Desert Solitaire

Info

Rabu, 19 Oktober 2016

<em>Desert Solitaire</em>

Baca: Mazmur 136:1-9

136:1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:5 Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:6 Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:7 Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:8 Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

136:9 Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

 

Allah melihat bahwa semuanya itu baik. —Kejadian 1:12

<em>Desert Solitaire</em>

Desert Solitaire (Gurun Sunyi) adalah buku karya Edward Abbey yang menceritakan pengalamannya selama bertugas sebagai polisi taman yang menjaga Taman Nasional Arches di Utah. Buku tersebut layak dibaca karena gaya cerita Abbey yang cerdas dan penggambarannya yang hidup tentang wilayah Barat Daya Amerika. Namun Abbey adalah seorang ateis yang tidak bisa melihat lebih jauh daripada keindahan yang dikaguminya di permukaan. Sungguh menyedihkan! Ia menjalani seluruh hidupnya dengan mengagumi keindahan karya ciptaan yang dilihatnya, tetapi kehilangan makna sejati dari itu semua.

Kebanyakan bangsa kuno memiliki teori asal-usul yang dikemas dalam legenda, mitos, atau lagu. Namun kisah penciptaan yang dimiliki Israel sungguh unik: Kisah itu bercerita tentang Allah yang menciptakan keindahan untuk dinikmati dan disukai manusia. Allah merancang alam semesta, lalu menciptakannya dengan firman-Nya, dan menyebut hasil ciptaan-Nya itu “indah”. (Bahasa Ibrani untuk kata baik juga berarti indah). Kemudian, setelah menciptakan alam yang indah itu, di dalam kasih-Nya, Allah berfirman menciptakan manusia, menempatkannya di Taman Eden, dan berkata kepada mereka, “Nikmatilah!”

Sejumlah orang melihat dan menikmati keindahan dari segala karya Sang Pencipta yang baik di sekitar mereka, tetapi mereka “tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Rm. 1:21).

Sementara yang lain melihat keindahan karya ciptaan Allah, lalu berkata “Terima kasih, Tuhan,” dan hati mereka pun diterangi untuk semakin mengenal-Nya. —David Roper

Bapa yang penuh kasih, kami memuji-Mu sebab Engkau baik. Terima kasih karena ciptaan-Mu begitu indah dan bermanfaat, dan karena Engkau menempatkan kami di bumi ini agar kami menikmatinya dengan mengenal-Mu. Kasih setia-Mu kekal selama-lamanya!

Seluruh karya ciptaan mencerminkan keindahan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56-58; 2 Tesalonika 2

Artikel Terkait:

Bukan di Mulut Saja

Berbicara tentang peduli lingkungan jauh lebih mudah daripada melakukannya. Semua orang tentu menginginkan lingkungan yang bersih dan sehat, tapi tak banyak yang sungguh-sungguh mengusahakannya terwujud. Sebagai anak muda Kristen, inisiatif apa yang bisa kita ambil di tengah komunitas kita?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

24 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!