Siapa yang Kamu Bela?

Minggu, 7 Agustus 2016

Siapa yang Kamu Bela?

Baca: Markus 10:13-16

10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”

10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. —Roma 5:6

Siapa yang Kamu Bela?

Ketika Kathleen dipanggil maju oleh guru bahasanya untuk menguraikan sebuah kalimat, ia menjadi panik. Sebagai murid pindahan baru, Kathleen belum mempelajari tata bahasa sampai sejauh itu. Seisi kelas pun menertawainya.

Seketika itu juga sang guru berbicara dan membela Kathleen. “Suatu hari nanti, ia akan menulis lebih baik daripada kalian semua!” tegasnya. Bertahun-tahun kemudian, Kathleen mengingat momen tersebut dengan penuh syukur: “Sejak hari itu, aku berusaha menulis sebaik mungkin, seperti yang beliau harapkan.” Akhirnya, pada tahun 2010, Kathleen Parker menerima anugerah Hadiah Pulitzer untuk tulisannya.

Seperti halnya guru Kathleen, Yesus membela kaum yang lemah dan tidak berdaya. Ketika murid-murid-Nya mencegah anak-anak mendekati diri-Nya, Yesus pun marah. “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku,” kata-Nya, “jangan menghalang-halangi mereka” (Mrk. 10:14). Dia menjangkau kelompok etnis yang dibenci, saat menjadikan orang Samaria yang baik hati sebagai pahlawan dari perumpamaan-Nya (Luk. 10:25-37) dan menawarkan harapan yang sejati kepada wanita Samaria yang sedang gundah di sumur Yakub (Yoh 4:1-26). Ia melindungi dan mengampuni seorang wanita yang terjerat dalam perzinahan (Yoh 8:1-11). Dan walaupun kita sama sekali tidak berdaya, Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua (Rm. 5:6).

Dengan membela kaum yang lemah dan terpinggirkan, kita memberi kesempatan bagi mereka untuk menyadari potensi mereka. Kita menunjukkan kepada mereka kasih yang sejati, dan dengan cara yang sederhana tetapi berarti, kita mencerminkan isi hati Yesus yang terdalam. —Tim Gustafson

Bapa, tolong aku mengenali siapa saja yang butuh pembelaanku. Ampunilah aku karena sering berpikir bahwa masalah mereka bukanlah urusanku. Tolonglah aku untuk mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi mereka.

Mustahil mengasihi Kristus tanpa mengasihi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72-73; Roma 9:1-15

Artikel Terkait:

Bagaimana Aku Akhirnya Memahami Orangtuaku

Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, tetapi sebenarnya aku sendiri suka membanding-bandingkan diriku dengan orang lain, membanding-bandingkan orangtuaku dengan orangtua teman-temanku—inilah salah satu hal yang disadari Chien Chong ketika melihat kembali kehidupannya di dalam keluarga.
Yuk baca kesaksiannya di dalam artikel ini.

Bagikan Konten Ini
14 replies
  1. Carles Frengki Nainggolan
    Carles Frengki Nainggolan says:

    kelemahan sekalipun dapat diubahkannya menjadi kekuatan yg mampu menaklukkan dunia. amin.

  2. rosmida
    rosmida says:

    Kalau kita selalu mengandalkan yesus kelemahan bisa menjadikan kekuatan percayalah kpd yeses jadikan Dia segalanya Amin

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *