuhan kemudian membuatku terkesan melalui ayat-ayat dalam 1 Korintus 13:4-8. Perikop ini tidak asing bagiku, tapi malam itu kata-kata itu terasa begitu menyentuh bagiku pribadi.

Jika T membaca artikel ini, inilah yang aku ingin katakan kepadanya:

Kasih itu sabar – Aku telah belajar untuk menjadi sabar ketika kamu belum menjadi seorang laki-laki yang aku harapkan, namun dalam waktu-Nya Tuhan, kamu terus diubahkan dalam kemuliaan yang semakin besar, dari hari ke hari (2 Korintus 3:18).

Kasih itu murah hati – Kiranya aku dapat menjadi murah hati kepadamu dalam kata-kata dan tindakanku.

Ia tidak cemburu – Aku takkan cemburu ketika aku melihatmu bersama dengan teman-temanmu.

Ia tidak memegahkan diri – Aku takkan membanding-bandingkan siapa yang lebih kuat atau siapa yang lebih lemah di antara kita.

Ia tidak sombong – Aku takkan membanding-bandingkan siapa yang lebih baik di antara kita.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan – Ampuni aku jika kata-kataku begitu menyakitkan.

Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri – Kiranya aku tidak menjadi seorang yang selalu menuntut.

Ia tidak pemarah – Kiranya aku tidak mudah tersinggung atau sensitif.

Ia tidak menyimpan kesalahan orang lain – Kiranya aku tidak mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Ia menutupi segala sesuatu – Aku ingin melindungimu: martabatmu, hatimu, pikiranmu, dan jiwamu.

Ia percaya segala sesuatu – Aku percaya pada apa yang kamu katakan.

Ia mengharapkan segala sesuatu – Kiranya kita senantiasa bersama-sama mengharapkan yang terbaik.

Ia sabar menanggung segala sesuatu – Kiranya kita tidak menyerah ketika masalah datang.

Kasih tidak berkesudahan – TUHAN tidak pernah gagal. Ketika kita lemah, Dia kuat dan mampu menjaga kita dengan kasih-Nya (2 Korintus 12:9-10).

Romantisme yang kita lihat di drama televisi dan film-film bukanlah kasih yang sejati. Kasih yang sejati adalah mengorbankan dirimu―waktumu, kesukaanmu, dan tenagamu―untuk orang yang kamu kasihi. Kasih yang sejati adalah memilih untuk senantiasa bersama orang yang telah kamu pilih untuk mengambil komitmen bersamanya.

Kiranya aku dapat mengasihi T seperti Yesus mengasihiku dan mengasihinya.

Baca Juga:

5 Tips Mengatasi Rasa Malas Beribadah

Apakah kamu pernah merasa malas beribadah? Aku pernah mengalaminya, dan aku ingin menceritakan pengalamanku tentang apa yang membuatku malas beribadah, dan beberapa tips yang aku rasakan efektif untuk mengusir rasa malasku tersebut.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 11 - November 2016: Menghadapi Kenyataan Hidup, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

14 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!